Ancaman Agresi Militer Turki di Irak
-
Pasukan Turki
Pemerintah Turki kembali mengancam Irak akan melancarkan agresi militer ke negara tetangganya itu.
Dewan Keamanan Nasional Turki dalam statemen terbarunya mengancam akan mengirimkan pasukan memasuki wilayah utara Irak jika Baghdad tidak mengambil tindakan tegas untuk menghentikan aktivitas Partai Buruh Kurdi (PKK) di daerah otonomi Kurdistan.
Pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Turki juga menyerukan supaya pemerintah Irak mengakhiri aksi PKK di wilayah utara negara ini, terutama di Sinjar dan Qandil.
Ancaman Turki terhadap Irak bukan kali ini saja dilakukan, tapi sudah sering dilancarkan terhadap Baghdad. Padahal, sebagai negara bertetangga, pola pendekatan konfrontatif tersebut tidak mendukung upaya perdamaian regional. Pemerintah Ankara melancarkan agresi militer terhadap Suriah, dan mengancam negara lain yang sedang dalam kondisi tidak stabil dengan alasan menumpas kelompok militan Kurdi.
Pada 20 Januari 2018, pasukan Turki memasuki kota Afrin di wilayah utara Suriah dan menduduki wilayah tersebut. Tidak hanya itu, militer Turki juga menduduki kota Tel Rifaat di sekitar kota Afrin, al-Bab dan Aleppo. Sebelumnya, pasukan Turki yang didukung milisi afiliasinya, Pasukan Pembebasan Suriah, FSA melancarkan agresi militer di wilayah Suriah pada 24 Agustus 2016.
Rangkaian agresi militer Turki di wilayah Suriah memicu penentangan dari pemerintah Damaskus serta menyulut reaksi dari negara-negara regional dan internasional. Pemerintah Damaskus berulangkali mengecam aksi militer Turki tersebut, dan menilainya sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan teritorial Suriah.
Reaksi penentangan terhadap agresi militer Turki di Suriah memicu protes keras dari dalam negeri Turki sendiri, termasuk dari partai politik, baik kubu pendukung maupun penentang petahana, juga rakyat negara ini. Meskipun demikian, pemerintah Erdogan tetap melanjutkan operasi militernya di Suriah.
Ketua partai Islam Saadat Turki, Temel Karamollaoglu mengecam intervensi militer pemerintah Ankara terhadap urusan internal Irak dan Suriah serta dukungan negaranya terhadap sebagian kelompok teroris. Karamollaoglu mengatakan, pemerintah Ankara harus membayar mahal agresinya di Suriah dan Irak.
Ketua Partai Rakyat Republik (CHP), Kemal Kılıçdaroğlu mengungkapkan bahwa Turki menghendaki pemerintahan Bashar Assad tumbang, tapi tidak terjadi, dan Erdogan dengan janjinya itu hanya merusak posisi dan kedudukan negaranya sendiri di kancah regional dan internasional.
Terlepas dari kerugian besar, terutama korban jiwa, dari pihak Suriah dan Irak akibat agresi militer Turki, kelompok ekstrem di kedua negara ini memanfaatkan situasi untuk kepentingannya yang akan memperkeruh situasi. (PH)