Jurus Inggris Kuasai Teluk Persia, Pecah Belah dan Kuasai
-
Pasukan Inggris
Kementerian pertahanan Qatar menyatakan bahwa latihan perang gabungan yang digelar negaranya bersama Inggris berlangsung hari Kamis (19/4) di laut Teluk Persia.
Inggris selama ini menjadi pemain asing paling lama bercokol di kawasan Teluk Persia. Kebanyakan masalah yang terjadi di kawasan ini dan Timur Tengah, termasuk berdirinya rezim agresor Zionis, dan friksi antarnegara Arab tidak bisa dilepaskan dari peran London di dalamnya.
Sejak dekade 1970, Inggris mengumumkan keluar dari Teluk Persia, tapi faktanya London hingga kini tetap memainkan peran penting di kawasan strategis tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, Inggris mengumumkan kembali ke Teluk Persia dan membangun pangkalan militernya di Bahrain, serta berulangkali menggelar latihan perang dengan negara-negara Arab di kaawasan ini.
Proses kembalinya Inggris ke Teluk Persia dilakukan dalam bentuk latihan perang gabungan, intervensi politik dalam masalah domestik negara kawasan, dengan jurus lamanya, "Pecah Belah dan Kuasai".
Qatar dan Inggris telah menggelar empat kali manuver militer gabungan di tahun 2017 dengan melibatkan seluruh angkatan, dari udara, laut hingga darat. Latihan perang gabungan kedua negara yang berlangsung kemarin menjadi manuver militer pertama di tahun 2018.
Jurus klasik yang kembali dimainkan Inggris di Teluk Persia dengan merangkul Qatar, tapi juga memeluk Arab Saudi yang bersengketa dengan Doha. Meskipun London memiliki pengaruh besar terhadap raja-raja Arab di Teluk Persia yang sebagiannya saat ini berselisih, tapi Inggris tampak tidak berupaya meredam konflik tersebut. Sebaliknya justru terus mengobarkan api persengketaan di kawasan.
Mantan Duta Besar Iran di Oman, Ali Akbar Sibeveih mengatakan, "London mengejar tujuannya, baik di bidang ekonomi maupun penjualan senjata dan penyebaran pengaruh, di tengah instabilitas yang terjadi di kawasan. Bahkan, transformasi regional, termasuk perubahan sikap Riyadh tidak lepas dari skenario Inggris. Oleh karena itu, Inggrislah perancang utama konflik di kawasan,".
Masalah lain yang bisa dicermati dari latihan perang gabungan ini mengenai ketergantungan negara-negara Arab terhadap Barat tidak mendukung terwujudnya perdamaian dan keamanan regional. Tapi sebaliknya justru menciptakan instabilitas yang terus berkobar hingga kini.
Meskipun pihak Qatar dan Inggris mengumumkan tujuan latihan perang bersama ini untuk menghadapi terorisme, penyelundupan dan menjaga keamanan kawasan. Tapi faktanya jauh panggang dari api. Manuver militer ini justru akan memprovokasi pemain lain seperti Arab Saudi yang berseteru dengan Doha.
Pada saat yang sama, klaim London mengenai misi perdamaian yang diusung sebagai tujuan latihan perang tersebut hanyalah sekedar alasan untuk menutupi ambisi Inggris mempertahankan dominasinya di Teluk Persia. Sebab yang dipikirkan London hanya kepentingannya sendiri, terutama motif ekonomi politiknya di kawasan strategis itu.(PH)