Pertemuan Pemimpin Dua Korea, Awal Penyelesaian Konflik 70 Tahun?
https://parstoday.ir/id/news/world-i55790-pertemuan_pemimpin_dua_korea_awal_penyelesaian_konflik_70_tahun
Pertemuan bersejarah dua pemimpin dua Korea setelah dinantikan beberapa waktu akhirnya terjadi pada Jumat pagi (27/4) waktu setempat setelah Kim Jong-un memasuki garis demarkasi desa Panmunjom yang dikenal dengan "Rumah Perdamaian".
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 27, 2018 14:01 Asia/Jakarta
  • Kim Jong-un dan Moon Jae-in
    Kim Jong-un dan Moon Jae-in

Pertemuan bersejarah dua pemimpin dua Korea setelah dinantikan beberapa waktu akhirnya terjadi pada Jumat pagi (27/4) waktu setempat setelah Kim Jong-un memasuki garis demarkasi desa Panmunjom yang dikenal dengan "Rumah Perdamaian".

Kim Jong-un dalam lawatannya ini diiringi delegasi berjumlah 9 orang dari pejabat Korea Utara, termasuk Kim Yoo-jung, adik pemimpin Korut dan Kim Yong-nam, orang nomor dua di negara ini. Pemimpin Korut di awal ketibaannya di Korea Selatan mendapat sambutan hangat, Moon Jae-in. Presiden Korea Selatan. Kehangatan tampak jelas pada wajah kedua pemimpin Korea itu, menjadikan momen yang sangat kontras dengan ketegangan antara kedua negara tahun lalu di tengah uji coba senjata Korea Utara.

Sesuai dengan pernyataan penanggung jawab kantor kepresidenan Korea Selatan, dialog kedua pihak berporos pada penyelesaian krisis Semenanjung Korea dan jaminan perdamaian berkelanjutan di kawasan.

Kim Jong-un dan Moon Jae-in

Di awal-awal pertemuan ini, Pemimpin Korea Utara menyampaikan harapannya bahwa perundingan pemimpin dua Korea dapat menghasilkan keputusan konstruktif dan bermanfaat.

Pertemuan para pemimpin dua Korea ini dilakukan pasca satu periode hampir 70 tahun konflik dan Semenanjung Korea dalam setahun terakhir menyaksikan kondisi penuh ketegangan.

Di satu sisi, ancaman Donald Trump, Presiden Amerika yang susul menyusul dan sejumlah manuver militer bersama antara Amerika dan sekutu regionalnya dan di sisi lain, uji coba nuklir dan rudal Korea Utara di daerah dekat sekutu Amerika seperti Jepang telah memunculkan kekhawatiran perang besar, tapi kini semua itu tampaknya telah berakhir dan pandangan ke Semenanjung Korea mulai menunjukkan tanda-tanda optimis.

Harapan yang disampaikan kedua pemimpin Korea itu dalam pernyataan pertama dari pertemuan bersejarah ini menunjukkan tekad serius kedua negara untuk menyelesaikan krisis panjang, bahkan sekalipun keinginan ini tidak disukai oleh negara-negara seperti Amerika. Karena AS menilai krisis di Semenanjung Korea alat untuk menjustifikasi kehadiran militernya di kawasan.

Pernyataan resmi negara-negara di kawasan terkait pertemuan ini juga menunjukkan keseriusan harapan, seperti yang disampaikan Yoshihide Suga, Sekretaris Kabinet Jepang yang sebelumnya menggariskan ketidakpercayaan pemerintah Jepang kepada Pyongyang dan kini menyampaikan harapan bagi penyelesaian krisis Semenanjung Korea dan perselisihan antara Tokyo dan Pyongyang.

Di antara harapan untuk menyelesaikan krisis di Semenanjung Korea, tidak boleh dilupakan peran penting pemimpin Korea Utara yang menginisiasi proses transformasi Semenanjung Korea.

Perundingan dua pemimpin  Korea

Sambutan pemimpin Korea Utara atas perundingan pasca satu periode persiapan pertahanan dengan memanfaatkan kekuatan nuklir negara ini menjadi bukti pernyataan para pejabat Pyongyang bahwa uji coba nuklir dan rudal selama setahun lalu hanya bersifat pertahanan.

Lebih penting dari semua itu adalah keberlanjutan Korea Utara pasca satu periode ancaman dan sanksi intensif yang diterapkan Amerika dan terkadang dilakukan oleh sekutunya seperti Cina dan penangguhan aktivitas nuklir setelah mencapai hasil yang diinginkan merupakan jawaban telak bagi Amerika dan sekutunya bahwa eskalasi ancaman militer dan diplomatik tidak dapat menginjak hak satu negara untuk memasok alat-alat pertahanan dan keamanan. Di sini, langkah Pyongyang dari keberlanjutan militer hingga menyambut perundingan merupakan contoh jelas dari masalah ini.