Erdogan: AS Keluar dari JCPOA Memicu Eskalasi Krisis di Kawasan
https://parstoday.ir/id/news/world-i57266-erdogan_as_keluar_dari_jcpoa_memicu_eskalasi_krisis_di_kawasan
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyebut keluarnya Amerika dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) tidak dapat diterima seraya mengatakan, langkah Amerika ini menjadi faktor pemicu meningkatnya krisis di Timur Tengah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 22, 2018 06:50 Asia/Jakarta
  • Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki
    Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyebut keluarnya Amerika dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) tidak dapat diterima seraya mengatakan, langkah Amerika ini menjadi faktor pemicu meningkatnya krisis di Timur Tengah.

Menurut laporan IRNA, Erdogan Senin malam (21/5) di acara buka puasa bersama para duta besar negara-negara asing di Ankara menambahkan, salah satu contoh terbaru dari kebijakan luar negeri yang telah merusak perdamaian dunia adalah penarikan diri Amerika dari kesepakatan nuklir dengan Iran dan langkah-langkah yang diambil terkait Quds.

Presiden Turki tanpa menyebut nama negara tapi secara implisit ditujukan kepada Amerika Serikat menjelaskan, baru-baru ini kami menyaksikan jalur diplomasi telah didiskreditkan oleh sebagiannegara, padahal ia menjadi alat untuk menyelesaikan krisis.

Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki

Erdogan menyebut para pemilik lebih dari 15.000 senjata nuklir yang lebih mengancam dunia seraya mengatakan, dalam kondisi yang demikian, mengapa negara-negara yang memiliki pembangkit listrik bertenaga nuklir menjadi ancaman bagi mereka?

Preisden Turki menegaskan dukungan Turki terhadap negara-negara yang menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai dan mengatakan, menurut kami, setiap negara berhak menggunakan energi nuklir dan semua negara harus menghormati negara-negara yang ingin memenuhi kebutuhan energinya lewat energi nuklir.

Erdogan menyinggung bagaimana masalah perang di Suriah belum terselesaikan, begitu juga di Yaman dan Libya serta berlanjutnya aksi kekerasan di Palestina pendudukan lalu menambahkan, perlahan-lahan masalah Palestina menjadi bencana yang merenggut nyawa banyak warga tidak berdosa.

Erdogan menekankan bahwa kami tidak akan mundur dari hak kami soal Quds seraya mengatakan, kami tidak akan membiarkan kiblat pertama umat Islam di hadapan rezim yang puluhan tahun hidup dari darah, air mata dan penjajahan.