Dakwaan Palsu Pompeo terhadap Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i60646-dakwaan_palsu_pompeo_terhadap_iran
Amerika Serikat setelah menarik diri dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) pada 8 Mei 2018 cenderung meningkatkan represi terhadap Tehran di berbagai sektor.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Aug 06, 2018 19:10 Asia/Jakarta
  • Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo
    Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo

Amerika Serikat setelah menarik diri dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) pada 8 Mei 2018 cenderung meningkatkan represi terhadap Tehran di berbagai sektor.

Tak puas hanya menerapkan kembali sanksi nuklir yang akan dimulai bulan Agustus dan November 2018, petinggi Amerika juga mengobarkan perang syaraf anti Iran secara besar-besaran. Tujuannya adalah menyebarkan Iranphobia dan mengucilkan Tehran di tingkat regional dan internasional sehingga Tehran bersedia mengubah perilakunya dan pada akhirnya pemerintahan Republik Islam Iran tumbang.

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo Ahad (5/8) kembali mengulang dakwaan dan klaim palsunya anti Iran. Pompeo mengatakan, "Sanksi masih akan tetap diberlakukan selama Iran tidak mengubah kebijakannya. Dan tujuan sanksi adalah melawan perilaku merusak Iran."

 

Pompeo mengklaim Iran pendukung terbesar terorisme dan Washington ingin menghentikan tindakan Iran tersebut. Sebelumnya Pompeo dalam sikapnya yang selaras dengan Presiden Donald Trump, menuding Tehran mendukung terorisme dan melakukan aksi-aksi merusak di Timur Tengah.

 

Sejak berkuasa, Trump menuding Republik Islam Iran melanggar JCPOA melalui program rudal, mengobarkan instabilitas di kawasan dan mendukung kelompok teroris. Mencermati fakta di kawasan dan pengakuan petinggi Amerika, menunjukkan bahwa realita berbeda dengan klaim Washington.

Menlu AS Mike Pompeo

 

Iran selama beberapa tahun terakhir memainkan peran vital dalam melawan terorisme dan radikalisme di kawasan, di mana Daesh adalah simbol dari terorisme saat ini. Daesh dan berbagai kelompok teroris lainnya di Suriah dan Irak semakin marak dengan dukungan dan bantuan langsung Amerika dan Arab Saudi sebagai sekutu utama Washington di kawasan. Kelompok teroris ini telah menorehkan kejahatan paling brutal di kawasan dan dunia.

 

Hal ini juga diakui sendiri oleh Trump. Presiden Amerika ini pada Januari 2016 mengkritik pendahulunya, Barack Obama dan Mantan menlu Hillary Clinton karena kemunculan Daesh. Trump mengatakan, "Mereka telah membantuk dan memunculkan Daesh. Clinton dan Obama adalah yang membentuk Daesh."

 

Trump setelah memenangkan pilpres dalam sebuah wawancara menjelaskan, "Pemerintahan Barack Obama dengan posisi buruk ketika keluar dari Irak telah menciptakan Daesh, terjadi celah sehingga Daesh muncul dan Saya menilai Obama berperan dalam hal ini."

 

Sejatinya negara-negara kawasan termasuk Irak dan Suriah selama beberapa tahun terakhir, karena dukungan total Amerika terhadap kelompok teroris, menjadi sasaran gelombang serangan, instabilitas, dan pembantaian warga tak berdosa. Padahal Amerika setelah meluasnya domain operasi Daesh dari Suriah ke Irak, dengan dalih memerangi fenomena buruk ini, langsung membentuk koalisi internasional anti Daesh yang secara praktis dibentuk untuk mengendalikan kelompok teroris ini.

 

Tujuan Amerika dan sekutu Barat serta Arabnya mendukung teroris Takfiri adalah memerangi poros muqawama di mana Suriah tercatat sebagai salah satu pilar utama. Di sisi lain, Iran sebagai negara yang menjadi korban terorisme, aktif melancarkan perang anti terorisme dan radikalisme untuk melawan kelompok teroris dukungan Amerika dan sekutunya di Irak dan Suriah atas permintaan resmi kedua negara tersebut.

 

Iran dalam hal ini memberikan bantuan konsultasi/penasehat militer. Tentu saja langkah Iran ini mendapat penentangan keras dari Amerika Serikat, Israel dan Arab Saudi. Kondisi Irak dan Suriah saat ini menunjukkan bahwa proses kekalahan kelompok teroris di dua negara ini tengah berlangsung dan menjadi prestasi besar. Para petinggi Irak dan Suriah berulang kali memuji peran Iran dalam membantu perang anti terorisme di dua negara tersebut. (MF)