Erdogan: Turki Tidak Menyerah atas Tekanan AS
-
Perseteruan Erdogan dan Trump
Presiden Turki menegaskan bahwa Ankara tidak akan menyerah dihadapan tekanan dan sanksi Amerika Serikat dan akan melewati tantangan ini.
Menurut laporan IRNA, Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki hari Ahad (12/8) dalam pidatonya di Kongres Provinsi Partai Keadilan dan Pembangunan di kota Trabzon, Turki menjelaskan bahwa kita menghadapi permainan politik yang mengganggu lalu kepada Amerika, Erdogan mengatakan, Ankara akan membalas tegas ancaman Washington.
"Amerika akan menerapkan apa yang bisa mereka lakukan dengan kudeta dan aksi-aksi provokator terhadap pemerintah Ankara dan kini ingin dilakukan lewat mata uang dan nama dari aksi ini secara transparan adalah perang ekonomi," ungkap Erdogan.
"Washington dengan dolar ingin menarget Turki, tapi Ankara juga punya banyak cara untuk menarget Amerika," tambah Erdogan.
Para pemimpin partai-partai politik Turki juga menyebut perilaku Donald Trump, Presiden Amerika Serikat terhadap Turki sebagai kesalahan besar dan menekankan bahwa kelanjutan kebijakan permusuhan Amerika terhadap Turki sebagai sekutunya di kawasan akan membuatnya kehilangan Ankara.
Donald Trump dalam pernyataan bernada ancaman terhadap Turki mengatakan, bila Ankara tidak segera membebaskan Andrew Brunson, pendeta Amerika, maka akan menghadapi sanksi penuh Amerika.
Pemerintah Turki menahan Andrew Brunson pada bulan Oktober 2016 dengan tuduhan melakukan aksi teror, spionase dan berhubungan dengan kelompok Gulen. Ia saat ini berada dalam tahanan rumah di Turki.
Ankara menilai Fethullah Gulen sebagai pelaku kudeta gagal pada 15 Juli 2016 di Turki.