Turki dan Agenda Bersama 5 Negara di Bishkek
-
Menlu Turki, Mevlüt Çavuşoğlu
Pertemuan tingkat menteri luar negeri negara anggota dewan kerja sama negara-negara berbahasa Turki berlangsung di kota Bishkek, ibu kota Kyrgyzstan.
Pertemuan ini digelar menjelang konferensi tingkat tinggi keenam para pemimpin negara anggota dewan ini.
Pada pertemuan kali ini, Menteri Luar Negeri Kyrgyzstan menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara besar tersebut.
Dewan negara berbahasa Turki dibentuk 25 tahun lalu oleh Turki, Republik Azerbaijan, Turkmenistan, Kazakhstan dan Kyrgyzstan untuk membahas sejumlah persoalan bersama yang dihadapi kelima negara etnis Turki itu.
Meskipun memiliki kesamaan bahasa dan budaya, Uzbekistan menolak bergabung dalam kelompok negara berbahasa Turki itu. Pasalnya, Uzbekistan mengkhawatirkan masa depan kelompok ini yang dianggap hanya akan membesarkan dominasi Turki.
Meskipun demikian, pemerintahan Uzbekistan saat ini yang dipimpin oleh Presiden Shavkat Mirziyoyev dalam pertemuan dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan tiga bulan lalu di Taskent memutuskan untuk bergabung dengan kelompok tersebut.
Meskipun pertemuan ini mengusung kesamaan etnisitas Turki dengan isu kesamaan bahasa, tapi pada pertemuan mereka, terutama konferensi tingkat tinggi menggunakan penerjemah.
Oleh karena itu, pertemuan yang mengusung isu bersama kesamaan identitas Turki menyimpan agenda politik yang kuat. Ankara membawa motif ekonomi dan politik dalam pembentukan koalisi lima negara ini. Oleh karena itu, selama dua dekade terakhir, kerja sama negara-negara etnis Turki tidak pernah jauh dari kepentingan ekonomi yang diusung bersama.
Terkait hal ini, analis politik Kyrgyzstan, Taktegel Kacikev mengungkapkan bahwa Turki di Asia Tengah sedang mengejar kepentingan geopolitik, sehingga peran aktif bangsa-bangsa etnis Turki sangat penting bagi Ankara.
Pengamat politik ini menjelaskan, selain masalah pembangunan jalur pipa gas Rusia ke Turki, Kyrgyzstan sebagai anggota organisasi dewan keamanan bersama dan Uni Ekonomi Eurasia memiliki kedudukan penting bagi Ankara, oleh karena itu keanggotaan Bishkek di organisasi ini dipandang penting.
Sejak konferensi tingkat tinggi negara-negara berbahasa Turki telah berlalu tiga tahun lalu, pertemuan terakhir berlangsung bulan Desember 2015 di Astana, ibu kota Kazakshtan.
Tapi tampaknya pertemuan tiga tahunan ini belum menunjukkan hasil signifikan sebagaimana diharapkan oleh negara-negara anggota. Hingga kini Ankara berupaya menjadikan faktor persamaan negara-negara anggota seperti bahasa yang ditonjolkan untuk menguatkan solidaritas yang sedang dibangun dan dikuatkan di kawasan.
Di kalangan negara anggota, Turki sebagai inisiator pembentukan dewan ini, sekaligus menempatkan dirinya sebagai saudara tua, berupaya memainkan peran lebih besar dari negara lain.(PH)