Kedok Perdamaian di balik Militerisme AS
-
Donald Trump
Amerika Serikat adalah salah satu negara dengan anggaran militer dan jumlah tentara terbesar di dunia. Militerisme dan penggunaan kekuatan fisik selalu menjadi prinsip utama kebijakan luar negeri dan keamanan Amerika. Dalam Strategi Keamanan Nasional Amerika, NSS tahun 2017 ditegaskan penggunaan cara represif untuk meraih tujuan luar negeri.
Amerika selalu menggunakan isu ancaman dari rival-rivalnya sebagai senjata untuk melanggengkan militerismenya. Penekanan Washington atas masalah ini selalu mengkambing hitamkan peningkatan kemampuan militer Rusia dan Cina, salah satu rival terberatnya.
Presiden Amerika Donald Trump di satu sisi memprotes besarnya anggaran militer Rusia dan Cina untuk memproduksi persenjataan termasuk senjata nuklir dan menuntut agar dana itu digunakan untuk keperluan lain.
Trump pada hari Jumat, 5 April 2019 kepada wartawan mengatakan, Cina menganggarkan dana besar untuk angkatan bersenjata mereka. Kita juga sama dan Rusia pun demikian. Menurut saya ketiga negara ini dapat menurunkan biaya militer lewat kerja sama.
Trump mengatakan tidak memproduksi senjata akan lebih baik bagi dunia. Menurutnya, kita bisa menganggarkan dana kita untuk hal yang lebih penting bagi perdamaian jangka panjang. Saya kira kita bisa saling bekerjasama dan tidak memproduksi senjata dalam jumlah ini, itu akan lebih baik bagi kita.
Padahal anggaran militer Amerika untuk tahun 2019 mencapai lebih dari 682,4 miliar dolar, sementara anggaran militer Cina dan Rusia masing-masing sekitar 166 dan 65 miliar dolar.
Washington justru berada di peringkat pertama negara dengan anggaran militer terbesar kemudian disusul Rusia dan Cina yang disebutnya musuh dan ancaman utama bagi keamanannya. Tidak diragukan penambahan anggaran militer Amerika di masa Trump juga dilakukan untuk menghadapi dua negara tersebut.
Selain itu anggaran dana raksasa untuk memodernisasi persenjataan nuklir Amerika dan menciptakan pasukan antariksa juga diduga untuk menghadapi apa yang diklaimnya sebagai ancaman nuklir dan antariksa Rusia dan Cina.
Di masa Trump, Amerika tampak melakukan langkah-langkah terbuka untuk meningkatkan kekuatan militer dan memperluas kehadiran militer di berbagai belahan dunia. Sementara Rusia adalah negara yang dianggap Amerika sebagai ancaman terbesar.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika Mike Milley mengatakan Rusia adalah satu-satunya negara di dunia yang punya senjata nuklir yang diperlukan untuk menghancurkan Amerika, maka dari itu Moskow adalah satu-satunya ancaman yang ada bagi Washington.
Milley menuturkan, karena kemampuan nuklir yang dimilikinya, Rusia menjadi satu-satunya negara di muka bumi yang dapat menghancurkan Amerika.
Sikap pejabat Amerika terhadap Cina juga tidak jauh berbeda dan mereka mengatakan bahwa peningkatan kemampuan Beijing merupakan ancaman serius bagi Amerika dan sekutu-sekutu Washington di kawasan Asia Pasifik.
Para komandan militer Amerika mengatakan peningkatan kehadiran angkatan laut dan penguatan kemampuan maritim Rusia serta Cina khususnya pengoperasian kapal selam nuklir baru yang dilengkapi senjata atom dan produksi rudal anti-kapal jarak jauh baru yang mampu menyasar armada kapal induk Amerika, telah meningkatkan kemampuan dua negara itu secara signifikan.
Oleh karena itu mereka menuntut pengembangan dan pembuatan senjata baru untuk menghadapi ancaman yang mereka klaim datang dari Rusia dan Cina tersebut. (HS)