Ketika AS Menjegal Perundingan Venezuela di Oslo
-
Perusuh di Venezuela
Amerika Serikat selama beberapa bulan terakhir semakin agresif untuk menggulingkan pemerintahan sayap kiri Venezuela yang dipimpin Presiden Nicolas Maduro dengan melancarkan serangkaian langkah-langkah mulai dari propaganda dan perang psikologis hingga sanksi ekonomi besar-besaran serta ancaman serangan militer.
Namun, kebuntuan langkah Washington dan sekutunya untuk memaksakan tuntutan mereka terhadap rakyat Venezuela, dan kegagalan Juan Guido, pemimpin oposisi yang didukung oleh Amerika Serikat memunculkan upaya politik dari beberapa mediator asing untuk menyelesaikan krisis politik Venezuela.
Salah satu langkah mediasi yang dilakukan dengan menggelar perundingan di Oslo, ibu kota Norwegia antara perwakilan pemerintah Venezuela dan kubu Guido. Dilaporkan, Guido telah mengumumkan pengiriman delegasinya ke Oslo untuk bertemu dengan wakil dari pihak Maduro. Sebelumnya Norwegia berapa kali mengundang kedua pihak yang berseteru di Venezuela untuk duduk di meja perundingan. Langkah ini sejalan dengan upaya kelompok kontak International, kelompok Lima, Kanada, dan pihak lain untuk menyelesaikan krisis politik di Venezuela. Norwegia adalah salah satu negara anggota Uni Eropa yang belum mengakui Guido yang diproklamirkan diri sebagai presiden Venezuela.
Inisiatif Oslo memeicu reaksi negatif dari Washington, dan Amerika Serikat berusaha untuk menggagalkan perundingan. Juru bicara kementerian luar negeri AS dalam sebuah pernyataan interventifnya mengatakan, satu-satunya pembicaraan dengan Maduro dilakukan berkaitan dengan pengunduran dirinya dari jabatan presiden.
Juru bicara kementerian luar negeri AS mengatakan, "Kami percaya hanya satu hal yang menyebabkan kami bisa berunding dengan Nicholas Maduro, dan itu adalah pengunduran dirinya. Kami berharap pembicaraan di Oslo akan fokus pada tujuan ini, dan jika itu masalahnya, akan ada beberapa kemajuan yang mungkin terjadi,".
Sebab, Amerika Serikat sebenarnya berambisi untuk memperburuk ketegangan di negara kaya minyak Amerika Latin itu dengan tujuan menggulingkan Maduro. Dalam narasi yang hampir sama, Guido juga tidak memiliki sikap positif terhadap negosiasi Oslo.
Guido mengatakan kepada wartawan mengatakan, "Ini bukan tentang negosiasi, tapi upaya Norwegia sebagai mediator yang melakukan prosesnya selama berbulan-bulan. Langkah ini merupakan inisiatif lain dari sebuah negara yang berusaha untuk bekerja sama dalam penyelesaian masalah Venezuela,".
Selama beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat telah meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap Maduro supaya menerima transisi kekuasaan kepada Guido. Namun, upaya Washington tersebut membentur dinding. Pada saat yang sama, Amerika Serikat telah mengintensifkan tekanan besar-besaran terhadap Venezuela dengan menjatuhkan sanksi kepada Caracas.
Langkah campur tangan AS tersebut memicu reaksi penentangan dari publik internasional. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan Moskow tidak memandang intervensi asing dan militer di Venezuela sebagai hal yang dapat diterima, dan menekankan perlunya mematuhi prinsip-prinsip hukum internasional. Menurut Rybakov, Moskow menyerukan urgensi dialog di Venezuela tanpa prasyarat dalam situasi saat ini, dan dimulainya perundingan antara kedua kubu yang berseteru.
Ketika Amerika Serikat mendorong untuk pembicaraan mengenai penylesaian krisis politik di Venezuela, Rusia justru berupaya memajukan negosiasi untuk mengakhiri konflik Venezuela saat ini.(PH)