AS dan Israel sebagai Ancaman Turki
-
Friksi Turki dan AS, ilustrasi (dok)
Jajak pendapat terbaru di Turki menunjukkan bahwa rakyat negara ini memandang rezim Zionis Israel dan AS sebagai ancaman terbesar bagi bangsa dan negaranya.
Polling yang dilakukan oleh Universitas Kadir Has, Istanbul ini menunjukkan sebanyak 81,3 persen responden menilai AS sebagai musuh utama Turki dan 70,8 persen menilai rezim Zionis sebagai ancaman terbesar bagi Turki.
Dalam jajak pendapat yang diikuti ribuan orang ini, sebanyak 39,4 persen responden juga mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak bisa dipercaya.
Sebaliknya hanya 20,6 persen dari mereka yang disurvei mengidentifikasi masalah terpenting kebijakan luar negeri Turki mengenai "hubungan dengan Amerika Serikat".
Jajak pendapat terbaru di Turki menunjukkan penentangan rakyat Turki terhadap AS dan rezim Zionis, meskipun AS gencar membenamkan infiltrasi budaya untuk mengubah pandangan orang-orang Turki terhadap AS dan Israel.
Faktanya, masyarakat di negara-negara kawasan, termasuk Turki masih memiliki pandangan negatif terhadap kebijakan AS dan rezim Zionis.
Lalu, apa yang menyebabkan rakyat Turki memandang AS dan rezim Zionis sebagai musuh utama mereka. Masalah ini kembali ke sejarah mengenai jejak kelam perilaku AS dan Zionis terhadap Turki.
Salah satu contoh utama yang selalu menimbulkan kemarahan orang-orang Turki selama beberapa tahun terakhir adalah serangan angkatan laut Israel terhadap konvoi bantuan kemanusiaan internasional untuk Palestina, Freedom Flotilla di tahun 2010 yang menewaskan beberapa warga sipil negara ini.
Selain itu, orang-orang Turki menilai rezim Zionis Israel sebagai agresor yang menduduki kiblat pertama umat Islam di Masjid Al-Aqsa, serta penindasan dan genosida terhadap Palestina.
Di sisi lain, salah satu masalah utama rakyat Turki terhadap Amerika Serikat memgenai kebijakan luar negeri Washington yang menempatkan Ankara sebagai halaman belakangnya dan intervensi Gedung Putih dalam urusan politik domestik Turki.
Contoh nyatanya mengenai dukungan AS terhadap kudeta militer yang gagal pada Juli 2016. Pemerintah Turki juga menilai Fethullah Gulen yang dianggap terlibat dalam kudeta yang gagal didukung AS. Ketegangan antara AS dan Turki meningkat ketika Washington menolak menyerahkan Fethullah Gulen.
Selain itu, Amerika Serikat juga mengancam akan memboikot Turki karena langkahnya membeli sistem anti rudal buatan Rusia, S-400.
Dalam keadaan demikian, Amerika Serikat yang terus melanjutkan kebijakan konfrontatifnya terhadap masyarakat kawasan dan mendukung pendudukan Palestina oleh rezim Zionis serta meningkatnya pelanggaran yang dilakukan Trump terhadap perjanjian internasional, saat ini semakin terkuci di arena internasional. Polling di Turki ini, baru separuh buktinya saja.(PH)