Menimbang Langkah Efektif Uni Eropa di JCPOA
-
Josep Borrell
Sejak Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada Mei 2018, pihak Eropa gagal memenuhi kewajiban mereka terhadap perjanjian nuklir internasional ini. Walaupun demikian, Uni Eropa hingga kini masih menekankan urgensi keberlanjutan JCPOA.
Masalah tersebut kembali ditegaskan Josep Borrell, selaku kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa yang baru menjabat menggantikan Federica Mogherini. Borrell dalam sebuah wawancara pada hari Minggu, 15 Desember 2019 mengatakan, kesepakatan nuklir Iran masih hidup. Dia mengklaim bagian dari kekuatan utama perjanjian ini masih dipertahankan, karena Uni Eropa dan Eropa memiliki banyak kepentingan di dalamnya.
Borrell juga menanggapi pertanyaan tentang penurunan bertahap yang dilakukan Iran terhadap komitmennya di JCPOA, termasuk peningkatan level pengayaan uranium dalam langkah keempat. Menurut pejabat tinggi Uni Eropa ini, pelanggaran terhadap pembatasan tidak berarti melampaui batas dan Iran masih berada dalam batasan itu.
Borrell mengatakan, "Saya harus menjelaskan masalah ini; meskipun Amerika Serikat secara sepihak keluar dari JCPOA, tapi Iran sebagian besar telah memenuhi kewajibannya dan kami ingin mereka terus melakukannya. Sebab menghidupkan kesepakatan ini sangat penting bagi keamanan Eropa,".
Beberapa hari yang lalu, pada konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, Borrell menekankan bahwa JCPOA berada dalam bahaya dan berharap perjanjian internasional itu akan dipertahankan.
Uni Eropa dan Troika Eropa telah berulang kali menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan JCPOA demi perdamaian dan keamanan regional maupun internasional. Pihak Eropa berjanji untuk mempertahankan kesepakatan itu setelah AS keluar dari JCPOA pada Mei 2018 dengan memberikan mekanisme keuangan khusus yang disebut Instex.
Tapi mereka sejauh ini gagal memenuhi janjinya untuk menjaga agar kesepakatan nuklir antara kelompok 5+1 dan Iran tetap efektif di tengah gencarnya penentangan Washington. Iran mengambil langkah pengurangan komitmennya terhadap JCPOA dalam empat langkah sesuai aturan butir 26 dan 36 perjanjian nuklir internasional ini.
Tehran telah menekankan akan terus mengurangi kewajibannya terhadap JCPOA, tapi akan segera kembali ke awal untuk menjalankan secara penuh komitmennya jika mitranya mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban mereka.
Masalahnya, pihak Eropa alih-alih menepati janjinya terhadap Iran, justru menyampaikan statemen yang kontraproduktif dengan menuding Iran mengancam akan menjalankan mekanisme triger. Namun, setelah dilakukan berbagai pertemuan mereka mulai mengubah sikapnya pasca pertemuan terbaru komisi bersama JCPOA di Wina pada Jumat 6 Desember 2019. Pernyataan penutupan pertemuan itu menyatakan bahwa para anggota mengakui komitmen Iran terhadap JCPOA selama 14 bulan setelah AS menyatakan keluar dari JCPOA dan menjatuhkan kembali sanksi nuklir yang mencegah Tehran menikmati manfaat dari perjanjian nuklir internasional ini.
Sejatinya, jika Eropa benar-benar serius ingin menjaga JCPOA demi mempertahankan kepentingannya, maka mereka harus mengambil langkah-langkah efektif dan praktis untuk memenuhi kewajibannya, terutama implementasi Instex. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif pada 9 Desember menegaskan, "Iran tidak puas dengan tingkat komitmen Uni Eropa dan negara-negara anggotanya dalam implementasi JCPOA."
Masalah penting saat ini, pejabat kebijakan luar negeri Uni Eropa yang baru telah mengakui bahwa Iran masih berada dalam batas yang ditentukan oleh perjanjian nuklir internasional. Bagaimanapun, hal ini menjadi indikasi dari itikad baik Iran untuk menjaga keberlanjutan JCPOA. Oleh karena itu, jika pihak Eropa benar-benar serius ingin mempertahankan perjanjian penting ini, maka mereka harus bertindak dan menjalankan Instex, daripada memberikan janji semata.(PH)