Amerika Tinjauan dari Dalam, 04 Januari 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i77205-amerika_tinjauan_dari_dalam_04_januari_2020
Dinamika di dalam negeri Amerika Serikat pekan ini diwarnai dengan peristiwa teror Komandan Brigade Quds IRGC Iran, Letjen. Qasem Soleimani yang dilakukan atas instruksi langsung Presiden AS Donald Trump.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 04, 2020 14:51 Asia/Jakarta
  • Syahid Qasem Soleimani
    Syahid Qasem Soleimani

Dinamika di dalam negeri Amerika Serikat pekan ini diwarnai dengan peristiwa teror Komandan Brigade Quds IRGC Iran, Letjen. Qasem Soleimani yang dilakukan atas instruksi langsung Presiden AS Donald Trump.

Perkembangan lainnya seputar tanggapan dan respon para petinggi Amerika atas aksi teror pemerintah Gedung Putih ini.

AS Teror Syahid Qasem Soleimani

Amerika Serikat melancarkan teror terhadap Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis. Kedua tokoh muqawama ini gugur dalam serangan udara Amerika Jumat (03/01) dini hari di dekat bandara udara Baghdad, Irak.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) di statemennya mengaku bertanggung jawab atas teror terhadap komandan Quds IRGC Iran.

Syahid Qasem Soleimani

“Teror terhadap Mayjen Qasem Soleimani dilakukan atas instruksi langsung Presiden AS Donald Trump,” tulis statemen Pentagon Jumat (02/01/20) seperti dilaporkan IRNA.

Pentagon di statemennya mengklaim bahwa tujuan dari serangan ini untuk mencegah program mendatang Iran.

Menyusul kejahatan keji militer Amerika dan teror Qasem Soleimani, Donald Trump merilis bendera Amerika di akun twitternya.

Sementara itu, Ketua komite intelijen DPR Amerika Serikat mengatakan bahwa DPR negara ini tidak mengijinkan teror terhadap komandan Brigade Quds IRGC Iran.

“Kongres tidak memberi ijin teror Komandan Brigade Quds IRGC Qasem Seleimani dan rakyat Amerika tidak menginginkan perang dengan Iran,” tulis Adam Schiff Jumat (03/01) di akun twitternya seperti dilaporkan FNA.

Lebih lanjut senator Amerika ini menulis, “Kini kita harus mengerahkan seluruh langkah untuk melindungi pasukan kita dari eskalasi tensi yang tak dapat dihindari dan ancamannya.”

Berbagai pejabat dan tokoh penting Amerika juga merespon aksi pemerintah Gedung Putih meneror Letjen Qasem Soleimani.

Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat mengatakan, teror Jenderal Qasem Soleimani telah meningkatkan bahaya konfrontasi langsung dengan Iran. Menurutnya apapun yang dilakukan Amerika untuk menghadapi pembalasan Iran tidak akan pernah cukup.

Fars News (4/1/2020) melaporkan, Susan Rice, Sabtu (4/1) menuturkan, bahaya-bahaya yang akan muncul sebagai dampak teror terhadap Jenderal Qasem Soleimani sepertinya akan jauh lebih besar dari manfaatnya.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi MSNBC, Rice menerangkan, saat saya menjabat penasihat keamanan nasional, intelijen atau militer Amerika sama sekali tidak punya kesempatan sedikitpun untuk mengusulkan serangan terhadap Qasem Soleimani, kepada Barack Obama.

Ia menambahkan, jika kami diberi kesempatan semacam ini, kami akan berusaha mengkaji dan mengevaluasi secara seksama untuk menimbang bahaya dan dampak yang ditimbulkannya. Kami akan mempelajari seluruh langkah, apakah itu akan memperkuat keamanan atau memperlemahnya.

Mantan penasihat keamanan nasional Amerika menjelaskan, kami memiliki bukti nyata dan serius yang membuat kami percaya bahwa dalam setiap kemungkinan, bahaya yang muncul sebagai dampak teror Jenderal Soleimani akan jauh lebih besar dari manfaatnya.

Salah satu anggota Kongres Amerika Serikat di laman Twitternya menulis, langkah pemerintah Presiden Donald Trump meneror Komandan Pasukan Qods, IRGC adalah "aksi perang" terhadap Iran.

Fars News (4/1/2020) melaporkan, Alexandria Ocasio Cortez merespon teror Amerika terhadap Komandan Pasukan Qods, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, Jenderal Qasem Soleimani dan menyebutnya sebagai aksi perang.

Sebagaimana diberitakan situs The Hill, Ocasio Cortez, Jumat (3/1) mengatakan, malam kemarin, Presiden Amerika melakukan sebuah langkah yang bisa dikategorikan sebagai aksi perang terhadap Iran dalam skala luas. Sebuah langkah yang mengancam hidup jutaan manusia tak bersalah.

Ia menambahkan, sekarang saatnya untuk menghindari perang dan melindungi masyarakat tak bersalah. Pertanyaan yang disampaikan banyak orang termasuk oleh Kongres Amerika saat ini adalah bagaimana caranya untuk mencegah perang.

Senator Amerika Serikat dari negara bagian Connecticut mengatakan, pembunuhan yang dilakukan Washington terhadap Jenderal Qasem Soleimani sama dengan teror Iran terhadap menteri pertahanan Amerika.

Fars News (3/1/2019) melaporkan, Senator Chris Murphy sebagaimana dikutip The Washington Free Beacon, Jumat (3/1) memprotes langkah pemerintah Presiden Donald Trump membunuh Komandan Pasukan Qods, IRGC dan menuturkan, pertanyaannya adalah apakah pemerintah Gedung Putih sebelumnya berpikir bagaimana bisa mengelola dampak negatif yang ditimbulkan langkah mengerikan semacam ini.

Chris Murphy

Chris Murphy menegaskan, langkah Amerika ini sama dengan teror Iran terhadap menhan Amerika.

Kepada Washington Post, Senator Amerika ini menjelaskan, tidak jelas apa substansi langkah ini, pertahanan atau pengumuman perang. Jika sebuah negara asing meneror menhan kita, tidak diragukan kita akan menganggapnya sebagai aksi perang yang harus dibalas lebih keras.

Ia menambahkan, pertanyaannya adalah apakah Soleimani sebagai seorang martir lebih berbahaya bagi Amerika atau sebagai orang yang hidup. Langkah Amerika sama dengan membunuh menhan-nya sendiri.

Salah satu majalah Amerika Serikat menganalisa ancaman Iran untuk menuntut balas teror terhadap Komandan Pasukan Qods, IRGC, Jenderal Qasem Soleimani. Menurutnya serangan balasan Iran bisa dilakukan di dalam wilayah Amerika atau di luar.

Fars News (3/1/2020) melaporkan, majalah Foreign Affairs menyebut Jenderal Qasem Soleimani sebagai salah satu tokoh Iran yang banyak disukai dan sangat berpengaruh.

"Ia khususnya adalah musuh besar Amerika, dengan alasan yang sangat banyak, Jenderal Soleimani adalah pahlawan nasional di Iran, bahkan di seluruh kawasan," kata majalah Amerika itu.

Foreign Affairs menambahkan, pertanyaan terpenting adalah bagaimana cara Iran membalas. Perilaku Iran dalam beberapa bulan terakhir, bahkan sepanjang sejarah menunjukkan bahwa negara ini tidak tergesa-gesa dalam menuntut balas. Iran akan mengkaji dengan cermat dan penuh kesabaran dalam memilih langkah yang efektif, serta menghindari perang total melawan Amerika.

Menurut Foreign Affairs, balasan paling serius Iran dapat dilakukan di dalam wilayah Amerika atau dengan membunuh seorang pejabat senior negara ini.

"Serangan terhadap kepentingan atau pegawai Amerika di luar negeri juga dapat menjadi opsi yang tepat bagi Iran, dan ini akan menyulitkan bagi Washington," pungkasnya.