Menimbang Komitmen Uni Eropa terhadap JCPOA
Uni Eropa mencapai kesepakatan nuklir internasional dengan Iran dan enam negara besar dunia dengan tercapainya JCPOA pada 14 Juli 2015. Sejak itu, Federica Mogherini yang menjabat sebagai Kepala kebijakan Kepala Luar Negeri Uni Eropa senantiasa menegaskan dukungannya terhadap JCPOA, bahkan ketika AS menyatakan keluar dari pakta nuklir internasional ini.
Kini pengganti Mogherini, Josep Borrell kembali menyampaikan sikap yang senada. Pada pertemuan menteri luar negeri anggota Uni Eropa pada hari Jumat, (10/1/2020) yang dihadiri oleh Josep Borrell dan menteri luar negeri Troika Eropa (Jerman, Prancis dan Inggris) yang membahas masalah Iran, JCPOA perkembangan di Asia Barat, Uni Eropa kembali menegaskan dukungannya terhadap JCPOA. Borrell mengatakan, "Perjanjian nuklir dengan Iran adalah perjanjian yang sangat penting, dan kami berkomitmen untuk mempertahankannya demi kepentingan kita bersama. Oleh karena itu, sebisa mungkin untuk mempertahankan perjanjian ini, ".
Meskipun Uni Eropa dan Troika Eropa telah berulang kali menekankan pentingnya JCPOA dalam menjaga perdamaian dan keamanan regional dan internasional. Tapi tampaknya, mereka hanya mengharapkan Iran saja yang menjalankan isi perjanjian ini serta mengabaikan peran dan kewajibannya.
Pihak Eropa berjanji mempertahankan kesepakatan nuklir internasional ini setelah Trump mengumumkan AS keluar dari JCPOA pada Mei 2018 dengan menyampaikan janji akan memenuhi kepentingan ekonomi Iran dengan mengadopsi langkah-langkah praktis, seperti pembentukan mekanisme keuangan khusus yang disebut Instex. Namun faktanya pihak Eropa tidak mampu mewujudkan janjinya tersebut.
Di sisi lain, mereka juga menolak usulan Trump supaya keluar dari JCPOA. Setelah Jerman dan Inggris menentang usulan Trump tersebut, Prancis juga mengambil sikap serupa. Juru bicara kementerian luar Negeri Prancis menyatakan negaranya mendukung JCPOA. Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian menegaskan, "Kami percaya JCPOA tetap berlanjut,".
Setelah setahun AS mengumumkan keluar dari JPOA, dan usulan pihak Eropa juga tidak efektif mengimbangi konsekuensi ekonomi dari langkah destruktif Washington, Tehran akhirnya mengambil langkah pengurangan komitmennya terhadap JCPOA yang diambil sesuai dengan pasal 26 dan 36 perjanjian nuklir internasional itu.
Pada 5 Januari, Iran mengambil langkah kelima dan terakhir dalam pengurangan komitmennya terhadap JCPOA, dan menyatakan bahwa Tehran tidak memiliki batasan dalam masalah nuklirnya, termasuk kapasitas pengayaan, persentase pengayaan, jumlah material yang diperkaya, dan penelitian dan pengembangan. Iran juga menegaskan bahwa program nuklirnya akan berjalan sesuai dengan kebutuhan teknis, namun masih melanjutkan kerjasama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Masalah ini diangkat dalam pertemuan para menteri luar negeri Eropa baru-baru ini. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan, "Kami menyerukan Iran supaya mematuhi kewajibannya terhadap JCPOA, dan kami pun akan mematuhi perjanjian itu,".
Di pihak lain, Tehran telah menyatakan siap untuk menjalankan kembali komitmen penuhnya terhadap JCPOA, jika sanksi dicabut dan kepentingannya dipenuhi. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa semua langkah yang diambil dapat dibatalkan jika kewajiban pihak lain diterapkan secara efektif. Selain itu, Iran juga terus bekerja sama sepenuhnya dengan IAEA.
Kini, jika pihak Eropa ingin tetap menjaga JCPOA demi kepentingan mereka sendiri, seharusnya mereka menerapkan langkah-langkah efektif, terutama Instex. Selain itu, pihak Eropa juga harus menahan diri dari segala bentuk kerja sama dengan Amerika Serikat dalam masalah Asia Barat dan mengecam tindakannya yang menyulut instabilitas regional. Masalahnya, sejauh ini, posisi Uni Eropa dalam menyikapi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, alih-alih mengecam Washington, justru hanya mengajak kedua belah pihak menahan dan mengurangi ketegangan.(PH)