Kritik Rusia terhadap Unilateralisme Barat
-
Presiden Donald Trump.
Upaya Barat untuk memaksakan nilai-nilai dan ambisinya kepada dunia selalu mendapat penentangan dari negara lain. Barat khususnya Amerika Serikat selalu ingin menguasai dunia dan menerapkan kebijakan unilateral.
Hal ini mengundang reaksi negatif dari kekuatan-kekuatan rival Barat termasuk Rusia. Moskow menentang keras pendekatan unilateral dan pemaksaan kehendak oleh Washington.
Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengkritik pendekatan unilateral yang diadopsi blok Barat di bawah pimpinan Amerika. Menurutnya, pendekatan yang sangat egois dalam hubungan internasional akan menemui jalan buntu.
"Hal-hal yang bertujuan memastikan dominasi dengan biaya berapa pun akan terhitung sebagai pendekatan egois dalam hubungan internasional dan ini akan mengarah ke jalan buntu. Dunia harus menerima fakta bahwa tidak ada yang lebih penting daripada persatuan untuk mengatasi masalah kolektif, dan unilateralisme tidak mengizinkan negara mana pun untuk berperan secara efektif di tingkat internasional," tegasnya.
Pandangan Rusia ini diamini oleh negara-negara penentang hegemoni Barat termasuk Cina dan Iran. Pada pertengahan Juni 2020, menteri luar negeri Iran dan Rusia dalam sebuah pernyataan menentang unilateralisme yang diadopsi AS dan Barat di kancah internasional.
Para petinggi Rusia menentang klaim kepemimpinan Barat atas dunia dan mengkritik keras penggunaan metode ancaman, sanksi, dan tekanan untuk memaksakan kehendaknya kepada negara lain dan dunia.
Rusia saat ini menghadapi sanksi ketat yang diterapkan oleh Barat terutama Amerika dengan bermacam alasan. Aksi ini sebenarnya bertujuan memaksa Moskow untuk mengikuti kehendak mereka.
Kekuatan-kekuatan internasional rival AS khususnya Rusia dan Cina, menentang keras pendekatan unilateral dan sikap arogan Barat. Mereka menolak dikte Washington terhadap negara lain.
Presiden Putin dalam pesannya untuk Konferensi Keamanan Internasional Moskow 2019, memperingatkan tentang dampak berbahaya dari perilaku AS di kancah internasional.
Menurutnya, perilaku Amerika akan menghancurkan stabilitas dan merupakan ancaman bagi keamanan global. Sebagian dari tekanan ekonomi dan politik yang dipaksakan terhadap negara lain telah melanggar hukum internasional.
Statemen ini mengacu pada kebijakan dan sikap Trump yang berbicara tentang superioritas Amerika dan keharusan negara lain untuk mengikuti kebijakan Washington. Ini adalah sebuah upaya pemaksaan kehendak kepada pihak lain.
Moskow dan Beijing percaya bahwa perkembangan internasional dan realitas sistem global sedang mengarah ke sistem multipolar, sementara AS bersikeras untuk mempertahankan sistem unipolar dan berusaha memainkan peran sebagai polisi dunia.
Mantan Presiden Majelis Umum PBB, María Fernanda Espinosa mengatakan bahwa multilateralisme adalah satu-satunya jawaban atas tantangan yang kita hadapi.
Namun, AS menentang penguatan semangat multilateralisme dan selalu berusaha untuk mempertahankan hegemoninya di dunia lewat ancaman dan pemaksaan kehendak. Sayangnya sikap arogan ini mendapat dukungan dari sebagian sekutunya di Barat.
Meski demikian, AS semakin dikucilkan di dunia dan peran global Barat kian memudar. Fakta ini diakui oleh beberapa pemimpin Barat sendiri. Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Februari 2020 mengatakan, "Kita bisa melihat beberapa kelemahan spesifik Barat. Nilai-nilai telah berubah dan kekuatan baru telah muncul." (RM)