Amerika Tinjauan dari Dalam 21 November 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i87451-amerika_tinjauan_dari_dalam_21_november_2020
Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya pengakuan komandan CENTCOM bahwa AS tidak Ingin berperang langsung dengan Iran.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Nov 21, 2020 00:29 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS
    Pasukan AS

Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya pengakuan komandan CENTCOM bahwa AS tidak Ingin berperang langsung dengan Iran.

Selain itu, sebanyak 75 legislator AS meminta Trump meringankan sanksi terhadap Iran sebelum turun, pernyataan Macgregor bahwa kebijakan AS ditentukan uang lobi Israel, laporan Politico yang menyebutkan bahwa AS sekarang lebih sakit dari sebelumnya, AS memata-matai industri pertahanan Denmark, dan militer AS membeli informasi pribadi Muslim dari aplikasi Muslim Pro.

 

CENTCOM

 

Komandan CENTCOM: AS Tidak Ingin Berperang Langsung dengan Iran

Komandan Pusat Komando Pasukan AS di Asia Barat, CENTCOM mengakui bahwa Amerika Serikat tidak menginginkan perang langsung dengan Iran.

Kenneth McKenzie dalam sebuah konferensi video hari Kamis (19/11/2020) mengakui bahwa alasan kehadiran AS di Asia Barat adalah minyak di kawasan.

"AS tidak ingin berperang dengan Iran dan tidak memiliki kebijakan tekanan militer maksimum," tegas komandan CENTCOM.

McKenzie juga mengulangi tuduhan tak berdasar AS tentang perilaku Iran di kawasan, dengan menyatakan, "Ruang lingkup dan Intensitas tindakan mereka meningkat,".

Pemerintah AS melanjutkan sanksi terhadap Iran pada 2018 setelah menarik diri dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

New York Times baru-baru ini mengklaim bahwa Presiden AS, Donald Trump bermaksud untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran di hari-hari terakhir kepresidenannya.

Menyikapi masalah ini, Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Urusan Pertahanan, Hossein Dehghan menyatakan Republik Islam Iran tidak akan melakukan negosiasi dengan siapapun mengenai kekuatan militernya dalam keadaan apapun.

"Kami tidak ingin memulai perang, tetapi kami juga tidak mengejar negosiasi [dengan AS]," tegas Hossein Dehghan.

 

Donald Trump

 

75 Legislator AS Minta Trump Ringankan Sanksi Iran Sebelum Turun

Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat dalam suratnya kepada Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangan Amerika mendesak pengurangan sanksi Iran untuk pengiriman alat medis.

Majalah Amerika, Foreign Policy melaporkan, 75 anggota Kongres Amerika termasuk Elizabeth Warren, dan Jesus Garcia mendesak pemerintah Presiden Donald Trump untuk menyetujui pengurangan sanksi Iran sehingga terbuka kemungkinan pengiriman kit tes, alat bantu pernafasan buatan, dan peralatan medis lain ke Tehran untuk menghadapi wabah Virus Corona.

Dalam surat itu disebutkan, pelarangan atau pengurangan pengiriman alat medis bukan saja tidak menimbulkan reaksi efektif atas penanggulangan pandemi Covid-19 di seluruh dunia, bahkan tidak akan menguntungkan kepentingan nasional Amerika sendiri.

Menurut Foreign Policy, ada kemungkinan Joe Biden akan menerapkan segera pengecualian, dan menyalurkan bantuan Amerika untuk menghadapi Corona, dan beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan. Di saat wabah Corona terus menyebar di seluruh dunia, Trump di akhir masa jabatannya bermaksud memperketat kebijakan urusan finansial untuk pemerintahan Amerika berikutnya.

Trump dengan koordinasi rezim Zionis Israel, bermaksud menerapkan pukulan sanksi berat terhadap Iran.

Majalah Amerika ini menambahkan, Biden meminta Trump mengeluarkan izin untuk mengekspor produk-produk perusahaan farmasi, dan medis ke Iran.

Biden juga meminta dibentuk jalur khusus perbankan, dan perusahaan jasa sehingga Iran bisa mengakses peralatan medis yang diperlukannya.

 

Douglas Macgregor

 

Macgregor: Kebijakan AS Ditentukan Uang Lobi Israel

Penasihat senior pelaksana tugas kepala Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon dalam sejumlah wawancara menganggap penentu kebijakan luar negeri Amerika adalah uang lobi rezim Zionis Israel, yang lewat mereka, orang-orang semacam John Bolton dan Mike Pompeo menumpuk kekayaan.

Douglas Macgregor baru-baru ini pasca pemecatan Mark Esper oleh Trump, terus menerus menuding lobi Israel, dan kubu neokonservatif bertanggung jawab karena telah menyeret Amerika ke dalam perang.

Surat kabar Israel, Jerusalem Post menulis, Christopher Miller yang merupakan mantan perwira militer Amerika, dan selalu hadir di Fox News, dan media konservatif lain, dalam beberapa wawancaranya mengatakan, penyumbang dan lobi pendukung Israel, berada di balik upaya menyeret Amerika ke dalam perang.

Menurut Macgregor, kebijakan pendukung Israel adalah faktor yang menyebabkan terseretnya Amerika ke dalam perang Irak, pasca serangan teror 11 September 2001.

Ia menegaskan, kelompok neokonservatif juga mendesak Amerika untuk terjun ke dalam perang melawan Venezuela.

 

Politico: AS Sekarang Lebih Sakit dari Sebelumnya

Salah satu media Amerika Serikat dalam analisanya terkait kondisi Amerika pasca berakhirnya jabatan presiden Donald Trump mengatakan bahwa negara ini lebih sarat perpecahan dibanding setengah abad lalu.

Politico menulis, kandidat presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden akan menerima kekuasaan di saat Amerika, lebih sakit, lebih lemah dari sisi ekonomi, dan lebih terbelah sejak setengah abad lalu.

Menurut Politico, Joe Biden harus menyusun kebijakan luar negerinya sedemikian rupa sehingga Amerika tidak berkuasa lagi di dunia.

Ditambahkannya, dunia yang akan diwarisi Biden jauh berbeda dengan dunia di masa ia duduk sebagai wakil presiden Amerika, dan kepala komisi hubungan luar negeri Senat pada dekade 90-an.

"Era dunia unipolar Amerika sudah masuk tong sampah sejarah sejak lama. Cina, sebagaimana dikatakan Pentagon adalah rival sebanding Amerika. Kekuatan-kekuatan kecil, dan besar lain semacam Rusia, Iran, dan Korea Utara dengan mudah akan memupus harapan Amerika," ujarnya.

Politico menegaskan, pandemi global Covid-19 telah membuktikan diplomasi multilateral, dan akan mempercepat keruntuhan sistem liberal global yang dibangun Amerika.

 

 

AS Memata-matai Industri Pertahanan Denmark

Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dalam sebuah kerja sama rahasia telah memata-matai industri pertahanan di Denmark dan negara-negara Skandinavia.

Berdasarkan laporan seorang whistleblower internal, NSA menyalahgunakan kerja sama yang sangat rahasia antara Denmark dan Amerika Serikat untuk memata-matai kementerian-kementerian penting dan perusahaan swasta di Denmark dan negara-negara Skandinavia lainnya.

Tujuan utama dari spionase AS ini adalah kementerian dan perusahaan industri pertahanan seperti, Terma dan Saab.

Badan Keamanan Nasional (NSA) juga telah menyusun rencana untuk memata-matai Norwegia dan Swedia.

Dengan akses ke kabel serat optik dan pusat data di Pulau Amager di selatan Kopenhagen, NSA dapat memantau lalu lintas data dari Belanda, Norwegia, Prancis, Jerman, dan lembaga-lembaga politik Denmark.

Pada 2019, NSA juga dituduh memata-matai Jerman dan menyadap telepon milik Kanselir Jerman Angela Merkel.

 

 

 

Militer AS Beli Informasi Pribadi Muslim dari Aplikasi Muslim Pro

Militer Amerika Serikat membeli informasi pribadi umat Islam dari sejumlah aplikasi di seluruh penjuru dunia termasuk aplikasi Muslim Pro.

Riset yang dilakukan majalah online Motherboard, dan hasilnya dikutip stasiun televisi Aljazeera, menunjukkan bahwa staf komando pasukan elit Amerika membeli informasi lokasi sejumlah orang dari beberapa perusahaan media.

Militer Amerika pada kenyataannya sedang mengumpulkan informasi pribadi Muslim yang diberikan oleh sejumlah aplikasi di seluruh penjuru dunia.

Laporan ini menyebutkan, aplikasi paling populer yang dimanfaatkan militer Amerika untuk melacak lokasi orang-orang tertentu adalah aplikasi seputar waktu shalat, azan, Al Quran, dan kiblat, bernama Muslim Pro yang sudah diunduh lebih dari 98 juta kali di seluruh dunia. Beberapa aplikasi lain juga digunakan oleh militer Amerika seperti aplikasi mencari jodoh Muslim.

Seperti dikutip Aljazeera, militer Amerika mengkonfirmasi laporan ini, dan Komandan Operasi Khusus Militer Amerika, Tim Hawkins mengatakan, akses kami ke aplikasi-aplikasi ini adalah untuk mendukung keperluan tugas pasukan operasi khusus di luar negeri. (PH)