Amerika Tinjauan dari Dalam, 28 November 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i87708-amerika_tinjauan_dari_dalam_28_november_2020
Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai sikap terbaru Trump yang akhirnya bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Biden.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Nov 28, 2020 11:12 Asia/Jakarta
  • Donald Trump
    Donald Trump

Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai sikap terbaru Trump yang akhirnya bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Biden.

Tampaknya, langkah ini diambil setelah kekalahan beruntun tim hukum Trump di pengadilan. Kemudian, kementerian luar negeri AS sudah menyiapkan transisi kekuasaan.

Isu lainnya, AS menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan Rusia dan Cina karena membantu Iran, seorang perwira CIA tewas di Somalia, dan pengakuan anggota Kongres AS bahwa negaranya menjadi pecundang terbesar di Afghanistan.

 

Donald Trump dan Joe Biden

 

Akhirnya, Trump Setuju Alihkan Kekuasaan ke Biden

Presiden AS Donald Trump akhirnya setuju untuk menyerahkan kekuasaan kepada Presiden terpilih Joe Biden.

Trump di Twitternya Selasa (24/11/2020) menulis bahwa dirinya telah meminta Emily Murphy, Kepala Badan Layanan Umum (GSA) AS, untuk mengambil tindakan yang diperlukan terkait protokol awal untuk pengalihan kekuasaan ke Biden.

Murphy juga menulis dalam sebuah surat bahwa Biden akan memiliki akses ke sumber daya federal dan layanan untuk memfasilitasi transfer kekuasaan.

Persetujuan Trump datang setelah pejabat pemilu Michigan mengonfirmasi kemenangan calon dari Partai Demokrat Joe Biden di negara bagian itu dengan 154.000 suara, dan Biden mengumumkan tim keamanan nasionalnya beberapa jam sebelumnya.

Tim Hukum Trump Kalah di Pengadilan

Tim hukum Presiden Donald Trump mengalami kekalahan lagi di pengadilan hari Jumat (27/11) ketika pengadilan banding federal di Philadelphia secara tegas menolak gugatan pemilu yang diajukannya.

Pengacara Trump berjanji untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung meskipun hakim menilai bahwa klaim kampanye tidak berguna.

Kasus itu telah diperdebatkan minggu lalu di pengadilan yang lebih rendah oleh pengacara Trump Rudy Giuliani, yang bersikeras saat memberikan argumen secara lisan selama lima jam bahwa pemilu presiden 2020 telah dirusak oleh penipuan yang meluas di Pennsylvania. Namun Giuliani gagal memberikan bukti nyata di pengadilan.

 

Mike Pompeo

 

Pompeo: Peralihan Kekuasaan Sudah Dimulai di Deplu AS

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan, Departemen Luar Negeri Amerika sudah memulai proses transisi kekuasaan.

Pasca pengumuman Gedung Putih terkait dimulainya proses peralihan kekuasaan ke Joe Biden, Menlu Amerika Mike Pompeo mengatakan proses peralihan kekuasaan di lembaga yang dipimpinnya sudah dimulai.

 Dalam wawancara dengan Fox News, Pompeo menuturkan, hari ini proses peralihan kekuasaan sudah kami mulai, dan semua pekerjaan yang ditetapkan konstitusi juga akan kami laksanakan.

 Presiden Amerika Donald Trump di akun Twitternya mengatakan upaya hukum untuk menindaklanjuti gugatan pemilu presiden Amerika terus dilakukan, namun demi kebaikan Amerika, ia meminta petugasnya untuk melakukan semua yang diperlukan sesuai protokol awal proses peralihan kekuasaan.

Pengadilan Banding Sirkuit ke-3 AS itu menyebut keputusan itu dibenarkan. Ketiga hakim di panel itu semuanya ditunjuk oleh presiden dari Partai Republik, termasuk Bibas, mantan profesor hukum Universitas Pennsylvania yang ditunjuk oleh Trump. Adik Trump, Hakim Maryanne Trump Barry, duduk di pengadilan selama 20 tahun yang pensiun pada 2019.

 

 

Elliott Abrams

 

Dituduh Bantu Iran, Perusahaan Rusia dan Cina akan Disanksi oleh AS

Utusan Khusus AS Urusan Iran, Elliott Abrams mengatakan pemerintah AS akan menjatuhkan sanksi baru terhadap perusahaan yang berurusan dengan program pertahanan Iran.

Abrams dalam sebuah pidato virtual di Beirut Institute, menuturkan AS berencana memasukkan empat entitas Rusia dan Cina ke dalam daftar sanksi karena hubungan mereka dengan program rudal Iran.

"Washington akan terus menjatuhkan sanksi terhadap Tehran dan mengintensifkan tekanan terhadap negara itu dalam beberapa minggu mendatang," ujarnya.

"Kebijakan kami akan tetap sama hingga 20 Januari 2021," kata Abrams.

Abrams sebelum ini juga mengatakan bahwa AS berniat menjatuhkan lebih banyak sanksi terhadap Iran menjelang berakhirnya masa pemerintahan Trump.

Pemerintah AS keluar dari perjanjian nuklir JCPOA pada 2018 dan memulihkan sanksi-sanksi yang ditangguhkan berdasarkan perjanjian ini, di samping menerapkan sanksi baru terhadap Iran.

 

CIA

 

Seorang Perwira CIA Tewas di Somalia

Surat kabar Amerika Serikat mengabarkan tewasnya salah satu perwira dinas intelijen pusat Amerika, CIA di Somalia. Peristiwa ini terjadi pekan lalu namun baru dipublikasikan sekarang.

Surat kabar New York Times mengabarkan tewasnya seorang perwira CIA di Somalia.

Identitas perwira CIA ini masih dirahasiakan, dan berita bahwa minggu lalu ia terluka dalam sebuah kontak senjara di Somalia, tidak dipublikasikan, tapi kabar yang tersiar menyatakan, perwira ini merupakan salah satu mantan anggota pasukan elit Angkatan Laut Amerika, SEAL Team 6.

Sebagian sumber mengklaim ia tewas dalam kontak senjata dengan kelompok teroris Al Shabab. Bahkan sumber lain menyebutkan insiden terjadi bersamaan dengan keputusan Amerika menarik pasukannya dari Somalia.

Menurut sumber tersebut, pasca Amerika memutuskan menarik pasukan dari Somalia, aksi teror Al Shabab semakin meningkat.

 

Pasukan AS di Afghanistan

Anggota Kongres: AS Pecundang Terbesar di Afghanistan

Anggota Kongres AS, Matt Gaetz menyebut Amerika Serikat sebagai pecundang terbesar di Afghanistan.

Gaetz dalam sebuah pidato pada hari Jumat (20/11/2020) mengatakan kerusakan di Afghanistan tidak dapat diatasi dan perang di negara itu tidak membawa kemenangan.

"Pecundang terbesar di Afghanistan adalah negara yang bertahan paling lama. Ini menjadi perang terlama dalam sejarah Amerika. Bangsa kita sudah lelah karenanya," tegasnya.

"Kami meninggalkan Afghanistan setelah 19 tahun dan kami tidak mencapai apa-apa selain keluar dari negara tersebut," ungkap Gaetz.

Anggota Kongres AS ini lebih lanjut menyatakan bahwa tujuan pengerahan 2.500 pasukan di Afghanistan sebagai masalah politik.

AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan pada tahun 2001 dengan dalih memerangi terorisme dan menciptakan keamanan, tetapi kekacauan, terorisme, dan produksi opium di Afghanistan meningkat secara signifikan sejak masa itu.(PH)