Ketika Dunia Protes Unilateralisme di Akses Vaksin Corona
Amerika Serikat setelah keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA pada Mei 2018, dalam koridor kampanye represi maksimum, telah menjatuhkan sanksi paling berat dan sepihak terhadap Republik Islam Iran. Bahkan sanksi ini pun di era pandemi Corona masih tetap berlanjut. Hal ini telah memicu kritik dan protes berbagai lembaga internasional dan bahkan sejumlah negara dunia.
Munir Akram, ketua Dewan Ekonomi-Sosial PBB Rabu (16/12/2020) menyatakan kekhawatirannya atas aksi sepihak Amerika terhadap Iran dan sejumlah negara dengan mempersulit mereka mengakses vaksin Corona. Ia mengatakan, vaksin ini harus diserahkan sepada seluruh rakyat dunia.
Tehran berulang kali menyatakan bahwa langkah permusuhan dan sepihak Amerika terhadap rakyat Iran membuat negara ini di era pandemi Corona menghadapi kesulitan mengakses obat-obatan dan peralatan medis yang dibutuhkan. Masalah ini kini juga membuat Iran kesulitan membeli vaksin Corona di saat sejumlah negara berlomba-lomba memproduksi besar-besaran vaksin ini.
Kondisi ini telah menciptakan kekhawatiran serius, meski petinggi Iran menekankan negara ini berusaha keras memproduksi sendiri vaksin ini. Sejak pandemi Corona mulai di Iran, Tehran dan berbagai negara seperti Rusia, Cina dan Venezuela berulang kali meminta PBB untuk menekan Amerika menurunkan represi sanksinya terhadap Iran untuk mempermudah impor obat-obatan dan peralatan medis demi melawan wabah Corona.
Presiden Rusia Vladimir Putin di pidato tahunannya seraya mengisyaratkan langkah sepihak Amerika terhadap negara-negara dunia seperti Iran mengatakan, “Sanksi dan pembatasan perdagangan terhadap berbagai negara yang menghadapi kesulitan dalam melawan Corona harus dicabut.”
Tuntutan ini bahkan mendapat dukungan dari mitra Eropa Washington. Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, akhir April 2020 meminta Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali penentangannya terhadap pelonggaran sanksi anti-Iran setelah krisis epidemi Corona. Anggota Parlemen Eropa pada Rabu juga mengecam sanksi AS yang melarang perusahaan Eropa berdagang dengan negara lain, termasuk Iran khususnya di bidang farmasi dan peralatan medis.
Namun demikian Washington seraya mengabaikan permintaan ini, bukan saja tidak mengambil tindakan dalam hal ini, tetapi sekarang berbicara tentang peningkatan sanksi terhadap Iran. Elliott Abrams, utusan khusus pemerintah AS untuk Iran, menekankan bahwa tekanan terhadap Iran tidak pernah lebih besar seperti saat ini, Kami akan melanjutkan tekanan ini dan mengintensifkannya.
Dengan demikian, jelas bahwa meskipun situasi tidak menguntungkan yang disebabkan oleh epidemi Corona di Iran dan perlunya tindakan lebih lanjut di bidang ini, termasuk impor obat-obatan dan peralatan medis yang diperlukan, tetapi Washington, yang secara eksplisit berbicara tentang pengetatan sanksi lebih lanjut terhadap Iran, Ini bukan masalahnya, tetapi AS ingin menggunakan situasi ini untuk meningkatkan tekanan pada bangsa Iran.
Seyed Ahmad Fateminejad, dosen ilmu politik mengatakan, “Pasien menjadi korban utama sanksi Amerika terhadap Iran, oleh karena itu kedalaman tragedi kemanusiaan yang terbentuk akibat sanksi zalim Washington harus disampaikan kepada dunia dan masyarakat internasional harus menyadarinya.”
Berlanjutnya sanksi zalim Amerika terhadap Iran bersamaan dengan pandemi Corona serta penerapan beragam pembatasan oleh Washington di bidang akses terhadap produk dan peralatan mendasar untuk melawan Corona secara praktis membuat isu represi maksimum AS terhadap sistem kesehatan Iran digulirkan.
Kini pemerintahan Donald Trump, selain menerapkan terorisme ekonomi terhadap bangsa Iran, juga meluncurkan terorisme medis. Seiring dengan berlanjutnya proses ini, Amerika telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Menurut Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, langkah permusuhan dalam melawan Corona adalah terorisme ekonomi dan medis. (MF)