AS Tinjauan dari Dalam; 2 Januari 2021
https://parstoday.ir/id/news/world-i88909-as_tinjauan_dari_dalam_2_januari_2021
Mengawali tahun baru 2021, inilah perkembangan di Amerika Serikat selama sepekan terakhir. Di antaranya petualang baru AS di kawasan Teluk Persia dan pengiriman pesawat pembom B52.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 02, 2021 14:03 Asia/Jakarta
  • Pesawat Pembom B52 Amerika Serikat
    Pesawat Pembom B52 Amerika Serikat

Mengawali tahun baru 2021, inilah perkembangan di Amerika Serikat selama sepekan terakhir. Di antaranya petualang baru AS di kawasan Teluk Persia dan pengiriman pesawat pembom B52.

Selain itu, masih ada berita lainnya seperti perkembangan COVID-19 di AS, DRP tolak veto Trump, Majelis Umum PBB Tolak Usul AS soal Kesepakatan Nuklir Iran, Trump salahkan menantunya karena kalah di pilpres, insiden penembakan dan ledakan bom di Amerika serta berbagai peristiwa lainnya.

AS Kirim Pembom B-52 ke Teluk Persia Antisipasi Balasan Iran

Komandan Pusat Komando Militer Amerika Serikat di Asia Barat, CENTCOM, terkait terbangnya dua pesawat pembom negara itu di atas Teluk Persia mengatakan, Amerika tidak ingin berperang dengan Iran.

B-52

Fars News (30/12/2020) melaporkan, Jenderal Kenneth McKenzie, Rabu (30/12) mengonfirmasi terbangnya pesawat pembom Amerika, B-52 di Teluk Persia namun ia menegaskan bahwa Amerika tidak ingin terlibat konfrontasi dengan Iran.

Pesawat pembom Angkatan Udara Amerika, B-52 hari Rabu (30/12) untuk ketiga kalinya dalam 48 jam terakhir terbang di atas Teluk Persia. Pemerintah Amerika mengatakan tujuan penerbangan pesawat pembom B-52 untuk memperingatkan Iran agar tidak melakukan serangan balasan menjelang setahun gugurnya Jenderal Qassem Soleimani.

Komandan CENTCOM menuturkan, Amerika akan terus menempatkan peralatan perang di wilayah-wilayah yang menjadi gugus tugas CENTCOM untuk menantisipasi manuver musuh, dan menunjukkan kesiapan Washington dalam merespon segala bentuk serangan ke Amerika atau kepentingannya.

Ia menegaskan, kami tidak ingin berperang, tapi tidak ada seorangpun yang boleh menyepelekan kemampuan kami dalam melindungi pasukan atau membalas tegas setiap serangan.

Kasus Corona di AS Diperkirakan akan Melonjak

Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 bisa mencapai titik kritis setelah perayaan Natal di Amerika.

"Amerika akan menghadapi lonjakan kasus penularan virus Corona," kata Dokter Anthony Fauci pada Minggu (27/12/2020) seperti dikutip laman Farsnews.

Fauci sebelum ini telah memperingatkan bahwa varian baru virus Corona, yang pertama kali ditemukan di Inggris, mungkin telah menyebar di Amerika.

Data resmi di Amerika menunjukkan bahwa jumlah kasus yang terinfeksi Corona meningkat sekitar 160.000 orang dalam 24 jam terakhir.

Situs Worldometer mencatat bahwa total 160.604 kasus baru virus Corona dilaporkan di semua negara bagian AS selama 24 jam terakhir.

Varian Baru Covid-19 Ditemukan di AS

Gubernur California Gavin Newsom menyatakan bahwa kasus pertama mutasi virus corona telah ditemukan di California Selatan.

Kasus Corona di AS

Varian virus Corona itu dilaporkan pada Selasa (29/12) dari salah seorang pasien yang berasal dari Negara Bagian Colorado.

Gubernur Colorado, Jared Polis, mengumumkan pasien tersebut merupakan pria berumur 20 tahunan dan tidak memiliki riwayat perjalanan luar negeri. Ia mengatakan saat ini pasien tersebut telah diisolasi di wilayah Elbert.

Infeksi terhadap pria itu menandakan kasus varian baru virus corona pertama di AS.

AS masih menjadi negara dengan kasus corona dan kematian tertinggi di dunia. Data yang tercatat di AS saat ini menunjukkan lebih dari 19 juta kasus corona dengan kematian di atas 336 ribu orang.

Majelis Umum PBB Tolak Usul AS soal Kesepakatan Nuklir Iran

Komite ke-5 Majelis Umum PBB menolak usul Amerika Serikat terkait kesepakatan nuklir Iran, JCPOA, sehingga pemerintahan Donald Trump harus menelan kekalahan lain di akhir tahun 2020.

IRIB (31/12/2020) melaporkan, upaya Amerika untuk memasukkan dua klausul tambahan pada anggaran PBB tahun 2021 yang dikhususkan untuk mengaktifkan kembali komite sanksi Iran, ditolak oleh 142 negara, dan akhirnya gagal.

Alasan Amerika menghidupkan kembali klausul ini karena pihaknya sudah keluar dari JCPOA dan dalam pandangan Washington sekarang sudah tidak ada lagi kesepakatan nuklir dengan Iran.

Namun hanya 10 negara yang setuju dengan pendapat Amerika ini, sementara 110 negara menolak, dan 32 negara lainnya abstain.

Deputi Wakil Tetap Iran di PBB, Eshaq Al-e Habib menyebut langkah Amerika tersebut sebagai langkah politis, dan Iran meminta voting.

Ia menegaskan, resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB sudah disahkan, dan JCPOA sudah dikonfirmasi, sehingga seluruh mekanisme sanksi DK PBB terdahulu terhadap Iran sudah dicabut.

DPR AS Tolak Veto Trump

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menolak veto Presiden Donald Trump terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertahanan negara ini.

DPR AS yang dikendalikan partai Demokrat memilih 322 banding 87 untuk menolak veto Trump atas  usulan program pertahanan senilai 740,5 miliar dolar.

Dilaporkan, sebanyak 109 anggota Partai Republik juga berpihak pada Demokrat dalam sidang tersebut.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi mengecam veto Trump dan menilainya sebagai tindakan sembrono, dan memintanya untuk mengakhiri kampanye yang memicu kekacauan.

Sebelumnya pada Rabu (23/12), Trump memveto RUU kebijakan pertahanan nasional. Ia mengeluhkan Undang-undang Otorisasi Pertahanan Nasional yang dinlainya akan membantu Rusia dan Cina.

RUU itu juga menegaskan kenaikan gaji 3 persen untuk pasukan AS dan mengesahkan lebih dari US$740 miliar dalam program dan konstruksi militer.

Trump Salahkan Menantunya atas Kekalahan Pilpres

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyalahkan Jared Kushner, penasihat senior dan menantunya atas kekalahannya dalam pemilu presiden.

Trump dan Kushner

Surat kabar The New Tork Times mengungkapkan bahwa menurut keterangan para pembantu senior Trump, presiden dalam pertemuan di Oval Office Gedung Putih pada 19 Agustus mengatakan, "Saya akan kalah dan ini akan menjadi kesalahan Anda (Jared Kushner).

Dalam pertemuan itu, Trump naik pitam setelah ketua tim jajak pendapat kampanye, Tony Fabrizio melaporkan bahwa penggunaan masker untuk mencegah Covid-19 dapat diterima bahkan di kalangan pendukung Trump.

Kushner mendukung Fabrizio, yang menyebut penggunaan masker sebagai pekerjaan yang mudah.

Donald Trump belum mengakui kekalahannya dari capres Partai Demokrat, Joe Biden, dan mengklaim bahwa pemilu 3 November dicurangi.

Lagi, Aksi Penembakkan Terjadi di AS

Penembakan terbaru terjadi di AS yang menyebabkan sedikitnya tiga orang tewas dan melukai sejumlah lainnya.

Sebanyak tiga orang tewas dan tiga lainnya terluka dalam penembakan yang menargetkan ke sebuah arena boling di Illinois pada Sabtu (26/12) waktu setempat.

Kepolisian Kota Rockford meminta warga untuk menjauh dari kawasan arena boling Don Carter Lanes, karena lokasi tersebut  dalam situasi aktif dan petugas sedang menangani situasi itu.

"Ini masih penyelidikan yang sedang berlangsung. Kami memiliki tiga orang yang dipastikan telah meninggal," kata Kepala Polisi Dan O'Shea hari Sabtu.

Ia mengatakan tiga warga lainnya terluka akibat tembakan dan sedang dirawat di rumah sakit setempat.

Ribuan orang terbunuh atau terluka setiap tahun dalam penembakan di seluruh Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan resmi, ada sekitar 270 hingga 300 juta senjata api di Amerika Serikat

CNN: Ledakan Nashville Bom Bunuh Diri

Media AS, CNN menyebut ledakan terbaru di kota Nashville, negara bagian Tennessee kemungkinan aksi bunuh diri.

CNN mengutip pernyataan penyidik FBI yang melakukan investigasi terhadap ledakan mobil karavan yang terjadi pada Jumat (25/12) dan menilai  ledakan ini sebagai bom bunuh diri.

Ledakan diduga kuat berasal dari sebuah mobil karavan yang diparkir di depan gedung kantor perwakilan perusahaan telekomunikasi AS, AT&T.

Mobil karavan itu meledak pada pukul 06.30 waktu setempat ketika tim penjinak bom akan dikerahkan.

Dampak ledakan merusak 41 bangunan dan pertokoan di sekitar lokasi.

Dilaporkan, setidaknya tiga orang terluka dalam insiden tersebut.

Bolton Akui AS Rentan Serangan Cyber

Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat mengakui serangan siber terbaru menunjukkan betapa rentan negara ini.

John Bolton

John Bolton saat diwawancarai Televisi CNN terkait serangan siber terbaru ke lembaga pemerintah negara ini mengatakan, serangan ini mengindikasikan betapa Amerika Serikat sangat rentan terhadap serangan seperti ini.

John Bolton setelah ada klaim serangan ke lembaga Amerika, seperti biasanya mengkritik Moskow padahal ia tidak memberi data atau bukti apa pun.

Reuters pekan lalu mengklaim bahwa sebuah kelompok hacker dengan dukungan sebuah pemerintah asing melakukan pencurian data Departemen Keuangan AS dan sebuah organisasi AS yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan kebijakan internet dan komunikasi.

Sekaitan dengan ini, Koran Washington Post mengklaim bahwa serangan cyber ke Departemen Keuangan AS dilakukan hacker Rusia.

Koran ini mengklaim bahwa hacker Rusia berada di balik serangan siber ini.