Tintin dan Sinbad, Pertarungan Budaya Timur dan Barat
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i18850-tintin_dan_sinbad_pertarungan_budaya_timur_dan_barat
Mohammad Mir Kiyani, adalah seorang penulis Iran ternama di bidang sastra anak-anak dan remaja. Laki-laki berusia 58 tahun ini telah menulis banyak buku untuk anak-anak dan remaja. Dia juga telah menggarap banyak drama radio atau program radio untuk anak-anak dan remaja.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Aug 27, 2016 10:06 Asia/Jakarta

Mohammad Mir Kiyani, adalah seorang penulis Iran ternama di bidang sastra anak-anak dan remaja. Laki-laki berusia 58 tahun ini telah menulis banyak buku untuk anak-anak dan remaja. Dia juga telah menggarap banyak drama radio atau program radio untuk anak-anak dan remaja.

Karyanya yang memiliki daya tarik luar biasa bagi audiens cilik, telah banyak diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa termasuk bahasa Pakistan dan Jerman. Sebagai contoh, pada tahun 1990 dan 2000, sebuah lembaga internasional di Munich, mencantumkan buku Paper dan Once Upon a Time karya Mir Kiyani dalam list karya-karya baik. Juga buku "Qesseye-ma Masal Shod" atau yang berarti "Kisah Kita Jadi Pepatah"  terbitan tahun 2007 menjadi book of the year di Iran. Total karya Mir Kiyani untuk berbagai tingkatan usia pembaca mencapai 500 judul.

 

Pada tahun 1991, Mir Kiyani menulis buku Tintin dan Sinbad yang menarik perhatian banyak pemerhati. Pada buku ini, dia memperhatikan fenomena baru yang muncul dalam masyarakat serta menyikapi penjajahan tidak langsung atau serangan budaya Barat ke Timur. 

 

Buku Tintin dan Sinbad adalah sebuah karya fiksi yang menggambarkan konfrontasi dua tokoh Tintin dan Sinbad sebagai perwakilan dari budaya Barat dan Timur. Buku ini mengisahkan pertarungan kolosal di belahan bumi Timur dan kisah fiksi Barat dengan menggunakan literatur metaforis dalam bentuk realisme. Pada buku ini, tokoh-tokoh besar seperti Sinbad, Ali Baba dan lain-lain yang kisah mereka telah banyak beredar di negara-negara Timur beserta pesan-pesannya, kini harus berhadapan dengan para pahlawan fiksi Barat. Masing-masing mereka mewakili peradaban Timur dan Barat.

 

Pada buku Tintin dan Sinbad, pembaca akan disuguhi cerita bagaimana para tokoh legenda Timur mengupayakan cara-cara logis dan rasional untuk menghadapi agresi dan invasi para pahlawan fiksi Barat. Dikisahkan pula bagaimana mereka mampu menghadapi kekerasan dan serangan dari Barat dengan kesabaran dan persatuan. Mir Kiyani berusaha menjelaskan sebuah fakta sejarah melalui alur cerita menarik untuk kalangan pembaca remaja. Yaitu kisah-kisah repetitif Barat ke wilayah-wilayah Timur serta penjajahan negara-negara Asia dan Afrika.

 

Tintin adalah adalah karakter komik yang diterbitkan pada 1929 oleh penulis Georges Prosper Remi, seorang penulis asal Belgia. Tintin adalah seorang jurnalis yang ditemani seekor anjing bernama Milo berpetualang ke berbagai negara. Pada buku pertama Tintin berpetualang ke Uni Soviet sebagai perwakilan blok Timur dan di sana dia memahami betapa negara tersebut dipimpin oleh para penguasa kejam dan bodoh. 

 

Setelah publikasi buku pertama yang mendapat sambutan hangat di Barat, kisah petualangan Tintin berlanjut dan bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Karakter Tintin yang suka berpetualang dan dengan gaya rambut yang khas itu, dengan cepat mendapat tempat di hati pembaca di seluruh dunia. Dengan cepat pula Tintin menjadi simbol seorang pemuda Barat yang menarik dan cerdas.

 

Namun dalam buku itu juga digambarkan betapa kasar dan buruknya orang-orang Komunis Soviet, orang-orang kulit hitam AS, suku-suku Kongo dan berbagai etnis di Asia Tenggara. Episode petualangan Tintin menjadi refleksi superioritas budaya dan etnis Barat di hadapan budaya dan etnis lain. Ke mana pun Tintin pergi, dia menyaksikan masyarakat yang menderita dan menghadapi banyak masalah, sama seperti kisah-kisah film AS dan Barat yang tampil sebagai juru selamat.

 

Adapun kisah buku Tintin dan Sinbad berawal ketika sekelompok pahlawan kisah-kisah fiksi Barat yang dipimpin Tintin bergerak menuju wilayah Timur untuk berperang dan menaklukannya. Di sisi lain, Sinbad dan sejumlah tokoh fiksi dari dongeng Timur bangkit untuk melawan serangan tersebut.

 

Ide menarik sang penulis dalam buku Tintin dan Sinbad di balik pertarungan antara para pahlawan dongeng Barat dan Timur, adalah memperkenalkan para pahlawan dongeng Timur yang telah terlupakan untuk para pemuda. Para pahlawan yang selama bertahun-tahun nama mereka tergilas akibat serangan budaya Barat. Para pahlawan dongeng Timur yang terkenal seperti Sinbad, Alibaba, Aladin dan lain-lain, di mana mereka dahulu adalah tokoh-tokoh utama dalam dongeng Timur yang penuh makna dan pesan budaya.

 

Di pihak seberang, Tintin dan kawan-kawannya ingin menang dengan menggunakan segala cara dan sarana. Akan tetapi, Sinbad dan para pahlawan Timur tidak tinggal diam dan bangkit melawan. Tintin dalam upayanya meminta bantuan dari para tokoh seperti Tarzan, Superman, King Kong dan lain-lain.  Namun di akhir cerita, Sinbad dan kelompoknya berhasil mengalahkan serangan musuh dengan menggunakan kemampuan logika dan kepercayaan diri.

 

Buku Tintin dan Sinbad adalah salah satu contoh sukses perspektif sosial seorang seniman yang ingin melestarikan budaya negaranya. Melalui analisa detail soal dampak serangan budaya Barat, Mir Kiyani menyinggung dampak televisi satelit Barat terhadap budaya lokal. Disebutkan dalam buku itu, setelah kekalahan Tintin dan kelompoknya, Sinbad bersama rekan-rekannya tiba di sebuah kota dan kali ini mereka menyadari bahwa musuh akan melancarkan serangan dari udara.

 

Aladin berkata, "Bagaimana cara mereka menyerang dari udara?" Seorang bapak tua menghela nafas dan berkata, "Mereka katakan melalui satelit, industri abad ini. Kali ini mereka menyerang wilayah Timur dari angkasa. Mereka berniat mengubah semua apa yang kita miliki melalui alat ini. Mereka ingin gaya, kehidupan, cara berbicara, berjalan, makanan, pakaian dan semua yang kita miliki sama seperti milik mereka."

 

Membaca buku Tintin dan Sinbad, juga menghadirkan kepuasan tersendiri bagi Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei. Dalam sebuah catatan terkait buku ini, Rahbar menegaskan, "Saya juga selalu menceritakan dongeng-dongeng ini! Sayang sekali banyak yang tidak mempercayainya… sekarang tugas saya lebih ringan! Cukup dengan membagikan buku ini kepada anak-anak."

 

Terkait karyanya ini, Mir Kiyani mengatakan, "Apa yang saya ingin tunjukkan dalam buku ini adalah penekanan Rahbar soal serangan budaya dan yang sekaligus menjadi unek-unek saya juga. Kenyataannya adalah bahwa dunia moderen saat ini sedang mengacu ke arah homogenisasi budaya, dan jika ini berlanjut, akan terjadi penjajahan budaya Barat. Dalam buku ini saya ingin memvisualisasi perlawanan budaya di hadapan homogenisasi budaya untuk para pembaca muda."

 

Ditambahkannya, "Meski sampai sekarang banyak pihak yang terus mengupas lapisan paling luar dari buku Tintin dan Sinbad, yaitu masalah serangan budaya, akan tetapi banyak sisi dan lapisan yang masih terselubung, seperti masalah kebebasan, pertahanan dan perlawanan di hadapan pihak asing. Mengingat berbagai perkembangan dan peristiwa terbaru dunia dan wilayah Timur Tengah, isu-isu tersebut merupakan kunci kelanggengan dan kesegaran kisah dan pesan buku Tintin dan Sinbad."

 

Mir Kiyani  juga mengatakan, "Namun di samping alur cerita, saya juga berusaha untuk menciptakan suasana nyaman bagi para remaja pembaca buku ini. Oleh karena itu saya menawarkan sebuah cerita serius dengan menggunakan literatur kocak sehingga memberikan pengaruh mendalam bagi audiens."

 

Tintin dan Sinbad dalam 25 tahun terakhir, telah dicetak 14 kali. Namun tampaknya perhatian pada pesan-pesan dalam buku tersebut belum dilakukan secara maksimal. Dan kini, bertahun-tahun setelah penerbitannya dan juga ketika serangan budaya Barat mencapai puncaknya, baru terasa pentingnya pesan Rahbar dalam catatan beliau terkait buku Tintin dan Sinbad ini.