Menelisik Perang Pertahanan Suci (1)
Tanggal 31 Shahrivar 1359 Hs, yang bertepatan dengan 22 September 1980 merupakan momentum penting dalam sejarah Iran. Pasalnya, tanggal tersebut merupakan awal dimulainya perang pertahanan suci yang dipaksakan rezim Baath Irak terhadap Iran.
Perang ini merupakan yang terpanjang dalam sejarah perang klasik di abad 20, dan perang terlama setelah perang Vietnam. Setelah delapan tahun berlalu, perang yang menelan korban jiwa dan kerugian material yang besar, akhirnya berakhir bulan Mordad 1367 Hs, yang bertepatan dengan Agustus 1988.
Rezim Saddam dengan penuh percaya diri melancarkan agresi militer terhadap Iran dengan dukungan penuh kekuatan adidaya dunia, dan negara-negara Arab. Betapa tidak, rezim Baath Irak menyerang Iran dengan dukungan 12 batalyon infanteri, 15 batalyon bersenjata, 4.500 tank dan kendaraan angkut militer, 360 unit jet tempur dan 400 helikopter dan berbagai jenis peralatan militer lain yang tercanggih waktu itu. Pertanyaannya, mengapa Saddam memulai serangan tersebut, dan apa targetnya. Lalu, kekuatan mana saja yang mendukung serangan tersebut ?
Rezim Saddam Irak menyerang Iran dengan alasan di permukaan terkait friksi perbatasan.Tapi, masalah sebenarnya bukan itu. Ambisi Saddam menjadikan Irak sebagai negara terkuat dan terbesar di kawasan Timur Tengah dengan segala cara menjadi perhatian kekuatan adidaya seperti AS, yang memiliki permusuhan terhadap Iran. Watak ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Washington untuk mewujudkan kepentingannya di kawasan.
Sejak kemenangan Revolusi Islam di Iran, AS senantiasa mencari cara untuk melemahkan negara itu. Sebab, Iran dipandang sebagai ancaman bagi hegemoni AS di dunia, terutama di Timur Tengah. Zbigniew Kazimierz Brzezinski, penasehat keamanan presiden AS, Jimmy Carter di salah satu tulisannya menuturkan, “Saking pentingnya posisi strategis Iran bagi Barat, AS dengan jalan apapun, bahkan aksi militer harus mencegah Iran tidak lepas,”.
Statemen tersebut disampaikan Brzezinski sebagai reaksi atas kemenangan Revolusi Islam dan berdirinya Republik Islam menggantikan rezim monarki Pahlevi yang selama ini didukung Gedung Putih. Lima bulan sebelum rezim Saddam memulai agresi militer ke Iran, koran New York Times mengungkapkan skenario AS memanfaatkan Irak untuk menyerang Iran. “Sebagian berkeyakinan bahwa perang mendatang dengan negara kuat (Irak) akan memaksa Iran mengubah kebijakannya,” tulis New York Times, April 1980.
Sebelum perang meletus, Brzezinski mengunjungi Irak secara sembunyi-sembunyi. Pada 7 Juni 1980, setelah bertemu dengan Saddam Hussein, Brzezinski dalam sebuah wawancara televisi mengatakan, “Kami tidak melihat ada kontradiksi kepentingan yang signifikan antara AS dan Irak. Kami berkeyakinan bahwa Irak mengambil keputusan independen dan mengharapkan terciptanya keamanan Teluk Persia. Tampaknya, hubungan AS dan Irak tidak melemah,”.
Jauh sebelum Carter menjabat sebagai presiden AS, Richard Nixon menerapkan stategi persaingan politik antara Irak dan Iran di Timur Tengah, dengan mendukung salah satunya yang dipandang bisa mewujudkan kepentingan Gedung Putih. Nixon mengatakan, strategi AS pada dekade 1970 adalah melemahkan Irak yang radikal dengan mendukung Iran. Tapi setelah tahun 1980, AS berbalik dengan mendukung Irak untuk melemahkan Revolusi Islam di Iran. Agresi Irak terhadap Iran dirancang untuk tujuan itu.
Tumbangnya rezim Shah di Iran yang digantikan dengan berdirinya Republik Islam dilihat oleh rezim Saddam sebagai peluang untuk menjadikan Irak sebagai kekuatan terbesar di kawasan. Aksi serupa saat ini djalankan oleh Arab Saudi yang juga didukung oleh AS. Riyadh juga memanfaatkan jatuhnya rezim monarki di Iran untuk mewujudkan ambisinya sebagai kekuatan berpengaruh di kawasan dengan dukungan penuh Washington.
Dengan lampu hijau AS dan dukungan negara-negara Barat dan Arab, rezim Saddam sesumbar bisa menguasai Iran dalam waktu yang relatif singkat. Revolusi Islam yang baru seumur jagung dilihat Irak sebagai kekuatan lemah yang bisa dilumpuhkan dalam hitungan hari. Pasalnya, pasokan persenjataan canggih oleh negara-negara Barat bersama dukungan politiknya terhadap rezim Baath dan sokongan finansial negara-negara Arab menjadikan rezim Saddam semakin besar kepala untuk menjadi penguasa kawasan.
Selain itu, rezim Saddam mengira serangan tersebut akan mendorong munculnya pemberontakan bangsa-bangsa Arab di wilayah selatan Iran dan etnis di Sistan dan Baluchistan, serta Kurdistan di dalam negeri Iran. Sehingga dalam waktu singkat Republik Islam Iran akan terguling. Tapi fakta sejarah tidak mendukung mimpi Saddam tersebut. Republik Islam Iran berdiri tegak hingga kini, bahkan kian hari semakin tegar berkibar. Sebaliknya, Saddam sendiri harus mati secara mengenaskan, dan negaranya menjadi sasaran agresi militer AS.
Agresi militer Irak terhadap Iran tidak hanya didukung oleh AS. Bahkan Washington mengajak negara-negara sekutunya untuk mendukung rezim Saddam menghancurkan Republik Islam Iran dengan mengirimkan pasukannya di Teluk Persia. Akhirnya, dalam waktu kurang dari tiga pekan, kapal perang Perancis, Inggris, Australia dan Kanada sudah berada di samudera India dan memasuki kawasan Timur Tengah dengan jumlah kapal perang mencapai 60 buah. Semua kekuatan tersebut untuk mendukung rezim Saddam menghadapi Iran.
Irak menandatangani kontrak pembelian senjata dengan Inggris senilai satu miliar dolar. Selain itu, Irak membeli jet tempur super Etendard dari Perancis yang mulai dipergunakan dalam operasi udara 1984 terhadap instalasi minyak Iran. Atas prakarsa AS, pada akhir tahun 1981, negara-negara Arab menggelontorkan bantuan finansial bagi Irak untuk membiayai perang tersebut. Kuwait menggelontorkan dana senilai tujuh miliar dolar, Arab Saudi tiga miliar dolar, Uni Emirat Arab satu miliar dolar, dan Qatar 500 juta dolar. Dengan demikian, lengkaplah sudah posisi Irak yang didukung barat dan Arab menghadapi Republik Islam Iran seorang diri.
Para analis politik menilai fenomena tersebut terulang kembali saat ini ketika Gedung Putih mengusulkan penjualan senjata dan alutsista serta pelatihan militer kepada Arab Saudi senilai 115 miliar dolar. Angka tersebut merupakan usulan terbesar sepanjang hubungan 71 tahun Riyadh dan Washington.
musik
Di arena internasional, AS juga berperan mengintervensi Dewan Keamanan PBB demi mendukung rezim Saddam dalam perang dengan Iran. Sepanjang delapan tahun perang pertahanan suci yang dipaksakan Baghdad terhadap Tehran, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan delapan resolusi yang berkaitan dengan “Kondisi antara Iran dan Irak”, dan empat statemen mengenai penggunaan senjata kimia.
Selanjutnya setelah tujuh tahun perang berkecamuk, PBB meminta dibentuknya sebuah delegasi netral untuk menyelidiki siapa yang memulai agresi militer. Tindakan tersebut seharusnya dilakukan di awal meletusnya perang. Tapi kekuatan adidaya menghalanginya. Sebab merekalah sebenarnya yang menyulut perang dengan menggunakan rezim Saddam sebagai boneka.