Imam Khomeini dan Hari Quds Sedunia
Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran menamai Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan sebagai “Hari Quds Sedunia”. Resonansi seruan dukungan terhadap perjuangan Palestina ini setiap tahun semakin menggema di dunia. Hari Quds Sedunia adalah inovasi yang ditelorkan Imam Khomeini untuk menyadarkan umat Islam dan publik dunia terhadap masalah Palestina dan Baitul Maqdis.
Penetapan Hari Quds Sedunia oleh Imam Khomeini menunjukkan pentingnya masalah Palestina sebagai prioritas dunia Islam. Menurut pendiri Republik Islam Iran ini, selama bangsa Palestina belum meraih haknya yang dirampas oleh rezim Zionis, selama itu pula perjuangan melawan rezim Zionis terus dikobarkan, bukan hanya oleh Palestina tapi juga dunia Islam, dan masyarakat dunia yang mencintai keadilan.
Pada 16 Mordad 1358 Hs, yang bertepatan dengan 13 Ramadhan 1399 Hq, bersamaan dengan babak baru kejahatan rezim Zionis terhadap Lebanon, Imam Khomeini dalam salah satu pesannya menetapkan hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan sebagai “Hari Quds Sedunia”.
Terkait hal ini, Imam Khomeini berkata, “Saya menyerukan kepada seluruh umat Islam di dunia dan negara-negara Muslim untuk memutus tangan rezim agresor Zionis, dengan bergabung bersama kaum Muslim di akhir Jumat bulan suci Ramadhan, sebagai bagian dari malam-malam Mulia, Lailatul Qadr; yang ditetapkan sebagai ‘Hari Quds’, sebagai solidaritas Muslim terhadap hak bangsa Muslim, sekaligus aksi menentukan bagi nasib bangsa Palestina”.
Di bagian lain pernyataannya, Imam Khomeini menegaskan urgensi peringatan Hari Quds sedunia, “Hari Quds, sebuah hari Internasional, sebuah hari yang tidak hanya berkaitan dengan Quds saja; tapi lebih dari itu sebagai hari bagi Mustadafin melawan mustakbirin, hari ketika bangsa-bangsa yang berada dalam tekanan lalim AS dan sejenisnya, bangkit menghadapi kekuatan adidaya; hari Quds adalah hari Islam; hari Quds adalah hari untuk menghidupkan Islam dan kitalah yang menghidupkannya, dan menjalankan aturan Islam di negara-negara Muslim; hari Quds hari menyampaikan peringatan kepada adidaya bahwa ‘Islam tidak lagi berada dalam pengaruh kalian, dan melalui sepak terjang destruktif kalian Quds tidak akan bisa dikuasai’, hari Quds adalah hari hidupnya Islam,”.
Pesan dan pandangan Imam Khomeini menunjukkan urgensitas Palestina dan posisinya sebagai prioritas utama dunia Islam. Menurut Imam Khomeini, Quds dan Palestina bukan masalah negara-negara Arab, tapi dunia Islam, bahkan lebih luas lagi sebagai masalah kemanusiaan. Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu untuk menyelamatkan Quds dan Palestina dari cengkeraman rezim agresor Israel.
Lebih dari itu, hari Quds menyuarakan ketertindasan bangsa Palestina menghadapi para penindas Zionis global. Kini, suara perlawanan terhadap Zionis global semakin bergema di seluruh penjuru dunia berkat seruan Imam Khomeini dan inovasinya menetapkan Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan sebagai hari Quds sedunia.
Peran Imam Khomeini dalam menyuarakan pembelaan terhadap bangsa Palestina dan perlawanan terhadap Zionis internasional menjadi perhatian publik dunia, terutama umat Islam dari berbagai bangsa dunia. Nama Imam Khomeini tidak bisa dilepaskan dari perannya membela Palestina. Setiap kali masalah pembebasan Palestina diangkat di forum dunia, nama Imam Khomeini senantiasa disebut.
Pasca kemenangan revolusi Islam Iran, perhatian publik dunia, terutama umat Islam terhadap masalah Palestina semakin tinggi. Semua itu berkat upaya Imam Khomeini dan peran besarnya dalam menyuarakan pembelaan terhadap Palestina, termasuk menetapkan Hari Quds Sedunia, yang diperingati tidak hanya di Iran tapi negara-negara dunia.
Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini mengubah sejarah masalah Palestina, dan dunia menjadi tahu sepak terjang destruktif rezim agresor Israel yang didukung negara-negara barat, terutama AS. Berkat dukungan Imam Khomeini terhadap Palestina, publik dunia mengetahui politik penjarahan yang dilakukan rezim Zionis terhadap bangsa Palestina, yang terus berlanjut secara masif hingga kini.
Tidak diragukan lagi, Revolusi Islam dan perhatian Imam Khomeini atas masalah Palestina memberikan spirit baru terhadap perlawanan yang dilakukan para pejuang Palestina, sekaligus memberikan bukti kepada mereka bahwa muqawama adalah satu-satunya opsi menghadapi rezim agresor Israel.
Perlawanan Imam Khomeini terhadap rezim Zionis Israel telah mengubah geopolitik Timur Tengah demi kepentingan Palestina dibandingkan sebelumnya. Kini, setelah 70 tahun berlalu dari pendudukan Palestina, para pemimpin Zionis dan pendukungnya tidak pernah bisa hidup tenang. Bahkan, seiring semakin kuatnya gerakan muqawama Palestina, posisi mereka kian hari semakin terancam dan eksistensi Israel berada di ujung tanduk.
Gerakan muqawama dalam bentuk intifadha bangsa Palestina memporak-porandakan kalkulasi kekuatan adidaya yang berada di belakang rezim Zionis Israel mengenai dunia Islam. Masjid Al-Aqsa tetap menjadi jantung dunia Islam dan Palestina. Semua ini tidak bisa dilepaskan dari peran penting Imam Khomeini yang menghidupkan masalah al-Quds dan Palestina dalam bentuk seruan Hari Quds Sedunia yang diperingati setiap tahun oleh berbagai bangsa dunia, terutama bangsa-bangsa Muslim.
Sensitivitas yang tinggi dari dunia Islam terhadap masalah Al-Quds dan Palestina menyebabkan AS menangguhkan rencana jahatnya mendukung rezim Zionis menjadikan Baitul Maqdis sebagai ibukota Israel. Bahkan kini, Donald Trump juga menangguhkan rencana pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.
Hingga kini berbagai cara telah ditempuh kelompok-kelompok Palestina untuk membebaskan tanah airnya dari cengkeraman rezim Zionis. Selama ini jalan kompromis justru membentur dinding. Setiap kali perundingan digelar hasilnya justru merugikan bangsa Palestina. Oleh karena itu, bangsa Palestina sadar bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi rezim Zionis adalah muqawama. Faktanya kini, intifadha Quds telah mengubah perimbangan kekuatan. Intifadha Quds melanjutkan keberhasilan intifadha tahun 2000 yang menjamin hak dan cita cita bangsa Palestina.
Pemimpin besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei dalam acara kongres internasional pendukung Palestina yang berlangsung Februari lalu di Tehran menyinggung kegagalan perundingan dengan rezim Zionis. Rahbar berkata,“Kini bangsa Palestina dalam rapornya selama tiga dekade tentang dua model berbeda yang pernah dialaminya; selain opsi kompromi ada model perlawanan patriotik dan berlanjutnya intifadha Quds yang membuahkan hasil besar bagi bangsa Palestina,”.
Pemimpin besar Revolusi Islam Iran di tahun 2000 mengusulkan referendum untuk menentukan nasib bangsa Palestina sebagai sebuah prakarsa yang adil, legal, manusiawi dan sejalan dengan prinsip-prinsip yang diterima di tingkat dunia, terutama piagam PBB.
Ayatullah Khamenei berulangkali menegaskan, “Satu-satunya solusi bagi penyelesaian masalah Palestina, sebagai bangsa sejati Palestina, bukan imigran agresor [Zionis], baik mereka yang berada di dalam Palestina, maupun yang berada di luar Palestina, merekalah yang menentukan sistem pemerintahan di negaranya sendiri. Jika berpijak pada suara sebuah bangsa dari pandangan pihak yang mengklaim sebagai pengusung demokrasi di dunia, bangsa Palestina adalah sebuah bangsa, dan merekalah yang mengambil keputusan sendiri. Rezim agresor [Zionis] yang berkuasa saat ini tidak memiliki sedikit pun hak di wilayah itu; [Zionis] sebuah rezim rekaan, pembohong dan boneka kekuatan lalim. Oleh karena itu, bangsa Palestina tidak boleh mengakui secara resmi rezim [Israel] ini,”.