Pelajaran untuk Para Pecundang Makar Iranphobia
Kegagalan Amerika Serikat dalam sidang istimewa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membahas demonstrasi dan gelombang kerusuhan di Iran, kembali menunjukkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sangat terisolasi dalam strategi kontroversial dan instabilitasnya untuk Iran.
Nikki Haley, Duta Besar AS untuk PBB, setelah gagal dalam skenario rudalnya, sekali lagi mencoba mengangkat isu Iran di Dewan Keamanan PBB dengan harapan membuka pintu tekanan kepada bangsa Iran. Namun, dia kembali gagal dan sidang Dewan berakhir tanpa ada keputusan anti-Iran. Washington, yang menyaksikan dirinya terisolasi di antara sekutunya di Eropa dalam mengupayakan tekanan terkait JCPOA, sebelumnya beranggapan bahwa di bidang hak asasi manusia Eropa akan menyertai AS.
Tak perlu penjelasan lagi bahwa upaya Washington untuk mencari-cari alasan menekan Iran akan terus berlanjut. Alasan-alasan tersebut selalu berubah dari hari ke hari sesuai dengan perkembangan. Tapi jenisnya tetap sama yaitu permusuhan terhadap Revolusi Islam. Sebuah negara yang sangat dibenci di Iran dan memiliki rapor pelanggaran HAM panjang, serta yang membantai ratusan Muslim di Asia Barat, dan bahkan mencatat banyak demonstrasi di dalam negerinya karena isu diskriminasi ras, ekonomi, dan gender itu, sama sekali tidak berhak berbicara soal hak asasi manusia dan mengemukakan klaim apapun dalam hal ini.
Kekuatan Republik Islam Iran, tidak seperti banyak negara lain di kawasan, tidak bergantung pada negara-negara asing, melainkan sebuah kekuatan nasional internal yang diperkuat dengan partisipasi rakyat mendukung pemerintah Islam. Dalam kondisi seperti itu, negara-negara Barat atau Timur tidak memiliki kesempatan untuk merongrong kekuatan nasional Iran atau memanfaatkan atmosfer ketidakpuasan terhadap Iran islami.
Negara-negara yang mencoba memperluas instabilitas di Iran dengan mengirim tim-tim teroris, menyusul partisipasi rakyat, kini menyadari bahwa Iran, bukan Suriah atau Irak yang keamanannya dapat dipengaruhi dengan aksi-aksi semacam itu. Saat ini, mereka harus memikirkan kekalahan regional dan penurunan popularitas mereka di dunia Islam.
Tentu masalah ekonomi dan sumber pendapatan masyarakat adalah fakta yang ditekankan berulang kali oleh Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, dan beliau mengharapkan perhatian pemerintah dalam hal ini.
Rahbar dalam sebuah pertemuan dengan Presiden Iran dan kabinetnya pada tahun lalu, Shahrivar 1395 HS mengatakan: sekarang, masalah ekonomi dan sumber pendapatan masyarakat merupakan isu pertama yang harus dipecahkan negara, dan solusinya bergantung pada implementasi benar dari kebijakan ekonomi muqawama (ekonomi resistensi).
Beliau pada pertemuan dengan Presiden Iran dan kabinetnya pada peringatan Pekan Pemerintah pada tanggal 4 Shahrivar 1396 HS, menyatakan "ekonomi dan mata pencaharian masyarakat" sebagai isu yang terpenting negara ini seraya menyinggung sejumlah data statistik.
Menurut beliau, data statistik yang dipublikasi di sektor ekonomi didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah, namun data statistik tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi masyarakat secara komprehensif, jadi memang ada masalah yang harus diidentifikasi dan diselesaikan. Menurut data statistik tersebut, inflasi telah berkurang hingga di bawah 10 persen, namun apakah daya beli masyarakat dan nilai mata uang nasional juga meningkat dengan volume yang sama?
Tidak diragukan bahwa pengungkapan masalah adalah hak rakyat dan menunjukkan dinamisme masyarakat. Media bebas dan menggelar konsentrasi yang legal juga merupakan hak rakyat untuk mengungkapkan ketidakpuasan mereka.
Namun di sini ada dua isu yang harus dipisahkan. Pertama, antara masalah mata pencaharian dan protes lapisan masyarakat soal berbagai kendala ekonomi dan tentu saja, tuntutan mereka terhadap pemerintah dan pejabat negara sebagai pihak yang berwenang dalam hal ini.
Adapun masalah kedua adalah perspektif pihak luar terhadap masalah-masalah tersebut, seperti yang sebelumnya telah ditunjukkan dengan jelas dalam beberapa waktu lalu oleh Gedung Putih dan Kongres AS. Apa makna di balik sambutan musuh bangsa Iran mulai dari pelibatan kelompok teroris munafikin hingga pernyataan Gedung Putih?
Rangkaian sikap dan perspektif dikte oleh media asing dengan cepat cepat terjun ke kancah dan mereka berusaha mengesankan bahwa protes rakyat Iran bersifat politis dan yang menjadi target adalah pemerintah Islam.
Sekretaris Dewan Penentu Kebijakan Negara Iran menyebut sumber kerusuhan terbaru di Iran adalah pertemuan Erbil di wilayah Kurdistan, Irak. Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Penentu Kebijakan Negara Iran, pada tanggal 6 Januari 2018 terkait kerusuhan terbaru di Iran menuturkan, beberapa bulan lalu di Erbil digelar pertemuan yang dihadiri oleh Michael D'Andrea, Direktur Agen Pusat Misi Iran, CIA, Kepala Kantor Qusay Saddam (putra Saddam Hussein), Hani Tilfa, (saudara istri Saddam Hussein) dan sejumlah perwakilan kelompok teroris Munafikin dan Arab Saudi.
Menurut Rezaei, dalam pertemuan itu, seluruh orang yang hadir sepakat untuk melancarkan operasi anti-Iran pada akhir bulan Desember 2017. Rezaei menambahkan, para peserta pertemuan Erbil sepakat menggunakan internet untuk memulai operasi anti-Iran, dan pada bulan Januari-Februari 2018 akan menciptakan kerusuhan dan mengontrol seluruh kota Iran dari luar.
Sekretaris Dewan Penentu Kebijakan Negara Iran menjelaskan, operasi anti-Iran itu dinamai proyek "Konvergensi Sukses". Mereka, katanya, setelah kerusuhan di Iran meluas, ingin agar senjata-senjata diselundupkan ke negara ini dan beberapa demonstran dibunuh.
Lebih lanjut Rezaei menerangkan, para peserta pertemuan Erbil juga sepakat supaya Amerika meminta PBB mengusut kasus pelanggaran hak asasi manusia di Iran pasca kerusuhan, setelah itu kelompok teroris Munafikin, MKO mulai melakukan aksinya dan mendesak Eropa untuk memboikot Iran.
Akan tetapi, persatuan rakyat Iran dan pemerintah berhasil menggagalkan proyek "Konvergensi Sukses" itu. Rakyat Iran, ketika sadar konspirasi sedang bekerja menyerang negaranya, dengan cepat memisahkan diri dari kelompok perusuh dan menampar keras muka musuh pemerintahan Islam Iran.
Dan sebagaimana dikemukakan Rahbar, semua gerakan yang telah dilakukan musuh dalam 40 tahun terakhir adalah anti-revolusi dan kali ini, rakyat Republik Islam Iran dengan kekuatan penuh juga akan mengatakan kepada Amerika Serikat dan Inggris bahwa mereka kali ini juga tidak mampu dan tidak akan pernah mampu.
Menurut beliau, Revolusi Islam mencerabut musuh dari sisi politik di negara ini dan musuh secara terus menerus menyerang, namun selalu gagal dan tidak mampu memajukan langkahnya disebabkan perlawanan rakyat."
Penting untuk disebutkan bahwa kewaspadaan rakyat Iran tidak diragukan lagi, adalah dukungan terkuat dan paling andal untuk menghadapi krisis dan tantangan. Bangsa Iran berulang kali menunjukkan kewaspadaan dan wawasan politiknya pada masa-masa genting dengan gerakan epik dan kebangkitan mereka, dan telah meningkatkan kekuatan lunaknya melawan ancaman musuh.
Namun perlu ditekankan pula bahwa berdasarkan pengalaman, musuh tidak akan menghentikan upayanya melemahkan Iran, apalagi ketika Iran maju di segala bidang. Faktanya, tanpa patuh pada kekuatan imperialis dan memberikan tebusan apapun, Iran mampu tampil menjadi negara kuat di kawasan. Dengan kapasitas ekonomi yang dimilikinya, Republik Islam dapat menyelesaikan berbagai tantangan seperti pengangguran, berbagai kekurangan dan masalah mata pencaharian masyarakat dan acuan ekonomi Iran bergerak menuju ketahanan ekonomi.