Kunci Kemenangan Revolusi Islam Iran (1)
Kemenangan Revolusi Islam mengakhiri dominasi Amerika Serikat terhadap Iran, dan mengantarkan nasib negara Iran ke jalur baru dengan penuh kehormatan dan kemuliaan. Transformasi besar ini membuat Washington dan sekutunya terlibat dalam rangkaian makar untuk melawan pemerintah revolusioner Iran.
Namun, makar Barat baik pada era perang atau langkah-langkah konfrontatif tidak mampu mengembalikan Iran ke orbit dominasi Barat. Sebagaimana dijelaskan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, besarnya volume ancaman mencerminkan kekuatan Islam, karena jika Republik Islam tidak memiliki kekuatan dan pengaruh besar, maka pihak-pihak yang jahat tidak akan menyusahkan diri mereka seperti ini.
Kini, 39 tahun berlalu sejak Revolusi Islam Iran, dan revolusi ini tetap menjadi daya tarik bangsa-bangsa yang sadar dan menuntut kemerdekaan dan kemuliaan. Noam Chomsky, seorang teoritisian Amerika terkemuka, percaya bahwa permusuhan, ketegangan, serta penentangan Amerika Serikat dan Barat terhadap Iran adalah karena independensi Iran dan penolakan dominasi dan kolonialisme di Barat.
Chomsky mengatakan, "Selama Iran tetap independen dan tidak tunduk pada dominasi Amerika, permusuhan dan permusuhan Amerika akan berlanjut, Republik Islam Iran tidak dapat diterima di Amerika Serikat karena menolak melepaskan kemerdekaannya."
Republik Islam Iran mempresentasikan revolusi politik Islam pertama yang sukses di dunia guna membantu umat Islam dan agar rakyat tertindas di seluruh dunia dapat memanfaatkannya.
Sekretaris Dewan Kebangkitan Islam pada sidang ke-10 dewan ini di Tehran, mengatakan, "... Hari ini, dengan berkah Islam dan nilai-nilai Islam, kebangkitan Islam dengan jelas sedang menghadapi ujian besar di kawasan. Teriakan protes dan kebencian terhadap imperialis dan arogansi dunia merupakan hasil pertama dan tercepat dari kebangkitan Islam di kawasan. Kembali kepada diri sendiri dan prinsip Islam murni Nabi Muhammad Saw, adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah kawasan, dimana mata kaum serakah sedang mengincarnya dan selama berapa tahun sedang menjadi ajang kepentingan Barat-Arab-Zionis dengan menggunakan sarana Takfiri."
Selain pengaruh mendalamnya pada hubungan sosial dan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat Iran, Revolusi Islam juga menimbulkan guncangan besar pada sistem internasional, serta menjadi tantangan bagi parameter tidak adil dalam hubungan internasional dan sistem global.
Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "... Sistem hegemoni berarti sistem bipolar global, dimana satu kutubnya adalah pelaku hegemoni dan di sisi lain adalah pematuh hegemoni." Dalam sebuah pidatonya pada acara pelantikan Presiden Iran ke-12, Rahbar mengatakan, "... generasi baru dan pemuda negara ini belum pernah melihat era pra-revolusi, namun peran rakyat di pemerintahan merupakan capaian besar di mana Imam Khomeini mampu membangkitkan gerakan massal rakyat, mengakhiri pemerintahan monarki dan warisan serta intervensi pihak asing selama berabad-abad, serta mengubah haluan perjalanan negara dan bangsa."
Menyinggung pada berbagai tipu daya selama beberapa tahun terakhir, Rahbar menambahkan, "... Pada tahun-tahun itu, beberapa kelompok termasuk pejabat AS saat ini, secara gamblang menentang bangsa Iran, dan berbagai tipuan muslihat seperti pisau di balik sarung tangan beludru, tapi semua itu justru meningkatkan kepercayaan rakyat dan para pejabat serta menemukan cara untuk mengatasi intrik musuh."
Kemenangan Revolusi Islam Iran karena berbagai faktor membuat kekuatan arogan dunia kelabakan. Revolusi ini menunjukkan bahwa sebuah negara, bahkan dengan tangan kosong sekali pun, dapat menjadi sumber perubahan besar bahkan dalam perimbangan dan transformasi kekuatan global.
Manuchehr Mohammadi, seorang analis regional di Dewan Direktur LSM Politik Islam Universitas Azad Islami, menilai Republik Islam sebagai sebuah pemerintahan ideologis, telah menempatkan anti-imperialisme sebagai prioritas kinerjanya. Amerika mencoba menghapusnya sejak awal Revolusi Islam. Telah digunakan 17 makar anti-Iran sejak awal revolusi, tiga kudeta, lima konflik etnis, pengerahan empat kelompok teroris yang dibentuk untuk membunuh pejabat, dua perang, dan tiga makar utama terhadap Iran.
Terlepas dari konspirasi ini, perkembangan di wilayah Timur Tengah sekarang berporos pada perlawanan rakyat, dan dampak dari perubahan pendekatan ini dapat dilihat pada kegagalan beruntun Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.
Persatuan Rakyat dan Kepemimpinan Imam Khomeini
Persatuan adalah faktor terpenting dalam kemenangan Revolusi Islam, yang berhasil mengalahkan rezim terkuat di kawasan kala itu dalam waktu singkat. Ini dapat dilihat dari pernyataan Imam Khomeini, yang menyatakan bahwa faktor terpenting dalam keberhasilan Revolusi Islam Iran adalah "transformasi ilahi."
Beliau menegaskan, "Bangsa Islam telah bangkit dengan segenap kekuatannya untuk membela Islam dan menghancurkan warisan rezim musuh Islam yang dibentuk Shah. Bangsa ini, sebagaimana yang disaksikan dunia, siap berkorban di jalan membela iman dalam Islam dan mempertahankan kemenangannya. Bangsa ini memiliki kehendak dan kami yakin bahwa perjuangan yang dilakukan bangsa akan berakhir dengan kemenangan dan kekalahan musuh."
Persatuan kata dan iman dapat menjadi rahasia kemenangan setiap bangsa. Rahasia kemenangan Revolusi Islam adalah persatuan di semua bidang dan pilar pemerintah serta dalam masyarakat. Dalam hal ini, Ayatullah Khamenei menjelaskan, "Faktor intelektual dan dua faktor manusia dibutuhkan untuk membentuk sebuah revolusi. Unsur intelektual adalah ideologi dimana revolusi didasarkan padanya, sementara unsur manusia adalah pertama umat dan lainnya adalah pemimpin, dan ketika tiga faktor ini berkumpul dan memiliki orientasi yang sama, maka revolusi akan terbentuk."
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menyinggung faktor lain dalam Revolusi Islam, yaitu kapabilitas kepemimpinan Imam Khomeini seraya menjelaskan, Imam dengan semua kualitas yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin religius dan ilahi, mengendalikan Revolusi Islam dan menunjukkan bimbingan beliau kepada dunia. Seorang teoritisian Perancis, Michel Foucault, yang belajar banyak tentang revolusi dunia, termasuk Revolusi Perancis, melakukan perjalanan ke Iran di tengah-tengah Revolusi Islam bergulir.
Ketika dia sampai di Iran dan melihat kekuatan kepemimpinan Imam Khomeini dan peran besar rakyat dalam transformasi, dia mengatakan, "Sosok Ayatullah Khomeini adalah pribadi legendaris dan karismatik yang tidak dapat dilihat padanannya dalam revolusi mana pun. Karena dia memiliki hubungan emosional yang dalam dengan masyarakat, dan tidak ada pemimpin pemerintahan atau pemimpin politik, bahkan dengan dukungan semua media di dunia, yang dapat mengklaim bahwa dia memiliki posisi seperti Imam Khomeini."
Sejarah Revolusi Islam menunjukkan bahwa bangsa Iran, dengan kesatuan dan kekompakannya, telah mengalahkan semua konspirasi musuh selama 40 tahun terakhir, dan rahasia kesuksesannya ada pada persatuan ini.
Ayatullah Khamenei menegaskan, "Amerika geram, sangat geram. Karena apa mereka geram? Mereka geram bukan hanya kepada saya saja melainkan terhadap bangsa Iran, terhadap pemerintah Iran, terhadap revolusi Iran. Mengapa? Karena kalah, dia kalah menggapai langkah besar ini."
Ditambahkan beliau, "...... tujuan akhir mereka sudah jelas, tentu saja, pemerintah Amerika tidak mengungkapnya, akan tetapi tujuan mereka adalah menggulingkan Republik Islam .... sekarang mereka secara terang-terangan dan tanpa basa-basi mengatakan hal yang sama, mereka mengatakan bahwa kita harus menggulingkan Republik Islam. Inilah tujuan mereka. Namun sejarah revolusi bangsa Iran menunjukkan bahwa apa yang membuat nama Iran islami menggema ke seantero dunia dan mengubahnya menjadi teladan universal, adalah persatuan dan kekompakan serta gerakan menuju realisasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam yang murni. Pemerintah Republik Islam bukan hanya meneladani persatuan bangsa Iran, melainkan juga bergerak mengupayakan persatuan dunia Islam."
Rahbar mengatakan, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menjelaskan, jika terjalin persatuan di antara bangsa-bangsa dan pemerintahan Islam, maka AS dan rezim Zionis Israel tidak akan mampu memaksakan keinginan mereka terhadap umat Islam Rahbar menilai persatuan sebagai kesiapan terpenting yang diperlukan oleh dunia Islam.