Kunci Kemenangan Revolusi Islam Iran (2)
-
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei di pertemuan dengan para peserta Konferensi Persatuan Islam ke 31, kembali menekankan pentingnya persatuan dunia Islam dan menilai kepatuhan terhadap ajaran Rasulullah Saw akan menurunkan rahmat Ilahi bagi mereka yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad tersebut.
Menurut Rahbar kepatuhan ini syarat bagi umat Islam untuk lepas dari beragam kendala internal, regional dan global. "Jika dunia Islam ingin terhormat dan memiliki kekuatan, maka mereka harus menjadikan persatuan dan ketahanan sebagai agenda," papar Rahbar.
Sementara itu, Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani saat menyampaikan sambutan di Konferensi Persatuan Islam ke 31 seraya menekankan pentingya persatuan umat Muslim mengatakan, "Kita semua harus berusaha memberi kompensasi selama bertahun-tahun....Salah satu tugas besar kita adalah menyembuhkan luka lama yang diciptakan oleh kubu imperialis dan arogan di antara kita. Dan kini tugas kita untuk memberi perhatian lebih besar akan masalah ini."
Setelah empat dekade dari kemenangan Revolusi Islam Iran, kini negara ini memiliki prestasi besar di berbagai bidang, khususnya sains dan teknologi. Menurut laporan Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) yang dirilis 16 Desember 2016, Iran di dekade terakhir telah melakukan upaya serius memperkuat pendidikan, khususnya di bidang ilmu-ilmu dasar, teknologi, dan teknik.
Menurut laporan Indeks Inovasi Global (GII), separuh dari mahasiswa universitas di Iran di tahun 2014 mengambil jurusan teknik. Angka ini lebih tinggi di banding dengan Brazil, Malaysia dan Turki. Sejatinya Iran dari sisi lulusan mahasiswa teknik menempati posisi kedua dunia.
Rahbar saat bertemu dengan ratusan cendikiawan muda Iran menilai kemajuan sains dan teknologi sebagai peluang bagi kekuatan negara dan mengingatkan, "Negara kita, dengan latar belakangnya yang gemilang di bidang sains dan teknologi, namun sangat disayangkan selama era kolonialisme asing, kita terbelakang dan ketinggalan. Oleh karena itu, ketertinggalan ini harus diimbangi."
Dengan bersandar pada kapasitas luar biasa Iran, Ayatullah Khamenei menilai peluang kemajuan sains dan teknologi bagi negara ini terbuka lebar. Seraya mengungkapkan kepuasan atas langkah Iran's National Elites Foundation (INEF) dan asisten presiden bidang sains, Rahbar menambahkan, "Namun begitu kita tidak boleh puas dengan kemajuan saat ini, karena kita masih jauh dari yang diharapkan."
Sejak dilaksanakannya program pembangunan ketiga (tahun 2000), Iran memasuki fase kedua pengembangan teknologi, sains dan inovasi. Dalam hal ini, Iran banyak melakukan upaya untuk mengembangkan infrastruktur seperti sekolah, universitas, laboratorium, Taman Sains dan Teknologi atau Science Techno Park (STP) serta pusat-pusat riset. Jumlah taman sains dan teknologi di Iran pada Oktober 2016 mencapai 39 buah, padahal di tahun 2002, negara ini hanya memiliki satu STP.
Posisi Iran di Indeks Inovasi Global
Laporan Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) terkait peringkat Indeks Inovasi Global antara tahun 2014 hingga 2016, Iran berhasil naik dari peringkat 120 dunia di tahun 2014 ke peringkat 78 dunia di tahun 2016. Dengan demikian selama dua tahun Republik Islam Iran mengalami kenaikan 42 peringkat. Kenaikan ini menunjukkan Iran memiliki kapasitas besar bagi kemajuan dan pembangunan.
Rahbar selama dua tahun llau, seraya mengisyaratkan kemajuan besar di bidang sains yang diraih Iran, khususnya di bidang nano teknologi, sel punca (stem cells) serta energi nuklir mengatakan, prestasi ini bukan ilusi.
Saat bertemu dengan para mahasiswa menekankan, kemajuan besar di bidang sains, seperti nano teknologi, sel punca dan energi nuklir bukan ilusi, tapi sebuah realita yang disadari oleh seluruh dunia. Oleh karena itu, membuat pemuda Iran pesimis dan pengingkaran atas gerakan besar serta laju cepat sains dan teknologi sebuah pengkhianatan terhadap negara dan kehormatan nasional Iran.
Dr. Sorena Sattari, deputi bidang sains dan teknologi presiden Iran serta ketua INEF menilai prioritas saat ini adalah perhatian terhadap sains dan teknologi. Ia mengatakan, Iran membutuhkan ilmuwan dan cendikiawan yang memiliki kepercayaan diri serta giat sehingga mampu mengulang prestasi ilmiah di bidang nano dan bio di sektor lain.
Tak diragukan lagi kekayaan sumber alam seperti minyak, gas dan beragam tambang lainnya, telah menciptakan peluang pertanian dan berbagai peluang lainnya serta beragam kapasitas demi pembangunan dan kemajuan Iran. Yang lebih penting adalah adanya ilmuwan dan cendikiawan kompeten dan komitmen terhadap negara serta teknisi muda yang beriman dan berakhlak mulia serta penuh motivasi telah berulang kali membuktikan kemampuan ilmiah mereka di tingkat dunia serta memberi kemuliaan kepada negara.
Rahbar menilai kemajuan ilmiah sebagai kekuatan negara dan, merujuk pada hadis Imam Ali (as), "Ilmu adalah kekuatan...", seraya menekankan bahwa Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa berdasarkan keunggulan ilmiah dalam periode tententu, mereka menjajah banyak negara selama bertahun-tahun dan merampok bangsa-bangsa.
Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah menulis, "Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Siapa pun yang menguasainya akan menang dan siapa pun yang tidak memiliki kekuatan itu, maka akan dikalahkan orang lain." Ayatullah Khamenei menekankan bahwa kita harus mengejar keterbelakangan sains agar tidak berada di bawah kendali dan kontrol pihak lain.
Beliau mengkritik gagasan bahwa westernisasi adalah satu-satunya cara untuk maju dan mengatakan, "Selama masa pemerintahan Pahlevi, selama 50 tahun, bangsa Iran didefinisikan di bawah Amerika Serikat dan memiliki ketergantungan penuh pada Barat, dan satu-satunya hasil adalah keterbelakangan dan penghancuran kekayaan negara. Sekarang siapa saja yang berpendapat bahwa kemajuan Iran adalah dalam ketergantungan pada Barat, jika dia bukan bodoh dan sengaja mengutarakannya, maka dia adalah pengkhianat negara."
Rahbar menilai penghapusan ketergantungan sebagai langkah awal yang sedang dilakukan dan mengatakan, "Melalui Revolusi Islam, telah terhapus jenis ketergantungan yang terpenting yaitu ketergantungan politik, namun pembebasan dari ketergantungan lain, seperti ilmiah, budaya dan ekonomi, membutuhkan usaha konstan." Beliau menegaskan bahwa kemajuan ilmiah sebagai salah satu elemen kunci agar terbebas dari ketergantungan seraya menekankan bahwa tidak boleh ada hambatan dalam mengacu kemajuan ilmiah dan teknologi oleh institusi terkait, dan anggaran untuk sains dan teknologi tidak boleh dikurangi.
Rahbar juga menyatakan puas dengan kemajuan lembaga intelektual yang baru didirikan dan perusahaan berbasis sains dan mengatakan, meski demikian ini belum cukup dan kemajuan sains harus ditingkatkan ke seluruh negeri sehingga pergantian pemerintah tidak menghentikan atau memperlambat arus kemajuan ilmiah.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menekankan perlunya peningkatan kualitas artikel ilmiah dan penelitian serta hubungannya dengan kebutuhan negara. Beliau menganggap inovasi sebagai salah satu tuntutan industri negara, dimana program montage (perakitan) mencegah inovasi tersebut. Beliau meminta para pejabat merencanakan dalam 10 tahun mendatang, persepektif industri negara berubah dari "perakitan" menjadi "inovasi".
Ayatullah Khamenei menekankan bahwa hanya dalam hal ini, industri akan merasakan kebutuhan akan penelitian intelektual, dan akan terbangun komunikasi konstruktif antara industri dan universitas. Menyinggung kebersamaan budaya dengan teknologi, beliau menekankan urgensi aktivitas budaya yang tepat dan cerdas di lembaga-lembaga intelektual.
Pada bagian lain pidatonya, Rahbar menyinggung hubungan independensi politik dengan kemandirian dan kemajuan ilmiah, seraya menjelaskan, "Kemajuan ilmiah adalah anti-ketergantungan dan itulah sebabnya musuh geram terhadap semangat para pemuda, seperti Anda, dalam menggapai kemajuan ilmiah.”
Rahbar mengatakan, "Jelas bagi semua pengamat internasional bahwa Iran saat ini dengan 40 tahun lalu memiliki perbedaan antara langit dan bumi. Kita adalah negara dan bangsa yang pada peringkat kesekian dan mematuhi perintah ini dan itu; [akan tetapi] sekarang kita adalah sebuah negara berpengaruh dan terus bergerak menuju kekuatan - ilmiah, politik- dan kita sedang bergerak, dan ini sangat nyata. Musuh geram dan marah ... karena mereka telah kehilangan dominasinya atas kepentingan Iran."