Hakim Sabzevari, Filsuf Besar dari Timur
Haj Mulla Hadi Sabzevari, selama bertahun-tahun bekerja keras menghidupkan kembali Filsafat Islam dan Hikmah Muta'aliyah. Dengan memberikan penjelasan, menulis dan menyusun masalah-masalah penting Filsafat, Mulla Hadi Sabzevari telah menjadi lentera penerang bagi Hauzah Ilmiah dan universitas-universitas di Iran juga dunia.
Iran sejak dahulu hingga sekarang berperan penting melahirkan dan menumbuhkan ilmu pengetahuan terutama ilmu humaniora. Samudra pengetahuan Iran dikenal luas, dan hikmah serta filsafat Islam yang tumbuh di Iran, tidak dipungkiri, menempati posisi unggul dan telah berakar lama dalam sejarah filsafat dunia. Filsuf-filsuf Iran, laksana kejora yang terang di langit hikmah dan pemikiran. Filsuf sekaligus arif terkemuka Iran, Haj Mulla Hadi Sabzevari yang dikenal sebagai "Filsuf Besar dari Timur" adalah satu satu bintang itu.
Haj Mulla Hadi Sabzevari atau yang lebih dikenal dengan Hakim Sabzevari, ahli hikmah dan filsuf besar Syiah, dilahirkan tahun 1212 HQ di kota Sabzevar, Iran. Ayahnya Haj Mirza Mahdi adalah salah satu tokoh Mukmin yang dikenal karena ketakwaannya di Sabzevar. Hakim Sabzevari memulai pelajaran dasarnya di kota kelahirannya dan di awal masa remaja, ia belajar tata bahasa Arab, Nahwu dan Sharaf, lalu tidak lama setelah itu ia mulai mempelajari kelas yang lebih tinggi.
Untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Hakim Sabzevari meninggalkan kota kelahirannya menuju Mashhad, dan selama 10 tahun ia menuntut ilmu di Hauzah Ilmiah Mashhad. Selain itu Mulla Hadi Sabzevari juga pernah belajar di Hauzah Ilmiah Isfahan.
Hakim Sabzevari tinggal selama delapan tahun di kota Isfahan. Di Isfahan, Mulla Hadi Sabzevari menuntut ilmu dan makrifat, dan berkat bantuan guru-guru besar ilmu hikmah, ia berhasil membuka jalannya. Pada tahun 1242 HQ, Hakim Sabzevari kembali ke Mashhad untuk mengajar.
Mulla Hadi Sabzevari tidak menciptakan aliran filsafat Islam baru, ia lebih banyak memberikan komentar dan pejelasan terkait konsep filsafat Mulla Abd Al-Razzaq Lahiji dan Mulla Sadra. Namun demikian, bukunya "Manzumah" dan "Sharh Al Manzumah", yang merupakan karya terbaiknya, adalah buku paling lengkap yang membahas filsafat dan logika. Di bagian hikmah bukunya yang ia beri judul "Gurar Al Fara'id", Hakim Sabzevari menuliskan lebih dari 1.000 bait syair hikmah yang membahas masalah-masalah penting filsafat.
Karena bagian ini mengandung konsep-konsep filsafat yang sangat detail dan rumit, maka setelah menyusunnya, Hakim Sabzevari sendiri yang menulis komentar dan penjelasan atas bagian tersebut. Bagian lain dari buku Manzumah memuat penjelasan tentang logika. Bagian ini ia beri judul "Al Aali Al Manzumah".
Di bagian ini, Mulla Hadi Sabzevari menulis sekitar 300 bait syair yang menjelaskan secara terperinci pembahasan logika yang tersusun tertib. Di bagia ini, dengan bahasa Arab fasih ia menjelaskan masalah-masalah ilmu logika.
Lagi-lagi karena syair-syair tersebut terhitung rumit dan detail, maka Hakim Sabzevari sendiri yang memberikan penjelasannya setelah selesai menyusun bagian tersebut. Saat ini, setiap buku Manzumah yang diterbitkan, selalu menyertakan penjelasan itu dengan judul "Sharh Al Aali Al Manzumah".
Toshihiko Izutsu, terkait Hakim Sabzevari mengatakan, Haj Mulla Hadi Sabzevari adalah seorang pemikir yang menulis buku terkenal Manzumah. Semua sepakat bahwa ia adalah filsuf Iran terbesar di abad 19. Di saat yang sama, ia dianggap menduduki derajat pertama di antara guru dan arif terkemuka di zamannya.
Syahid Mothahari terkait Hakim Sabzevari mengatakan, Haj Mulla Hadi Sabzevari adalah salah satu filsuf Islam terkemuka setelah Mulla Sadra dalam tiga atau empat abad terakhir, dia dikenal di seluruh penjuru Iran bahkan di beberapa negara di luar Iran.
Mothahari menambahkan, setiap pencari hikmah dari berbagai wilayah mendatanginya. Kota Sabzevar karena keberadaan Hakim Sabzevari, menjadi kiblat pencari hikmah Ilahi dan markas Hauzah Ilmiah. Ia sangat fasih dan pandai menjelaskan berbagai permasalahan, ia mengajar dengan penuh semangat dan daya tarik. Selain memiliki kedudukan ilmu dan makrifat yang tinggi, Hakim Sabzevari juga dipenuhi cita rasa irfan yang kental. Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, menjaga diri dan pesuluk di jalan Tuhan.
Seluruh keutamaan itu membuatnya dicintai murid-murid. Dari sisi daya tarik diri di hadapan murid-muridnya, Hakim Sabzevari tidak ada duanya. Beberapa murid Hakim Sabzevari setelah empat tahun kematian beliau, bahkan sampai tertegun dan meneteskan air mata ketika mendengar namanya.
Di satu waktu, selesai menunaikan ibadah haji Hakim Sabzevari kembali ke Iran lewat jalur laut dan tiba di pelabuhan Bandar Abbas. Karena jalur itu dikenal tidak aman, maka ia memutuskan untuk menunda perjalanan ke Sabzevar dan tinggal sementara di Kerman. Ia menginap di Madrasah Ma'sumiah Kerman dan berpesan kepada penjaga madrasah untuk tidak memberitahukan identitasnya kepada siapapun.
Para pelajar agama di madrasah itu mengira Hakim Sabzevari sebagai salah satu pelayan madrasah. Oleh karena itu, mereka tidak segan berada di dekatnya sepanjang hari. Mulla Hadi Sabzevari melayani para pelajar agama itu cukup lama, namun seiring berjalannya waktu, identitas beliau akhirnya terungkap juga.
Semua pelajar agama di madrasah itu menyadari bahwa orang yang selama ini melayani mereka adalah tokoh besar dan filsuf terkenal sehingga berbondong-bondong mendatanganinya untuk menimba ilmu darinya. Akhirnya Hakim Sabzevari mengajar di Madrasah Ma'sumieh Kerman untuk beberapa lama.
Mulla Hadi Sabzevari memiliki sebuah kebun anggur yang ditanamnya sendiri dan setiap tahun ketika tiba masa panen, pertama ia membagikan hasil panen itu kepada kaum fakir miskin, lalu ia mengundang sahabat-sahabat dan pelajar agama untuk ikut menikmati hasil panen anggurnya. Hakim Sabzevari hidup dalam kesederhanaan dan penuh kerja keras serta peduli sesama. Ia tak sungkan duduk bersama gelandangan dan fakir miskin, bahkan merasa bahagia. Hidup zuhud dan menjauhi kemewahan.
Nasiruddin Shah, Raja Iran kala itu pernah berkunjung ke Sabzevar dan semua penduduk kota datang menyambutnya, hanya seorang yang tidak datang menyambut sang raja dan ia adalah Mulla Hadi Sabzevari, filsuf dan arif besar. Padahal satu-satunya orang yang ingin ditemui Nasiruddin Shah adalah beliau di Sabzevar. Hingga suatu hari Raja Iran memutuskan untuk mendatangi rumah Mulla Hadi Sabzevari.
Saat bertemu dengan Hakim Sabzevari, Nasiruddin Shah berkata, setiap nikmat harus disyukuri. Bentuk rasa syukur atas nikmat ilmu adalah mengajar dan membimbing masyarakat, menyusukuri nikmat harta adalah membantu sesama, mensyukuri nikmat kekuasaan adalah menjalankan kewajiban, oleh karena itu saya ingin anda meminta apapun yang diperlukan dari saya, sehingga saya bisa menjalankan kewajiban.
Mulla Hadi Sabzevari menjawab, saya tidak membutuhkan apa-apa, saya tidak menginginkan apa-apa. Nasiruddin Shah kembali berkata, saya dengar anda punya sepetak tanah pertanian, izinkan saya perintahkan agar 10 persen pajak tanah itu dicabut.
Hakim Sabzevari menjawab, kantor pajak pemerintah berkewajiban menarik pajak dari setiap kota sesuai dengan yang telah ditetapkan. Asas penarikan pajak itu tidak akan berubah dengan adanya perubahan kecil. Jika di kota ini saya dikecualikan dari pajak, maka biaya tanggungan pajak saya akan dikenakan kepada orang lain, sehingga secara keseluruhan bisa terpenuhi.
Anda tidak akan puas jika pengampunan pajak terhadap saya akan menyulitkan anak yatim dan para janda. Shah Iran mengatakan, saya ingin makan bersama anda dan saya akan makan apa yang sehari-hari anda makan, silahkan perintahkan anak buah saya untuk membawakan makan siang anda.
Hakim Sabzevari menuruti keinginan Shah Iran dan membawa makan siangnya. Makan siang Hakim Sabzevari adalah sekerat roti ditambah satu mangkuk dough dan garam. Kemudian kepada Shah Iran berkata, silahkan makan, roti halal hasil keringat saya sendiri di ladang ini.
Shah Iran menyuapkan satu sendok namun ia merasa tidak biasa dengan makanan seperti itu, menurutnya makanan itu tak layak dimakannya. Lalu meminta izin kepada Hakim Sabzevari untuk membawa sekerat roti sebagai tabarruk dan meninggalkan rumah sang filsuf.
Sepanjang hidupnya, Hakim Sabzevari menghasilkan banyak karya ilmiah yang sampai sekarang, setelah berlalu dua abad sepeninggal beliau, masih digunakan para pelajar dan ilmuwan di bidang filsafat. Bukunya, Manzumah adalah salah satu bukti kepiawaiannya di bidang filsafat dan logika, ditambah keahlian sastra Farsi dan Arabnya.
Manzumah adalah salah satu buku terbaik yang menjelaskan isi buku filsafat paling berbobot di zaman ini yaitu Hikmah Muta'aliyah karya Mulla Sadra. Mulla Hadi Sabzevari meninggal dunia pada 28 Dzul Hijjah 1289 HQ dan dimakamkan di luar kota Sabzevar yang dikenal dengan Gerbang Nishabur atau Falakeh Zand. (HS)