Merayakan Yalda di Masa Pandemi
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i88436-merayakan_yalda_di_masa_pandemi
Salah satu tradisi Persia kuno yang masih lestari hingga kini adalah Malam Yalda.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Des 20, 2020 12:37 Asia/Jakarta
  • Merayakan Yalda di Masa Pandemi

Salah satu tradisi Persia kuno yang masih lestari hingga kini adalah Malam Yalda.

Setiap tanggal 21 Desember atau yang bertepatan dengan 30 Azar dalam penanggalan Persia, orang-orang Iran dan bangsa lain yang mengadopsi tradisi Iran kuno merayakan Malam Yalda. Malam yang dalam bahasa Persia disebut sebagai Shab-e Yalda (Shab-e Cheleh) ini adalah malam pertama musim dingin dan malam terpanjang dalam tahun kalender Hijriyah Syamsiah.

 

 

Yalda adalah istilah Syriac (salah satu rumpun Bahasa Aramic) yang berarti lahir. Menurut keyakinan orang-orang Iran kuno, matahari di malam itu lahir kembali, karena besok malam Yalda akan melihat matahari yang lebih panjang lagi.

Malam Yalda memiliki kedudukan istimewa dalam budaya dan tradisi orang-orang Iran. Perayaan Shab-e Yalda adalah momen besar Persia kuno yang masih ada hingga sekarang.

Abadinya perayaan tersebut menunjukkan ikatan yang tak terpisahkan antara masyarakat Iran sekarang dengan budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Konon sekitar 7.000 tahun silam, nenek moyang bangsa Iran telah menemukan penanggalan matahari hingga akhirnya mengetahui bahwa malam pertama musim dingin adalah malam terpanjang dalam setahun. 

Masyarakat di masa lalu yang menyaksikan pergerakan matahari, bulan, bintang, perubahan musim, pendek dan panjangnya hari dan malam berusaha menyesuaikan aktivitas sehari-hari mereka dengan kondisi tersebut.Para ahli menyebutkan bahwa 500 tahun sebelum Masehi, tradisi Yalda masuk dalam penananggalan Persia secara resmi pada masa Raja Dariush I. Ilmuwan terkemuka Iran seperti Abu Rayhan Biruni menyebut malam Yalda sebagai Melad Akbar, atau kelahiran besar 

 

 

Perayaan Malam Yalda

 

Perayaan Malam Yalda adalah satu-satunya perayaan yang selalu ada dalam budaya masyarakat Iran setelah peringatan Nowruz (perayaan hari pertama musim semi dan awal kalender Iran). Salah satu penyebab tradisi tersebut masih tetap bertahan karena adanya keyakinan agama kuno. Selain itu, awal musim dingin dianggap sebagai berakhirnya aktivitas para petani dan panen serta awal dari masa-masa istirahat mereka. Perayaan Yalda juga menjadi pengingat masa lalu orang-orang Iran.

Selama bertahun-tahun, perayaan Shab-e Yalda digelar di setiap rumah warga Iran. Ikatan emosional yang mendalam dari acara-acara keluarga di Shab-e Cheleh telah berubah menjadi sebuah kenangan abadi yang dipenuhi dengan kebahagiaan.

Sebagian keluarga lebih memilih untuk menghabiskan Malam Yalda dengan membaca dan menelaah al-Quran dan mengambil hikmah dari syair-syair Hafez yang penuh makna.

Hidangan yang disuguhkan di Malam Yalda adalah kacang-kacangan dan buah-buahan terutama semangka. Biasanya,anggota keluarga berusaha menghabiskan Shab-e Yalda bersama orang tua atau mereka yang dituakan dalam keluarga dengan suasana penuh bahagia.

Di Malam Yalda, mayoritas keluarga terlepas dari agama dan aliran yang mereka yakini duduk bersama keluarga mereka di bawah cahaya (api, lilin, atau lampu) dan di depan hidangan khusus dalam perayaan tersebut.

Hidangan itu di banyak daerah di Iran disebut sebagai "Khan Shab Careh" yang biasanya terdiri dari tujuh jenis buah-buahan, terutama semangka dan delima, dan tujuh jenis kacang-kacangan, bahkan terkadang jumlah jenis buah dan kacang-kacangan itu lebih dari tujuh jenis.

 

Selamat merayakan Yalda

 

Namun, perayaan malam Yalda tahun ini berbeda akibat penyebaran Covid-19. Tahun ini, masyarakat Iran dianjurkan menghindari pertemuan banyak orang untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Sayangnya, meskipun diambil langkah pembatasan, tapi data korban meninggal dan jumlah kasus orang yang positif terinfeksi Covid-19 di Iran masih terbilang tinggi.

Oleh karena itu, para ahli kesehatan berulangkali menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak menggelar pertemuan malam Yalda tahun ini dan melakukannya secara virtual. Berbagai cara bisa dilakukan melalui komunikasi virtua seperti menceritakan kisah-kisah inspiratif dari kakek dan nenek kepada para cucunya atau mengupload file video atau audio di dunia maya.  

Di masa pandemi ini, pemerintah dan berbagai komunitas masyarakat mengeglar kampanye dimulai dalam bentuk kontes di jejaring sosial dengan berbagai bentuk dari mendongeng hingga gambar mengenai tradisi perayaan malam Yalda.

 

Pada tahun-tahun sebelumnya, di malam Yalda disarankan agar orang-orang meletakkan ponsel mereka dan menikmati pertemuan keluarga. Tapi tahun ini sebaliknya, orang-orang disarankan agar melakukan pembatasan pertemuan dengan menggelar perayaan malam Yalda melalui media virtual. Seperti merahnya delima dan semangka yang menyembulkan harapan, kita berdoa bersama semoga pandemi Covid-19 segera berakhir, serta kedamaian dan kebahagiaan terwujud di dunia ini.(PH)