Apr 19, 2023 12:48 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 19 April 2023

Hari ini, Rabu, 19 April 2023 bertepatan dengan 28 Ramadan 1444 Hijriah Qamariah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 30 Farvardin 1402 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini.

Abu Mash’ar Balkhi Wafat

 

Tanggal 28 Ramadan 272 HQ, Abu Mash'ar Balkhi, ahli astronomi dan ahli ilmu hadis asal Iran, meninggal dunia .

 

Abu Mash'ar pada awal abad ke-3 Hijriah pergi ke Bagdad untuk mempelajari ilmu astronomi dan di sana ia mempelajari berbagai sumber ilmu dalam bahasa Yunani, Suryani, India, dan Arab.

 

Dalam pandangan Abu Mash'ar, segala fenomena di alam ini, termasuk astronomi, bersumber dari Tuhan. Di antara karya-karya  Abu Mash'ar berjudul "al-Madkhal al-Kabir" dan "al-Mawalid as-Shagirah".

 

Sayid Said Vatan Pour Gugur Syahid

 

Tanggal 30 Farvardin 1366 HS, Sayid Said Vatan Pour gugur syahid ketika ikut dalam operasi yang digelar Batalion Karbala-10 dalam Perang Pertahanan Suci.

 

Syahid Sayid Said Vatan Pour dilahirkan di kota Isfahan, Iran bagian tengah. Sejak masa kanak-kanak, ia senantiasa berusaha untuk tidak meninggalkan shalat meski belum mencapai usia baligh. Kedua orang tuanya sengaja tidak membangunkan Syahid Vatan Pour untuk shalat subuh, akan tetapi dia mengiba kepada mereka agar dibangunkan di subuh hari.

 

Setelah melihat kesungguhan hatinya, akhirnya mereka membangunkan Syahid Vatan Pour selama beberapa hari untuk shalat subuh, setelah itu dia selalu menunaikan shalat subuh tanpa perlu dibangunkan lagi.

 

Sejak usia remaja, Syahid Vatan Pour aktif melakukan amr makruf dan nahi munkar dengan tutur kata yang lembut. Dalam hal ibadah, dia menjadi teladan bagi saudara dan tetangganya. Di bidang pendidikan, Syahid Vatan Pour selalu meraih rangking pertama semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMA.

 

Inggris Mundur dari Iskandariah

 

Tanggal 19 April tahun 1807, menyusul kekalahan yang dialami tentara Inggris dalam melawan pasukan Mesir, tentara Inggris akhirnya terpaksa mundur dari pelabuhan Iskandariah.

 

Pemerintah Inggris yang saat itu berencana untuk memperluas kawasan penjajahannya, memutuskan untuk menaklukkan Mesir yang ketika itu merupakan bagian dari wilayah Imperium Ottoman.

 

Dengan cara ini, Inggris berharap bisa menundukkan Imperium Ottoman.

 

Pada awal pertempuran, Iskandariah sempat diduduki oleh tentara Inggris, namun Muhammad Ali Pasha, pemimpin Mesir saat itu, dengan bantuan dari rakyat dan ulama yang mengeluarkan fatwa jihad, berusaha keras mempertahankan Mesir.

 

Kaum muslim Mesir dengan gigih berjuang melawan tentara Inggris yang memiliki persenjataan yang lebih lengkap dan modern sehingga akhirnya tentara Inggris mundur dan meninggalkan Mesir.