Lintasan Sejarah 5 Juni 2023
Hari ini, Senin, 5 Juni 2023 bertepatan dengan 16 Dzulqa'dah 1444 H dan menurut kalender nasional Iran adalah tanggal 15 Khordad 1402 HS. Berikut ini adalah sejumlah peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini.
Rashid Al-Din bin Muhammad Al-Watwat Meninggal Dunia
Tanggal 16 Dzulqadah 573 HQ, Rashid al-Din al-Watwat meninggal dunia pada usia 93 tahun.
Rashid al-Din bin Muhammad bin al Djalil al-Umari yang lebih dikenal dengan Rashid al-Din al-Watwat lahir pada tahun 480 Hq di kota Balkh. Rashid al-Din masih keturunan dari Khalifah Umar bin Khattab.
Ia memulai pendidikannya di Madrasah Nizhamiah, Balkh dam berguru kepada Abu Saad al-Harawi. Setelah menguasai bahasa Persia dan Arab, Rashid al-Din kemudian pindah ke kota Kharazm. Kharazm waktu itu dipimpin oleh Abu al-Muzhaffar Alaa al-Daulah. Di awal masa pemerintahannya, Rashid al-Din al-Watwat mengabdi padanya hingga akhir hayatnya.
Rashid al-Din al-Watwat menguasai dua bahasa Arab dan Persia dengan sangat baik yang membuat ia disebut sebagai Dzul Lisanain (yang menguasai dua bahasa). Al-Watwat diakui kemampuannya dalam memilih kata dan menyusunnya dengan indah baik dalam bahasa Persia maupun bahasa Arab. Karya-karyanya antara lain, "Diwan Asy'ar Parsi", "Rasail al-Arabi", "Hadaiq al-Sahar fi Daqaiq al-Syi'r", "Mansyaat Farsi" dan lain-lain.
Penangkapan Imam Khomeini ra dan Demonstrasi Rakyat Iran
Tanggal 15 Khordad 1342 HS, rezim Shah Pahlevi menangkap Imam Khomeini ra yang berujung pada kemarahan rakyat dan Shah dengan bantuan Amerika membantai rakyat Iran. Pada hari itu dikenal sebagai kebangkitan rakyat Iran menentang Shah.
Menyusul diusulkannya draf negara federal di Majlis Dewan Nasional pada 1341 HS, Imam Khomeini ra memulai perjuangannya melawan rezim despotik Shah Pahlevi. Puncak perjuangan ini terjadi ketika pasukan rezim Pahlevi pada 2 Farvardin 1342 HS menyerang Madrasah Feizieh, Qom yang mengakibatkan para pelajar agama dan ulama yang berada di sana cedera dan gugur syahid. Mereaksi perbuatan terkutuk rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra pada hari Asyura tahun 1342 HS menyampaikan pidato historis menentang rezim Shah Pahlevi dan Israel.
Akibat pidato yang membongkar konspirasi rezim Shah dan Israel, pasukan keamanan rezim menahan Imam Khomeini ra. Berita penahanan Imam Khomeini ra oleh pasukan Shah, dengan cepat menyebar di Qom, Tehran dan setelah itu di daerah-daerah lainnya. Melihat kemarahan rakyat atas penahanan Imam, Shah kemudian dengan bantuan Amerika pada 15 Khordad 1342 HS membantai rakyat Qom, Tehran, Shiraz, Mashad, Tabriz dan daerah-daerah lainnya.
Tidak ada angka yang pasti mengenai berapa jumlah sebenarnya warga yang syahid akibat pembantaian itu, tapi diperkirakan antara 5 hingga 15 ribu orang. Selain diterapkan sensor berita yang ketat, tapi berita mengenai penahanan Imam Khomeini ra dan kebangkitan 15 Khordad dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru negeri dan membangkitkan gelombang kemarahan rakyat terhadap Shah Pahlevi.
Akhirnya, setelah ditahan selama 10 bulan, Imam Khomeini ra dibebaskan pada 18 Farvardin 1343 HS dan dengan kebebasan itu, Imam kembali melanjutkan perjuangannya melawan rezim Shah. Kebangkitan 15 Khordad merupakan titik perubahan dalam sejarah perjuangan bangsa Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra.
Perang Enam Hari Israel-Arab
Tanggal 5 Juni tahun 1967, perang besar ketiga antara tentara Zionis yang dibantu oleh AS dan Inggris melawan negara-negara Arab dimulai.
Pada hari itu, angkatan udara Israel melakukan serangan tiba-tiba terhadap posisi-posisi tentara Arab. Pesawat-pesawat tempur Israel mampu melintasi kawasan Mesir, Yordania, dan Suriah. Selama dua jam, posisi-posisi angkatan udara ketiga negara Arab itu diserang habis-habisan hingga bisa dikatakan hancur lebur.
Setelah kawasan udara dikuasai, tentara Israel menyerang kawasan darat ketiga negara selama enam hari. Akibat serangan tersebut, sejumlah kawasan penting Arab seperti Gurun Sinai dan pinggiran timur Terusan Suez di Mesir serta Dataran Tinggi Golan di Suriah, direbut tentara Israel. Kemudian, setelah Sungai Jordan dan Baitul Maqdis berhasil diduduki, tentara Israel menyetujui gencatan senjata.
Enam tahun berikutnya, yaitu Tahun 1973, tentara Suriah dan Mesir secara bersamaan melakukan operasi serangan balasan terhadap posisi-posisi tentara Israel. Dalam serangan yang dikenal dengan nama "Perang Oktober" itu, tentara Suriah dan Mesir berhasil melintasi Terusen Suez dan menewaskan sejumlah besar tentara Israel.