Mari Mengenal Lingkungan (10)
Salah satu ancaman terhadap lingkungan hidup dewasa ini adalah pencemaran laut dan samudra.
Berdasarkan butir pertama Konvensi Regional Kuwait, maksud dari polusi laut adalah penumpahan zat atau energi ke lingkungan hidup laut oleh manusia baik itu secara langsung atau tidak. Ulah manusia ini tentu saja menimbulkan dampak merusak terhadap makhluk hidup, mengancam kesehatan manusia serta menimbulkan kendala bagi aktivitas maritim termasuk penangkapan ikan, merusak kwalitas dari segi pemanfaatan sumber air laut serta menurunkan kesejahteraan atau berpotensi menimbulkan ancaman seperti ini.
Berdasarkan defenisi ini, dapat dikatakan bahwa dewasa ini laut dan samudra semakin terancam oleh polusi yang dibikin manusia. Polusi akibat pengosongan tanki kapal dan kapal tanker, limbah industri, sampah rumah tangga, tanaman, ternak, tambang, industri serta bahan kimia yang dibuang ke laut termasuk faktor penting yang menciptakan polusi air. Oleh karena itu, perusakan lingkungan hidup dan ekosistem laut tidak terbatas pada penggunaan berlebihan dan irrasional sumber alam, namun faktor penting kerusakan lingkungan laut dan samudra adalah sikap manusia yang menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah.
Pencemaran laut diartikan sebagai adanya kotoran atau hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke daerah laut. Sumber dari pencemaran laut ini antara lain adalah tumpahan minyak, sisa damparan amunisi perang, buangan proses di kapal, buangan industri ke laut, proses pengeboran minyak di laut, buangan sampah dari transportasi darat melalui sungai, emisi transportasi laut dan buangan pestisida dari perairan. Namun sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal, pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal. Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut yang selalu menjdi fokus perhatian dari masyarakat luas, karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut.
Pencemaran laut adalah hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke laut. Ada berbagai sumber bahan pencemar yang dapat merusak laut dan dapat membunuh kehidupan yang di laut. Seperti banyaknya ikan-ikan mati karena laut tempat mereka hidup tidak sesuai kebutuhannya. Pencemaran laut yang terjadi di muara sungai porong bersumber pada aktivitas kapal yang hampir setiap hari dan terdapat aliran sunga yang menuju laut.
Berdasarkan riset yang ada, seperempat polusi laut dan samudra datang dari darat. Polusi ini berupa limbah yang baik datang secara langsung dari darat atau melalui danau ke laut. Sebab utama kondisi ini adalah tidak adanya saluran air pertanian atau industri yang langsung masuk ke danau atau laut tanpa penyaring. Menurut laporan PBB di tahun 1997, sekitar 70 persen air limbah yang mengalir ke Samudra Atlantik tidak disaring atau dijernihkan. Menurut salah salah satu laporan lembaga lingkungan hidup PBB terkait Laut Mideterania, 1,7 miliar meter kubuk air limbah perkotaan dialirkan secara langsung dan tiga perempatnya tidak dijernihkan.
Terkait kondisi buruk ini, negara-negara utara dan selatan memiliki kondisi yang sama, negara sedang berkembang karena membludaknya populasi dan minimnya dana serta tenaga ahli, tidak mampu mengatasi kendala polusi lingkungan hidup. Misalnya Teluk Iskandaria di Mesir bisa dikatakan sebagai lingkungan tercemar dan beracun akibat air limbah yang tidak dijernihkan dan dialirkan ke wilayah ini, sementara pelabuhan Abu Bakr di daerah ini bisa disebut lingkungan mati akibat polusi.
Meski penggunaan bahan kimia dan pembunuh serangga serta pertisida lainnya membuat sebagian penghuni bumi memiliki makanan cukup, namun mereka tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan. Ray Griffiths mantan staf Komisi Oseanografi Antarpemerintah (IOC) di bawah UNESCO menyakini bahwa sisa-sisa limbah kimia mengalir ke danau dari darat dan pada akhirnya ke laut. Limbah ini dapat mempengaruhi perkembangan makhluk hidup di laut khususnya larva muda. Selain itu, mungkin struktur tumbuhan laut yang mengambang akan berubah dan merusak proses fotosintesis. Parahnya lagi fosfat dan nitrat di pupuk kimia yang secara tidak langsung terbawa arus ke laut akan menyuburkan tumbuhnya ganggang (alga).
Racun di tubuh ganggang akan tumbuh di ikan dan memakan ikan seperti ini akan memilik bahaya tersendiri. Tumbuhnya ganggang juga dapat menyerap oksigen di air dengan cepat dan membuat hewan laut lainnya kekurangan oksigen. Dengan demikian daerah yang subur dengan ganggang maka kehidupan makhluk laut lainnya terancam serta secara bertahap mereka akan musnah. Ilmuwan melalui riset terbarunya menyebutkan adanya lebih dari 400 daerah mati di ekosistem laut. Misalnya Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) baru-baru ini memperingatkan bahwa Luat Mideterania dan Laut Hitam di kedalaman 150-200 meter tidak memiliki kandungan oksigen terlarut (DO) dan hal ini membatasi kehidupan makhluk laut, khsususnya ikan yang hidup di kedalaman rendah.
Selain racun dan pupuk kimia, polusi industri juga merusak keselamatan laut dan samudra. Misalnya produsen bubur kertas setiap tahunnya menumpahkan 300 ribu ton produk yang direndam dengan klorin dan merkuri ke Laut Baltik, sehingga air laut tersebut jenuh dengan polusi industri. Industri di mana pun di dunia selalu membuang limbahnya ke air dan gas ke udara. Misalnya setiap tahun 66 miliar meter kubik limbah industri dialirkan ke Laut Mideterania.
Laut dan samudra menyerap banyak minyak tambang, deterjen, fosfot, logam berat termasuk kadmium, timah dan tembaga. Selain polusi yang masuk ke laut melalui sungai dan danau, sekitar sepertiga bahan pencemar udara baik langsung atau tidak juga sampai ke laut melalui hujan. Dari 7 miliar ton karbon dioksida yang diproduksi manusia setiap tahunnya, paling tidak dua miliar di antaranya mengalir ke samudra. Meski secara alami samudra akan membersihkan gas di udara, namun kapasitasnya masih terbatas.
Berikut ini sumber polusi di laut, Limbah Rumah Tangga. Limbah rumah tangga masuk ke perairan laut secara langsung dari outfall di pinggir pantai, dari sungai yang bermuara di laut dan dari aliran sungai. Penanganan limbah domestik lebih sulit untuk dikendalikan karena sumbernya yang menyebar.Limbah Lumpur. Limbah lumpur tersusun oleh padatan yang terpisah dari limbah rumah tangga, sehingga menimbulkan akibat hampir sama dengan limbah rumah tangga, namun seringkali mengandung logam berat dengan konsentrasi lebih tinggi. Limbah lumpur merupakan salah satu limbah yang mendominasi buangan ke laut.
Limbah Industri. Limbah industri berasal dari bermacam-macam pabrik, termasuk industri makanan dan minuman, penyulingan minyak, perhiasan logam, pabrik baja/logam, pabrik kertas serta pabrik kimia organik maupun anorganik lainnya. Beberapa diantaranya mengandung unsur yang sangat beracun, biasanya berupa bahan yang asam, basa, logam berat, dan bahan organik yang beracun.
Limbah Pengerukan. Pengerukan, terutama untuk kegiatan navigasi dan pelabuhan, merupakan aktivitas manusia yang terbesar dalam melimpahkan bahan-bahan buangan ke dalam laut. Kebanyakan bahan kerukan (dredgespoils) diambil dari daerah pelabuhan yang biasanya sudah sangat tercemar oleh sampah-sampah pemukiman, bahan organik, dan sisa buangan industri termasuk logam berat dan minyak. Di samping itu, limbah pengerukan menghasilkan masalah pengeruhan air oleh karena padatan terlarut (suspended solid) yang dikandungnya.
Limbah Eksplorasi dan Produksi Minyak. Kegiatan operasi indutri minyak lepas pantai mengakibatkan beban pencemaran yang serius pada lokasi tertentu, mulai dari pencemaran panas, kekeruhan akibat padatan terlarut, sampai dengan pencemaran panas, kekeruhan akibat padatan terlarut, sampai dengan pencemaran kimiawi dari bahan organik dan logam-logam berbahaya. Beberapa limbah yang berbahaya dihasilkan, seperti “drilling mud” dan “cutting mud” yang sangat beracun, “produce water”(air yang ikut terisap bersama minyak), “drill cutting”(buangan sisa pengeboran), “drilling fluids”(cairan kimia untuk membantu proses pengeboran), “flaring smoke”(asap pembakaran) sampai tumpahan minyak.
Tumpahan minyak. Tumpahan minyak, disengaja maupun tidak merupakan sumber pencemaran yang sangat membahayakan. Tumpahan minyak ke laut dapat berasal dari kapal tanker yang mengalami tabrakan atau kandas, atau dari proses yang disengaja seperti pencucian tangki halas, transfer minyak antarkapal maupun kelalaian awak kapal. Umumnya cemaran minyak dari kapal tanker berasal dari pembuangan air tangki balas. Sebagai gambaran, untuk tanker berbobot 50.000 ton, buangan air dari tangki balasnya mencapai 1.200 barel.
Limbah Radioaktif. Sisa bahan radioaktif umumnya sekarang banyak disimpan dalam tempat-tempat penyimpanan di daratan. Beberapa diantaranya ditenggelamkan ke dasar laut yang dalam. Dari kebocoran tempat-tempat penyimpanan inilah kemungkinan akan terjadi pencemaran bahan radioaktif di laut.
Cemaran Panas. Kehidupan d laut umumnya sangat peka terhadap perubahan suhu air. Suhu tinggi di laut dapat menyebabkan peneluran dini, migrasi ikan yang tidak alami, penurunan oksigen terlarut, atau kematian binatang laut. Air pendingin (Cooling water) dan effluent dari beberapa industri dibuang ke lingkungan laut pada suhu yang tinggi daripada lingkungan laut itu sendiri. Begitu juga dengan penggunaan air laut untuk pendingin pembangkit nuklir yang meningkat dengan cepat. Satu unit pembangkit nuklir memerlukan sekitar 1 milyar gallon air per hari. Dan ini sangat berbahaya apabila tidak direncakan dengan baik, termasuk air pendingin yang dikembalikan ke laut pada suhu lebih tinggi 11-200C dibanding suhu air laut normal.
Sedimen. Sedimen membawa bahan dari daratan yang hanyut oleh air sungai, dan sebagian besar mengendap di kawasan pesisir dan pantai. Limbah jenis ini berbahaya bagi kehidupan laut, karena kekeruhan yang ditimbulkan dapat menutupi insang atau elemen penyaring pada binatang yang makan dengan cara menyaring air (organisme filter feeder, seperti misalnya jenis kerang-kerangan).
Limbah padat. Limbah padat yang dibuang ke laut berupa sampah merupakan salah satu bahan utama yang terkandung dalam buangan limbah. Di Indonesia, sampah yang dibuang ke laut sebenarnya cukup banyak dan pada saat ini sudah pada kondisi yang memperhatinkan, terutama di perairan teluk Jakarta dan beberapa perairan lainnya di Indonesia.
Limbah dari Kapal. Kegiatan operasional tersebut dapat berupa pembersihan tangki-tangki baik secara rutin maupun untuk pengedokan, pembuangan kotoran yang ada di saluran got kapal, pembuangan air ballast , termasuk juga sampah dan limbah minyak dari mesin kapal. Semua kapal yang beroperasi diwajibkan memiliki penampung limbah.
Limbah Pertanian. Limbah pertanian dapat menimbulkan eutrofikasi yang disebabkan karena akumulasi bahan-bahan organik seperti sisa tumbuhan yang membusuk. Secara ekologis proses kekeruhan karena sedimentasi dapat menyebabkan terganggunya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan, sehingga kegiatan fotosintesa plankton maupun organisme laut lainnya menjadi terhenti.