Jalan Menuju Cahaya 670
Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengakhiri surat ash-Shua’ra dan sekarang kita sampai pada surat an-Naml. Sebagian nama surat dalam al-Quran adalah benda atau hewan-hewan. Surat an-Naml berarti semut-semut saat pasukan Nabi Sulaiman bergerak. Pada pertemuan ini akan kita bahas bersama ayat 1-5 surat ini dan sekarang kita menyimak bacaan ayat 1-2 surat an-Naml berikut ini.
Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengakhiri surat ash-Shua’ra dan sekarang kita sampai pada surat an-Naml. Sebagian nama surat dalam al-Quran adalah benda atau hewan-hewan. Surat an-Naml berarti semut-semut saat pasukan Nabi Sulaiman bergerak. Pada pertemuan ini akan kita bahas bersama ayat 1-5 surat ini dan sekarang kita menyimak bacaan ayat 1-2 surat an-Naml berikut ini.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
طس تِلْكَ آَيَاتُ الْقُرْآَنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ (1) هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (2)
Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat al-Quran dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan. (27: 1)
Untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman. (27: 2)
Surat ini sama seperti 28 surat al-Quran lainnya, dimulai dengan huruf Muqattha’ah dan juga menjelaskan keagungan al-Quran. Al-Quran adalah sebuah kitab yang tersusun dari huruf-huruf sederhana yang diakses semua orang, akan tetapi tidak seorang manusia pun yang mampu membikin bahkan satu ayat sepertinya.
Ayat-ayat dalam kitab ini jelas dan menjelaskan, serta membedakan antara kebatilan dan kebenaran. Kitab ini diturunkan untuk membimbing seluruh umat manusia. Akan tetapi orang yang dapat memanfaatkannya dan mencapai kebahagiaan adalah mereka yang beriman padanya dan menerima berbagai hakikatnya.
Ayat-ayat tersebut adalah kalimat-kalimat Allah Swt. Ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi, memiliki dua nama; salah satunya adalah al-Quran, yaitu yang dibacakan Nabi untuk masyarakat, dan yang kedua adalah Kitab, yaitu yang ditulis oleh para sahabat setelah dibacakan oleh Nabi.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Gerakan para nabi dalam masyarakat adalah gerakan budaya yang dibarengi dengan pembacaan dan penulisan serta berporos pada penjelasan antara kebenaran dan kebatilan.
2. Salah satu keutamaan al-Quran adalah karena tertulis, menjadi pencerahan, bimbingan dan juga kabar gembira.
3. Kabar gembira sejati bagi manusia adalah dalam kerangka hidayah mereka menuju kebenaran dan hakikat.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (3) إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ (4) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ (5)
(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (27: 3)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (27: 4)
Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi. (27: 5)
Melanjutkan dua ayat sebelumnya, pertama Allah Swt menjelaskan kriteria orang-orang Mukmin, Kedua, perilaku dan pemikiran mereka seperti penunaian salat dan zakat, yang merupakan dua kriteria utama orang-orang Mukmin. Dan bahwa siapa pun yang tidak memiliki dua kriteria tersebut maka dia tidak jujur dalam klaim keimanannya.
Akan tetapi yang lebih penting dari salat dan zakat adalah keyakinannya setelah kematian dan jika ada yang tidak meyakininya, maka dia akan terjebak di dunia dan seluruh manifestasinya. Sedemikian rupa sehingga akibat kecintaannya pada harta dan kedudukan, dia akan mendustakan akhirat dan tidak akan melakukan apapun demi keridhaan Allah Swt.
Orang yang tidak mengimani akhirat, maka keburukan dan kemunkaran akan tampak indah dan berharga di hadapannya dan akan melakukannya. Padahal hal-hal tersebut akan dibalas dengan azab pedih di Hari Kiamat.
Dalam berbagai ayat al-Quran, disebutkan bahwa setan akan mengesankan perilaku dan hal-hal munkar secara indah di hadapan manusia. Akan tetapi hanya pada ayat ini dan satu ayat lagi dalam al-Qura, pengesanan baik hal dan perilaku munkar di benak manusia dinisbatkan kepada Allah Swt. Mungkin alasannya adalah karena Allah Swt telah menetapkan elemen ini pada diri manusia bahwa pengulangan setiap amal, akan mempengaruhi perilakunya dan pada akhirnya akan mengubah kepribadiannya.
Penjelasannya adalah ketika manusia melakukan keburukan, maka kemunkaran dan kebatilan akan terkikis perlahan-lahan dalam padanannya. Secara gradual dia akan terbiasa sehingga dia akan menjustifikasi amal-amal buruknya. Jika ini berlanjut, maka dia akan sampai pada tahap dimana kemunkaran itu dinilainya sebagai kebaikan dan bahkan menyeru orang lain untuk melakukannya.
Manusia seperti ini yang beranggapan sedang melakukan kebaikan, akan terus menambah kemunkarannya. Semakin lama dia akan semakin menyimpang dari kebenaran sampai akhirnya seluruh usianya tersia-siakan dan di akhirat dia akan menjadi salah satu manusia paling merugi.
Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu keunggulan Islam adalah bahwa hubungan dengan Allah Swt sangat berkaitan erat dengan hubungan manusia dengan orang-orang miskin.
2. Keterbiasaan pada perilaku baik atau buruk, akan membentuk kepribadian manusia. Jika manusia membiasakan dirinya pada kemunkaran, maka dia akan sangat merugi.
3. Jika kita meyakini Hari Kiamat, maka kita akan meninggalkan banyak hal dan perilaku yang terkesan indah dalam pandangan kita. Ketika itu, kita akan beramal sesuai ajaran agama dan menolak nilai-nilai non-ilahi. Ketika itu pula kita tidak akan lagi memandang ketelanjangan atau penampilan seronok sebagai indikasi kemajuan peradaban, tidak pula kita memandang israf (berlebih-lebihan) dan hedonisme sebagai parameter kepribadian seseorang, dan bahwa parameter kebenaran dan kebatilan bukan kepentingan pribadai atau nasional.
4. Pengingkaran Hari Kiamat akan mengakibatkan kerugian terbesar bagi manusia.