Lintasan Sejarah 30 Mei 2018
Hari ini, Rabu tanggal 30 Mei 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 14 Ramadhan 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 9 Khordad 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Maghazali Meninggal Dunia
897 tahun yang lalu, tanggal 14 Ramadan 542 HQ, Ibnu Maghazali, seorang ulama fiqih dan hadis meninggal dunia.
Ibnu Maghazali dilahirkan pada tahun 457 Hijriah dan pada masa mudanya, ia menuntut ilmu dari para ulama terkemuka di Irak. Satu-satunya karya Ibnu Maghazali adalah sebuah risalah hadis yang hingga kini masih tersimpan di perpustakaan Zahirian, kota Damaskus, Suriah.
Nazem Al-Atebba Wafat
94 tahun yang lalu, tanggal 9 Khordad 1303 HS, Nazem al-Atebba meninggal dunia pada di usia 77 tahun.
Mirza Ali Akbar Khan Nafisi yang lebih dikenal dengan sebutan Nazem al-Atebba Kermani lahir di kota Kerman sekitar tahun 1336 HS. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia kemudian mempelajari filsafat dan belajar kedokteran di madrasah Dar al-Funun di Tehran.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nazem al-Atebba mendirikan rumah sakit modern pertama di Iran dan didukung oleh para dokter terkenal. Ia pada 1261 HS kembali membangun rumah sakit modern di kota Mashad dan menjadi dokter pribadi Naser ad-Din Shah dan Mozaffaruddin Shah Qajar.
Ali Akbar Nafisi selain melakukan pengobatan, ia juga menulis buku. Karya kedokterannya mencakup kumpulan buku penting dan bermanfaat yang disusunya setelah menerjemahkannya dari bahasa asing. Nazem al-Atebba juga punya andil dalam mengumpulkan kosa kata bahasa Persia dan menuliskannya dalam Kamus Nafisi dalam 5 jilid yang disusunnya selama 25 tahun.
Dr. Soetomo Meninggal
80 tahun yang lalu, tanggal 30 Mei 1938, dr. Soetomo menghembuskan nafas terakhir setelah menderita sakit beberapa bulan.
Dr. Soetomo dikenal sebagi tokoh pergerakan nasional lewat Boedi Oetomo. Selain aktif dalam Boedi Oetomo ia juga aktif dalam organisasi Indonesische Studieclub Surabaja (ISC).
Keteguhan dr. Soetomo untuk konsen kepada ide-ide nasionalis dalam ISC dibuktikan dengan hengkang dari Boedi Oetomoe yang dinilai makin bercorak promodial kejawa-jawaan pada 1925. Selain sebagai tokoh pergerakan, dr. Soetomo juga memiliki peran yang besar terhadap perkembangan pers Indonesia.