Lintasan Sejarah 14 Mei 2019
Hari ini, Selasa 14 Mei 2019 bertepatan dengan 8 Ramadhan 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 24 Ordibehest 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.
Ali Dabiran Wafat
765 tahun yang lalu, tanggal 8 Ramadhan 675 HQ, Najmuddin Ali Dabiran, yang terkenal dengan nama Katibi, seorang filsuf dan ahli perbintangan terkemuka Iran, meninggal dunia.
Informasi mengenai riwayat kehidupan Katibi tidak banyak diperoleh. Namun, diketahui bahwa Nashiruddin Thusi seorang ulama besar masa itu, telah meminta Katibi untuk mendampinginya dalam pekerjaan di observatorium "Maraghe" yang terkenal di zaman itu.
Ilmuwan muslim ini dalam waktu yang cukup lama bekerja di observatorium tersebut. Selain itu, Katibi juga banyak meninggalkan karya penulisan di bidang filsafat dan logika, di antaranya berjudul "Jami'ud Daqayiq" dan "Hikmatul Ain".
Peresmian Bendungan Aswan
55 tahun yang lalu, tanggal 14 Mei 1964, Gamal Abdul Nasser dan Nikita Kruschev secara resmi menandai dimulainya pembangunan Bendungan Aswan dengan menekan sebuah tombol.
Pada sebuah upacara yang diadakan di Mesir selatan, kedua presiden tadi bersama Presiden Arif dari Irak dan Presiden Sallal dari Yaman menekan sebuah tombol untuk meledakkan pasir dan mengubah rute Sungai Nil ke sebuah kanal sehingga tahap pembuatan bendungan yang selanjutnya dapat dimulai.
Bendungan itu dibiayai dan dibangun dengan bantuan Rusia, disaksikan ribuan orang. Ledakan pasir yang membubung menjadikan Sungai Nil mengalir ke saluran yang dibuat manusia.
Amerika Serikat, pada 1956, menolak usulan untuk membiayai proyek bendungan itu. Atas keputusan AS tersebut, Nasser mengatakan kekuatan-kekuatan reaksioner telah berkonspirasi untuk mencegah pembangunan bendungan, tetapi Rusia dan Mesir telah berhasil mengatasi semua rintangan tersebut.
Proyek itu memiliki periode penyelesaian selama empat tahun. Diharapkan, ketika bendungan selesai, wilayah Mesir akan meluas sebanyak sepertiganya. Sumber-sumber daya yang ada juga akan berlipat ganda dan menambah 200 juta pound sterling (sekitar Rp3,56 miliar) ke dalam pos pendapatan nasional Mesir.
Hujjatul Islam Kazem Modir Shanehchi Wafat
17 tahun yang lalu, tanggal 24 Ordibehesht 1381 HS, Hujjatul Islam Modir Shanehchi meninggal dunia pada di usia 75 tahun dan dikebumikan di komplek makam suci Imam Ridha as di Mashad.
Hujjatul Islam Sheikh Kazem Modir Shanehchi adalah seorang ulama besar di bidang hadis. Beliau lahir dari keluarga agamis tahun 1306 Hs di kota Mashad. Setelah menyelesaikan pendidikan SD hingga SMU, beliau kemudian mempelajari ilmu-ilmu agama. Tingkat dasar dan menengah ilmu-ilmu agama dilaluinya dengan cepat dan setelah itu beliau belajar fiqih dan ushul fiqih untuk menjadi mujtahid bersama Ayatullah Sheikh Hashem Qazvini, Sheikh Mojtaba Qazvini, Sayid Yunes Ardebili, Mirza ahmad Kafai dan Sayid Mohammad Hadi Milani.
Hujjatul Islam Modir Shanehchi juga menguasai ilmu-ilmu rasional dan sejak tahun 1337 Hs beliau memberikan kuliah di Universitas Ilahiyat Mashad. Selain mengajar sejarah Islam, sejarah agama, Ayatul Ahkam (ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengan hukum fiqih), periode fiqih dan banyak menulis makalah ilmiah. Beliau menerbitkan sejumlah daftar terkait kumpulan tulisan tangan. Untuk mendapatkan naskah-naskah manuskrip, beliau banyak melakukan perjalanan ke pelbagai negara seperti ke Rusia, Azerbaijan, Uzbekistan, Mesir, Turki, Suriah, Lebanon, Maroko dan Spanyol.
Hujjatul Islam Shanehchi tidak lupa mendidik murid di bidang ilmu-ilmu aqli dan naqli. Pada tahun 1380 Hs, beliau terpilih sebagai tokoh di bidang ilmu dan budaya di Iran. Tarikh Hadits, Dirayah al-Hadits, Metode Penyimpulan Hukum dan Sunan Nabi dalam 9 jilid termasuk sebagian dari karya-karya beliau.