Ilmuwan keturunan Iran, Dr. Majid Taghavi bersama dua peneliti lain di Universitas Bristol, Inggris dengan mengambil inspirasi seni Origami, berhasil menciptakan otot buatan. Para peneliti menciptakan sebuah alat yang kuat sekuat otot manusia, dan dapat mengangkat beban yang ribuan kali lebih berat darinya. Penemuan mereka dioperasikan dengan tenaga elektrostatika. Struktur ini dapat dibuat dari insulator dan konduktor seperti logam dan plastik, bahkan kertas dan pena.
Menurut Dr. Majid Taghavi, dengan bantuan teknologi elektro-origami ini, motor-motor elektromagnetik dapat digunakan sebagai pengganti ringan dan tidak berisik. Karena alat-alat elektrostatika membutuhkan aliran listrik tinggi, maka ia menghasilkan suhu panas yang lebih kecil, dan lebih efektif dari motor-motor listrik. Para peneliti bermaksud menggunakan teknologi elektro-origami pada berbagai produk berbeda beberapa tahun ke depan, untuk itu diperlukan anggaran dana untuk melanjutkan riset dan harus mendapat izin pemasaran. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal ilmiah Science Robotics.
Para peneliti di Universitas Tehran, Iran berhasil merancang rangka luar atau exoskeleton untuk mengurangi penggunaan energi dan memperlambat kelelahan pada otot sendi bagian panggul saat berlari. Ini adalah untuk pertama kalinya sebuah rangka didesain menggunakan pegas, tanpa motor. Skeleton ini memindahkan energi ke bagian di antara dua kaki, dan menyimpan energi yang terbuang saat berlari di pegas, mekanisme ini menyebabkan seseorang akan merasakan lelah yang lebih sedikit dalam waktu lama.
Menurut para perancang skeleton ini, penemuan baru ini memungkinkan seseorang berlari jarak yang jauh dengan kelelahan lebih sedikit atau dengan menghabiskan energi tertentu, dapat melangkah lebih cepat. Sistem ini dirancang tepat berdasarkan informasi yang dihimpun dari badan manusia.
Penggunaan skeleton ini saat berlari, mengurangi penggunaan energi, sehingga menurunkan kelelahan otot, terutama saat berlari dalam kecepatan tinggi, dan bisa digunakan dalam tingkat kecepatan tinggi. Skeleton-skeleton lain hanya berfungsi untuk berlari atau berjalan dalam kecepatan tertentu. Alat ini sepenuhnya non-aktif, artinya tidak menggunakan motor, baterai atau listrik, hanya dengan desain sangat sederhana dan cerdas, sebuah lapisan pegas pada alat itu mampu menyimpan sebagian energi salah satu kaki saat berlari, dan memindahkannya ke kaki yang lain.
Menurut para peneliti, alat ini berdasarkan metode standar yang mendapatkan pengesahan komunitas ilmuwan, menurunkan penggunaan energi sebanyak 8 persen saat berlari. Skeleton ini menghubungkan dua sendi di bagian panggul dengan menggunakan lembaran pegas. Pegas tersebut mencegah terbuangnya energi dengan mengubah energi di antara dua kaki, dan memindahkan energi saat terbuang di satu kaki ke kaki yang lain.
Menurut para peneliti, biaya pembuatan skeleton ini lebih murah, dan memiliki efektivitas lebih tinggi. Visi ke depan penelitian ini disusun sedemikian rupa sehingga orang-orang yang memiliki masalah fisik, dapat memanfaatkan skeleton ini, karena hanya perlu mengeluarkan energi sedikit. Faktanya, orang-orang yang memiliki masalah jasmani dapat berlari menggunakan alat ini. Sejumlah olahragawan yang menderita sakit sendi atau skiatika juga dapat berlari menggunakan alat ini dengan rasa sakit yang lebih sedikit.
Seorang ilmuwan keturunan Iran, Ali Shilati bersama sekelompok peneliti di Universitas Northwestern, Amerika Serikat berhasil menemukan dua metode pengobatan untuk memperlambat penyebaran Leukemia pada anak-anak. Berdasarkan hasil penelitian baru, protein MLL yang berperan dalam kemunculan Leukemia, dapat memperlambat pertumbuhan penyakit ini. Pada tahapan berikutnya, para ilmuwan harus mengkombinasikan dua metode pengobatan Leukemia pada anak-anak yang ditemukan sebelumnya, sehingga sebuah superobat untuk uji klinis dapat dipakai pada manusia.
Northwestern University
Saat ini hanya 30 persen anak-anak penderita Leukemia yang memiliki protein MLL dapat bertahan hidup. Pada para penderita Leukemia, prosentase sel darah merah jumlahnya sedikit, dan hal ini menyebabkan mereka kekurangan darah. Volume sel darah putih para penderita Leukemia sekitar 80 persen lebih banyak dari orang sehat.
Menurut dosen biokimia, genetika molekuler dan anak di Universitas Northwestern, sel darah putih masuk ke sebagian besar jaringan dan bagian tubuh manusia, dan menjadi alasan utama kematian para penderita Leukemia. Penyakit Leukemia memiliki beragam jenis. Konsentrasi para peneliti ini dipusatkan pada jenis-jenis Leukemia yang umum seperti Leukemia Myeloid Akut dan Leukemia limfoblastik akut.
Ali Shilati bersama kelompoknya sejak 25 tahun lalu melakukan kajian terhadap efektivitas molekuler MLL dalam struktur rumit bernama COMPASS. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan, komponen-komponen COMPASS merupakan salah satu mutasi yang sudah dikenal dalam kanker. Tahap berikutnya penelitian meliputi uji klinis obat. Peneliti keturunan Iran dan kelompoknya berharap obat ini dalam 3-5 tahun mendatang akan masuk tahap uji klinis.
Para peneliti Cina berhasil menciptakan sebuah senyawa yang mirip dengan emas dengan meletakkan tembaga di dekat Argon. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Science Advances itu, penemuan ini menurunkan secara signifikan penggunaan batu berharga di pabrik-pabrik. Para peneliti meletakkan sebuah tembaga di dekat Argon panas dan mengandung listrik. Kemudian partikel ion yang bergerak cepat, memecah atom-atom tembaga. Atom-atom dikumpulkan pada sebuah lapisan dingin, dan menciptakan sebuah lapisan pasir yang tipis. Setiap butiran pasir memiliki sejumlah nanometer seukuran seperseribu satu bakteri.
Para peneliti meletakkan senyawa ini di ruang reaksi dan menggunakannya sebagai katalis untuk mengubah batubara menjadi alkohol. Proses ini rumit dan sulit, hanya batu berharga yang dapat melakukannya. Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa tembaga memiliki kegunaan yang menarik setelah diolah. Berat dan tampilan tembaga mirip dengan emas, dan selama berabad-abad para ilmuwan berusaha mengubah tembaga menjadi emas. Akan tetapi senyawa baru yang dihasilkannya tidak dapat digunakan untuk membuat kepingan emas palsu, karena kepadatannya seperti tembaga biasa. Alat listrik sebagai contoh mengandung sejumlah banyak emas, perak dan platina.
Teleskop luar angkasa Hubble menayangkan foto-foto ekor cahaya dari sebuah bintang, yang memiliki volume 10 kali lebih berat, 200 kali lebih besar dan 15.000 kali lebih bercahaya dari matahari. Di tengah foto ini terdapat sebuah bintang bercahaya yang diliputi debu. Debu ini bercahaya di bawah cahaya bintang. Menurut NASA, bintang raksasa itu bernama RS Puppis. Bintang ini dalam satu putaran perenam bulannya mengeluarkan cahaya, lalu cahaya itu meredup.[]