Sep 24, 2019 07:52 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 24 September 2019

Hari ini, Selasa 24 September 2019 bertepatan dengan 24 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 2 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Mulla Muhammad Taqi Istarabadi Wafat

169 tahun yang lalu, tanggal 24 Muharam 1272 HQ, Mulla Muhammad Taqi Istarabadi meninggal dunia.

Mulla Muhyammad Taqi bin Muhammad Ismail merupakan seorang ulama besar Syiah.

Mulla Muhammad Taqi Istarabadi mendapat ijazah ijtihad dari Muhammad Taqi bin Muhammad Rahim Tehrani Isfahani yang dikenal sengan Shahib Hidayah al-Mustarsyidin. Beliau juga sempat belajar kepada guru-guru besar di Najaf al-Asyraf, Irak selama 14 tahun.

Mulla Taqi Istarabadi ke Tehran pada 1271 HQ dengan tujuan menemui Naseruddin Shah untuk memberikan laporan terkait kerusuhan yang terjadi di perbatasan Istarabadi, tapi sebelum kembali, beliau meninggal pada 24 Muharam 1272 di Tehran.

 

Guinea Merdeka

45 tahun yang lalu, tanggal 24 September 1974, Guinea Bissau meraih kemerdekaannya dari Portugis.

Pangeran Henry dari Portugis mendarat di Guinea Bissau pada tahun 1446 dan sejak saat itu, Portugis menjajah negara ini hingga abad ke-20. Selama masa penjajahan Portugis, wilayah ini diberi nama Guinea Portugis.

Pada abad ke-17 dan ke-18, negara ini menjadi kawasan perdagangan budak oleh bangsa Eropa. Sejak pertengahan dekade ke 1960, kebangkitan rakyat negara ini dalam melawan penjajah semakin meningkat. Pada tahun 1970, pengontrolan dua pertiga wilayah Guinea Bissau berada di tangan para pejuang kemerdekaan. Akhirnya, Portugis pada tahun 1974 mengakui kemerdekaan Guinea Bissau.

Guinea Bissau memiliki luas wilayah  lebih dari 36 ribu kilometer persegi dan berbatasan dengan Guinea dan Senegal.

 

Imam Khomeini

Rumah Imam Khomeini di Najaf Dikepung

41 tahun yang lalu, tanggal 2 Mehr 1357 HS, pasukan keamanan rezim Baath Irak yang bekerjasama dengan Rezim Shah Pahlevi Iran, mengepung rumah Imam Khomeini di Najaf.

Rezim Baath memerintahkan kepada Imam Khomeini agar tidak melakukan wawancara dengan wartawan, mengeluarkan pernyataan, dan mengkritik pemerintahan Iran. Namun, Imam Khomeini dalam menjawab perintah ini menyatakan, "Di manapun saya berada, saya akan menjalankan kewajiban syariat."

Tak lama kemudian, pemerintah Irak memaksa Imam Khomeini meninggalkan negeri itu. Imam Khomeini kemudian pindah ke Paris dan sejak itulah gerakan Revolusi Islam semakin menggema ke seluruh dunia. Pada tahun 1979, revolusi Islam Iran mencapai kemenangannya.