Dua Pilihan AS: Menurunkan atau Menaikkan Pajak
https://parstoday.ir/id/radio/world-i48657-dua_pilihan_as_menurunkan_atau_menaikkan_pajak
Pemerintahan Amerika Serikat berencana menerapkan salah satu program perpajakan terbesar sepanjang dekade terakhir di negara ini. Presiden AS Donald Trump selama kampanye pilpres berjanji menurunkan pajak jika terpilih sehingga menurutnya perputaran ekonomi tetap berjalan dan lapangan pekerjaan terbuka lebar. Janji ini akhirnya mengantarkan Trump ke Gedung Putih.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Des 25, 2017 08:00 Asia/Jakarta

Pemerintahan Amerika Serikat berencana menerapkan salah satu program perpajakan terbesar sepanjang dekade terakhir di negara ini. Presiden AS Donald Trump selama kampanye pilpres berjanji menurunkan pajak jika terpilih sehingga menurutnya perputaran ekonomi tetap berjalan dan lapangan pekerjaan terbuka lebar. Janji ini akhirnya mengantarkan Trump ke Gedung Putih.

Kini hampir satu tahun dari kepemimpinan Trump, draf reformasi sistem perpajakan akan diratifikasi Kongres. Sejumlah draf ini disebut-sebut sebagai penurunan pajak terbesar setelah era kepresidenan Ronald Reagan. Trump sendiri mengklaim bahwa programnya ini lebih luas dari program Reagan dan lebih efektif. Ia optimis bahwa program ini akan memiilki dampak seperti program Reagan yang mengantarkannya ke peridoe kedua presiden Amerika.

Namun begitu, program perpajakan Trump ini juga memiliki kubu penentang. Jika kubu ini tidak mampu mencegah peratifikasian draf pajak Trump di Kongres, paling tidak mereka mampu memobilisasi warga di pemilu mendatang menentang presiden Amerika Serikat.

Kini pertanyaannya adalah apa dimensi dari usulan pemerintah Amerika untuk merevisi sistem perpajakan? Rencana ini memiliki tiga tujuan utama, pertama pengurangan pajak warga, kedua pengurangan pajak perusahaan dan ketiga kemudahan di proses penarikan pajak.

Di sisi lain banyak perbedaan pendapat serius baik di Kongres maupun Senat terkait dimensi rencana usulan Gedung Putih. Sejumlah prediksi menunjukkan bahwa bahkan Departemen Keuangan AS tidak memiliki informasi detail terkait dampak dari program ini bagi indeks ekonomi seperti laju ekonomi, peluang lapangan kerja, defisit anggaran dan sejauh mana pemanfaatan individu dan lembaga dari rencana ini. Meski demikian muncul beragam data terkait rencana pemerintah AS tersebut.

Komisi bersama lintas partai perpajakan di Kongres Amerika memprediksikan bahwa jika draf reformasi perpajakan berubah menjadi undang-undang dan kemudian dilaksanakan, dalam satu dekade sejak tahun 2018 hingga 2027, produk domestik bruto Amerika akan mengalami kenaikan sebesar 0,8 persen, lapangan pekerjaan naik 0,6 persen dan tingkat konsumsi naik 0,6 persen. Selain itu dikatakan bahwa selama satu dekade mendatang 1,1 triliun dolar pendapatan dari sektor pajak pemerintah akan berkurang. Dari angka tersebut, pajak individu akan berkurang 200 miliar dolar dan pajak properti turun 150 miliar dolar.

Kebijakan Trump soal pajak

Sementara itu, dampak dari penurunan pajak bagi defisit anggaran dan hutang publik pemerintah juga ada berbagai data yang dirilis. Bahkan ada data yang menyebutkan bahwa defisit anggran akan mencapai 1,5 triliun dolar dan bertambahnya enam triliun dolar hutang publik pemerintah federal.

Meski demikian kubu pro rencana penurunan pajak meyakini bahwa ketahanan ekonomi tergantung pada tidak adanya campur tangan pemerintah di sektor ekonomi dan gerakan ke arah pemerintah minimalnya adalah aktivis ekonomi akan membayar pajak seminimal mungkin dan pemerintah akan memiliki uang lebih sedikit untuk mengintervensi segala urusan.

Menurut pandangan kubu ini, pemerintahan kecil yang mengambil pajak lebih besar dari warga akan memiliki dua dampak negatif. Pertama para konsumen akan menyerahkan sebagian uangnya kepada pemerintah dalam bentuk pajak. Padahal jika uang tersebut digunakan untuk membeli barang dan jasa, maka sama halnya dengan menggenjot produksi dan meningkatkan lapangan kerja baru di tengah masyarakat. Dampak kedua mengarah kepada pemilik perusahaan. Ketika mereka membayar bajak kepada pemerintah, maka mereka tidak memiliki investasi yang cukup investasi dan membantu peningkatan produksi serta lapangan kerja.

Oleh karena itu, para kubu pro rencana pengurangan pajak di Amerika sejak era Ronald Reagan hingga kini menekankan dua poin. Pertama laju ekonomi dan kedua peluang lapangan kerja. Senator kubu Republik, Bob Corker mengatakan, rencana reformasi sistem perpajakan merupakan peluang besar bagi generasi yang ingin menciptakan perubahan mendasar kondisi kehidupan dan program kesejahteraan nasional.

Donald Trump sebagai sosok berpengalaman di bidang perdagangan, meyakini bahwa tanpa pengurangan pajak, produksi tidak akan meningkat dan tanpa peningkatan produksi, maka lapangan kerja tidak akan terbuka. Oleh karena itu, ia mengusulkan pajak di Amerika diturunkan. Ia berulang kali menyatakan bahwa dengan diberlakukannya usulan pemerintahannya, masyarakat kalangan menengah Amerika akan menghemat ratusan miliar dolar untuk pembayaran pajak.

Pajak di Amerika

Sementara penurunan 35 persen pajak perusahaan AS menjadi 15 persen, mendorong peluang investasi terbuka lebar dan daya persaingan perusahaan AS dengan perusahaan asing semakin meningkat. Selain itu, para pelaku ekonomi terdorong untuk memindahkan investasinya ke Amerika mengingat penurunan pajak yang diberlakukan pemerintah. Kebijakan ini dengan sendirinya diprediksi akan merealisasikan maraknya bursa kerja dan terbukanya lapangan kerja baru.

Sementara itu, kubu anti penurunan pajak menolak seluruh argumentasi tersebut dan meyakini pemerintah di sistem kapitalis, selain harus menjaga prinsip kebebasan ekonomi juga memiliki tanggung jawab menjamin kebutuhan warga khususnya warga yang menderita serta harus mengambil pajak dari para konglomerat untuk mensukseskan program kesejahteraan.

Menurut pandangan kubu ini, pajak adalah uang yang dibayar oleh berbagai lapisan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas dan jasa publik sehingga akan terbentuk keseimbangan di antara lapisan masyarakat atas dan bawah, serta gejolak sosial dapat dicegah. Bagaimanapun juga menurut perspektif pemerintahan sejahtera meski warga membayar pajak lebih besar, namun dengan memanfaatkan fasilitas seperti asuransi murah, pendidikan dan pengobatan murah serta infrastruktur ekonomi, mereka sebenarnya telah berhemat dan dengan tabungannya, mereka dapat belanja barang dan jasa.

Bernie Sanders, senator independen dalam pesannya di akun Twitter menulis, "Di Amerika ada kubu Republik yang berusaha menurunkan pajak para konglomerat sebesar 1,5 triliun dolar, padahal di negara ini ada 41 juta warga yang hidup dalam kemiskinan. Ini sebuah skandal."

Penerimaan pajak dari pada pengusaha merupakan peluang bagi pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan, bandaraudara, pelabuhan, jaringan air dan listrik serta jalur energi untuk memajukan usaha dan lapangan kerja. Ini sebuah keharusan. Sementara perusahaan dengan melakukan penghematan karena memanfaatkan fasilitas ini, mendapat peluang lebih baik untuk produksi dan peluang lapangan kerja semakin terbuka.

Selain itu, kebutuhan publik negara seperti pertahanan dan keamanan juga membutuhkan dana dan tanpa pajak, militer, aparat keamanan dan para jaksa tidak akan memiliki kemampuan untuk membela nyawa dan harta warga serta pengusaha.

Namun demikian dua kubu pro dan kontra penurunan pajak di Amerika juga memberikan rencana bagi peningkatan ekonomi, kekuatan produksi nasional, pembukaan lapangan kerja baru dan peningkatan daya saing terhadap rival asing. Keduanya untuk membuktikan kebenaran pandangannya bersandar pada bukti sejarah. Misalnya, kubu pro penurunan pajak menyatakan bahwa undang-undang reformasi sistem perpajakan Reagan membawa kejayaan ekonomi dan mendorong angka pengangguran turun serta pasar saham semakin bergairah.

Protes pajak di Amerika

Sementara kubu pro peningkatan pajak mengisyaratkan pengalaman Bill Clinton, mantan presiden AS. Di era Clinton, selain ekonomi Amerika mengalami kejayaan, warga juga hidup dalam kesejahteraan.

Meski demikian kedua pengalaman tersebut juga menghasilkan kesulitan ekonomi Amerika. Penurunan pendapatan negara dari sektor pajak di era Reagan mengakibatkan defisit anggaran ratusan miliar dolar satu dekade kemudian. Sementara penambahan pajak di era Clinton, satu dekade kemudian juga membuat Amerika mengalami krisis ekonomi terparah setelah resesi tahun1929.

Pada saat yang sama terjadi perselisihan mendalam mengenai penerima diskon pajak yang sebenarnya antara kedua kelompok tersebut. Pemerintah Trump bersama kubu Republik yang memiliki suara mayoritas di Kongres meyakini bahwa kalangan menengah adalah pihak yang paling diuntungkan dari rencana ini. Sementara kubu anti penurunan pajak menilai justru perusahaan besar dan raksasa yang sangat diuntungkan dari pengurangan pajak. Bahkan kubu anti ini meyakini jika usulan pemerintah ini sukses, separuh dari kalangan menengan Amerika di akhir dekade pelaksanaan rencana ini akan membayar pajak lebih besar dari pajak yang mereka bayar saat ini.

Joseph Stiglitz, pemenang hadiah nobel ekonomi mengatakan, reformasi sistem perpajakan yang diusulkan pemerintahan Republik merupakan hadiah terbesar bagi para konglomerat dan perusahaan raksasa serta menambah hutang publik negara. Kebijakan ini akan berujung pada penurunan investasi, mandeknya laju produksi dan memburuknya kesetaraan. Untuk memperbaiki kondisi tersebut dibutuhkan waktu selama beberapa dekade.

Di sisi lain, pengurangan pajak perusahaan raksasa dan kubu konglomerat, setiap tahunnya jutaan dolar akan masuk ke kantong mereka di saat lapisan masyarakat yang rentan karena minimnya program kesejahteraan pemerintah, akan mengalami kesulitan lebih besar. Hal ini akan menimbulkan perbedaan pendapatan lebih besar di Amerika Serikat dan perbedaan antara miskin dan kaya semakin lebar. Hal ini menurut kubu penurunan pajak merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari demi mempertahankan daya produksi nasional, pembukaan lapangan kerja dan melawan rival asing.