Film Dokumentar terbaru Michael Moore, Fahrenheit 11/9
-
Film Fahrenheit 11/9, Karya terbaru Michael Moore
Michael Moore, dokumentar kawakan Amerika merilis karya terbarunya dan kali ini ia mulai menyerang Presiden AS Donald Trump. Film dengan judul Fahrenheit 11/9 mengkisahkan tuntutan rakyat Amerika terhadap presiden mereka dan kebijakan penipuan publiknya serta perlawanan rakyat.
Karakteristik utama film garapan sutradara kawakan Michael Moore, 64 tahun adalah bahasanya yang tajam dan keberaniannya menentang politikus khususnya politikus Amerika yang haus kekuasaan. Ia pada tahun 2004 merilis film Fahrenheit 9/11 menyoroti kepemimpinan George W. Bush. Film tersebut menyoroti kebijakan Bush dan perang anti terorisme yang ia lancarkan.
Kini, Moore meluncurkan film terbarunya dengan tema Fahrenheit 11/9 terkait Presiden Donald Trump. Fahrenheit 11/9 adalah sebuah dokumenter politik Amerika tahun 2018 oleh pembuat film Michael Moore tentang pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 dan kepresidenan Donald Trump berikutnya. Film ini ditayangkan perdana di dunia pada 6 September 2018 di 2018 Toronto International Film Festival, dan dirilis di Amerika Serikat pada 21 September 2018, oleh Briarcliff Entertainment.
Distributor menggambarkan film dokumenter ini sebagai "tampilan provokatif dan komedi pada saat kita hidup", mengacu pada pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 dan kepresidenan Donald Trump berikutnya. Dokumenter itu juga mengeksplorasi dua pertanyaan: Bagaimana AS maju ke presidensi Trump dan bagaimana "keluar" dari era pemerintahan Trump.
Judul film bergantung pada notasi tanggal AS untuk merujuk pada 9 November, ketika kemenangan presiden Trump 2016 diumumkan (pemilihan berlangsung sehari sebelumnya). Judul ini secara bersamaan berfungsi sebagai panggilan balik ke dokumenter politik Moore tahun 2004 Fahrenheit 9/11, yang mengacu pada tanggal serangan 11 September di Amerika Serikat. Kedua judul dokumenter Moore adalah referensi untuk 1951 novel dystopian Fahrenheit 451 oleh Ray Bradbury
Film ini menggambarkan lika liku Trump berkuasa dengan memanfaatkan janji-janji yang menipu publik, semangat otoritarianisme dan serangan kerasnya kepada media. Moore di filmnya ini menyamakan cara berkuasa Trump dengan Adolf Hitler di dekade 1930 di Jerman.
Dalam sebuah wawancara di Toronto, Moore menekankan, "Kami warga Amerika saat ini tidak membutuhkan janji dan harapan. Kami membutuhkan kerja nyata. Kami sedang berperang untuk merebut kembali negara kami."
Ia mengajak warga negara Amerika untuk berpartisipasi di pemilu sela Kongres pada 6 November mendatang di berbagai negara bagian vital dan penting Amerika serta berusaha mengalahkan kandidat dari kubu Republik. Sutradara dokumenter kenamaan ini menekankan jika kita ingin maka kita mampu memberi pukulan telak kepada Trump dan dengan ini maka waktu akan berjalan menguntungkan kita. Kita harus bertindak sesuai dengan resistensi nasional Perancis. Sangat penting untuk memahami kondisi darurat seperti yang kita berusaha menunjukkannya dalam film ini.
Sutradara dokumenter kenamaan "Fahrenheit 11/9", Michael Moore (64), membuat klaim mengejutkan di mana dia menyebut bahwa Gwen Stefani adalah alasan Donald Trump maju mencalonkan diri jadi presiden.
Dalam sebuah wawancara dengan The Hollywood Reporter (THR) yang dilansir People pada Rabu (5/9), Moore mengatakan Trump akhirnya memutuskan mengumumkan mencalonkan jadi presiden setelah dia tahu bahwa Gwen Stefani (48) menghasilkan lebih banyak uang sebagai 'coach" di The Voice-nya NBC dibanding Donald Trump saat dia membintangi "The Apprentice".
Moore mengklaim Trump membuat pengumuman kampanye Trump Tower-nya sebagai salah satu jalan untuk menunjukkan pada NBC bahwa dia lebih populer. NBC mulai menayangkan "The Apprentice" pada 2004.
"Dia sudah bicara soal pencalonannya jadi presiden sejak 1998, tapi sebenarnya dia tak begitu mau jadi presiden," kata Moore pada THR.
"Tak ada griya tawang di Gedung Putih. Dan dia tak mau tinggal di sebuah kota hitam. Dia sebenarnya cuma mau mengadu NBC dengan jaringan lain, tetapi rencananya keluarjalur."
Fahrenheit 11/9 dari sisi isi memiliki kesamaan dengan film Moore sebelumnya. Di film ini kita dapat menemukan kritikan tajam terhadap kubu Republik AS, khususnya Donald Trump. Laman The Huffington Post menjelang penanyangan film ini mengajukan pertanyaan kepada Moore apa tujuan pembuatan filmnya kali ini? Moore menjawab Donald Trump secara inheren memiliki kejeniusan jahat (setan) dan tidak berencana meninggalkan Gedung Putih. Kapan saja dan di mana saja Trump mendengar ada seorang presiden abadi di sebuah negara, maka nalurinya akan tergerak dan ia berangan-angan alangkah baiknya jika ia juga menjadi presiden seumur hidup Amerika.
Ia menambahkan, sekolah jurnalis Amerika tidak mendidik mahasiswa bagaimana menyikapi seorang presiden diktator. Mereka benar-benar manjadi alat untuk memuluskan jalan presiden, karena Trump lebih mengenal media ketimbang para wartawan sendiri. Hal ini menempatkan kita di kondisi berbahaya. Sedikitnya Saya berharap film ini dapat menyadarkan kita ancaman terbesar dan menyuarakan kepada warga solusi untuk keluar dari krisis ini.
Setelah menyaksikan film besutan terbaru Moore atau mendengar ucapan kerasnya dalam menentang Trump, mungkin muncul pertanyaan mengapa ia menyamakan Trump dengan Hitler. Jika kita sedikit lebih teliti, kita melihat bahwa Trump pada dasarnya tidak dapat menciptakan kediktatoran seperti kediktatoran Hitler pada tahun 2017 karena tidak ada partai independen dan tidak ada militan yang setia! Undang-undang yang ia setujui dapat ditolak oleh Mahkamah Agung. Undang-undang terkait media masih tetap berlaku dan sedikitnya walikota dua negara bagian, California dan Washington tidak dapat dicopot dengan instruksi presiden. Secara total ada pembatasan wewenang Trump yang tidak dimiliki oleh Hitler. Selain itu, masa kecil dan pengalaman perang Hitler dan Trump sangat berbeda serta pandangan mereka terkait kekayaan dan perempuan juga memiliki perbedaan sangat besar.
Namun begitu ada satu poin penting di mana kondisi sejarah terkait puncak politik keduanya memiliki kesamaan. Kesamaan ini dapat dijadikan sandaran untuk menyamakan keduanya. Dan sejauh ini, banyak tokoh di arena sosial dan politik telah membuat perbandingan ini.
Misalnya buku On Tyranny: Twenty Lessons from the Twentieth Century tulisan Timothy D. Snyder, salah satu buku penting yang dirilis di tingkat internasional. Snyder seraya mengingatkan tragedi kemanusiaan dan era despotisme abad 20, membahas kondisi Amerika saat ini dan perilaku Trump. Di awal bukunya, Snyder menyebutkan contoh despotisme di abad 20. Contoh-contoh seperti berkuasanya Hitler, Perang Dunia Kedua, pemerintahan Uni Soviet dan kemenangan kubu Komunis di Cekoslowakia.
Penulis dengan apik membedah rencana dan peran AS, Uni Soviet serta Nazi Jerman dan Komunis. Dalam sebuah bab, Snyder mengkaji trik Hitler dan kesamaannya dengan perilaku Trump untuk meraih kekuasaan. Seraya memperhatikan kebijakan makro AS dan lika liku berkuasanya Trump serta menyebutkan kesamaannya dengan tim kapanye NAZI, Snyder mengisyaratkan pendekatan berita dan program televisi Amerika. Ia menulis, menonton berita televisi terkadang tidak ada perbedaannya dengan memandang seseorang yang sedang menyaksikan gambar orang lain. Kita tahu ekstasi dan perasaan kelompok ini seperti biasa, dan perlahan-lahan jatuh ke dalamnya.
Sementara itu, laman New York Times di laporannya membandingkan Trump dengan Hitler dari sisi keduanya memanfaatkan sarana penipuan publik. Dalam sebuah catatan Charles Blue, pengamat politik disebutkan, ada strategi yang dimanfaatkan Hitler untuk berkuasa di Jerman dan memicu pemerintahan yang berlumuran darah. Hal ini dapat memberi pelajaran kepada kita atas sebuah politik. Salah satu pelajaran tersebut adalah bagaimana kebohongan terencana mampu menimbulkan efek besar bagi kampanye.