Malaysia: Krisis Energi Global akan Bayangi Pasar selama 2 Tahun
https://parstoday.ir/id/news/daily_news-i192274-malaysia_krisis_energi_global_akan_bayangi_pasar_selama_2_tahun
Pars Today – Menteri Ekonomi Malaysia memperingatkan bahwa konsekuensi krisis energi global dan fluktuasi harga serta pasokannya kemungkinan besar akan mempengaruhi pasar hingga 2 tahun ke depan, dan meskipun terjadi penurunan harga minyak mentah, proses pemulihan penuh rantai pasokan dan pasar membutuhkan waktu.
(last modified 2026-06-29T09:37:45+00:00 )
Jun 29, 2026 16:31 Asia/Jakarta
  • Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasir
    Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasir

Pars Today – Menteri Ekonomi Malaysia memperingatkan bahwa konsekuensi krisis energi global dan fluktuasi harga serta pasokannya kemungkinan besar akan mempengaruhi pasar hingga 2 tahun ke depan, dan meskipun terjadi penurunan harga minyak mentah, proses pemulihan penuh rantai pasokan dan pasar membutuhkan waktu.

Menurut laporan IRNA dari surat kabar "The Star," Akmal Nasir Senin (29/6) di Dewan Perwakilan Rakyat Malaysia menyatakan bahwa ketidakpastian global tentang harga dan pasokan energi kemungkinan besar akan terus mempengaruhi pasar selama satu hingga dua tahun ke depan, dan kondisi diperkirakan akan berangsur-angsur stabil mulai kuartal ketiga tahun 2026.

 

Menteri Ekonomi Malaysia, dengan menyatakan bahwa pemulihan pasar setelah krisis pasokan global membutuhkan waktu, menambahkan bahwa penurunan harga minyak mentah tidak berarti penghapusan segera konsekuensi krisis, dan dampaknya terhadap biaya transportasi, pasokan bahan bakar olahan, input pertanian, dan harga komoditas akan terus berlanjut.

 

Ia menegaskan: "Namun demikian, kami tidak akan menunggu sampai kondisi pulih sepenuhnya. Tindakan pengawasan dan intervensi akan terus dilakukan sepanjang periode pemulihan untuk mengurangi tekanan pada masyarakat, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor industri."

 

Akmal Nasir mengatakan bahwa pemerintah Malaysia akan menggunakan tantangan saat ini sebagai peluang untuk memperkuat ketahanan (resiliensi) jangka panjang ekonomi dalam kerangka "Rencana Malaysia ke-13" (13MP). Menurutnya, peningkatan produktivitas, pengembangan industri bernilai tambah tinggi, penguatan ketahanan pangan, percepatan transisi energi, mendorong digitalisasi, dan pengembangan sumber daya manusia adalah prioritas terpenting dari rencana ini.

 

Ia menambahkan bahwa di bidang ketahanan pangan, pemerintah Malaysia dalam rencana ini akan fokus pada penguatan rantai pasokan domestik, peningkatan kapasitas produksi produk pertanian dan pangan, diversifikasi sumber impor, dan pengurangan ketergantungan pada input impor strategis.

 

Menteri Ekonomi Malaysia di akhir pernyataannya mencatat bahwa pemerintah negaranya juga telah memperketat pengawasan terhadap pencarian keuntungan ilegal dan penyelundupan untuk mencegah penyalahgunaan tekanan pasar global guna menaikkan harga secara tidak rasional.

 

Perang melawan Iran dan penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan negara-negara Asia Tenggara, yang bergantung pada impor minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia, menghadapi guncangan energi yang parah, peningkatan biaya bahan bakar dan transportasi, serta tekanan keuangan, dan telah memaksa pemerintah-pemerintah kawasan untuk meninjau kembali strategi keamanan energi mereka.

 

Sebuah analisis yang dipublikasikan di situs web "The Edge" Malaysia menilai kesepakatan Iran dan AS sebagai "langkah maju yang penting" untuk mengurangi ketegangan dan menahan konsekuensi ekonomi perang, tetapi ditekankan bahwa kembalinya stabilitas ke ekonomi global bergantung pada bagaimana kesepakatan ini diimplementasikan, pembukaan kembali Selat Hormuz yang berkelanjutan, dan penyelesaian masalah-masalah mendasar antara kedua negara. (MF)