Media Zionis: Hamas Akan Jadi Penguasa Tunggal Gaza Pasca-Gencatan Senjata
https://parstoday.ir/id/news/daily_news-i194188-media_zionis_hamas_akan_jadi_penguasa_tunggal_gaza_pasca_gencatan_senjata
Pars Today – Seorang Analis Zionis mengatakan bahwa sebagai akibat dari pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata, "Tel Aviv" memberikan banyak konsesi melalui penarikan diri dari Gaza, penghentian operasi militer, dan pembunuhan terarget, sementara Hamas memperkuat kehadirannya di dalam Jalur Gaza.
(last modified 2026-08-01T13:01:22+00:00 )
Aug 01, 2026 19:58 Asia/Jakarta
  • Pejuang Palestina
    Pejuang Palestina

Pars Today – Seorang Analis Zionis mengatakan bahwa sebagai akibat dari pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata, "Tel Aviv" memberikan banyak konsesi melalui penarikan diri dari Gaza, penghentian operasi militer, dan pembunuhan terarget, sementara Hamas memperkuat kehadirannya di dalam Jalur Gaza.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr, surat kabar Zionis Yedioth Aharonoth dalam sebuah laporan menulis bahwa "peta jalan" pelaksanaan rencana Donald Trump, Presiden AS, mengenai Gaza, akan mempertahankan Gerakan Hamas sebagai aktor utama dan memiliki pengaruh nyata di jalur ini, bahkan jika pemerintahan teknokrat Palestina dibentuk dan dilucuti.

 

Surat kabar ini dalam sebuah analisis oleh Ron Ben-Yishai, analis urusan militer, menulis bahwa Hamas "akan menjadi kekuatan yang mengelola Gaza dari balik layar."

 

Ron Ben-Yishai menambahkan bahwa dokumen yang diterbitkan oleh "Dewan Perdamaian" lebih merupakan deklarasi yang ambigu daripada kesepakatan yang mengikat, dan banyak masalah mendasar, termasuk sifat persenjataan yang harus diserahkan Hamas dan mekanisme pengawasannya, dibiarkan tanpa jawaban yang jelas.

 

Ia menambahkan bahwa rencana ini memberikan kepada Hamas status yang mirip dengan Hizbullah di Lebanon; karena ia akan mempertahankan pengaruh politik dan keamanannya melalui elemen-elemen yang mungkin bergabung dengan pasukan polisi baru, dan juga kader-kadernya akan terus mengelola lembaga-lembaga pemerintahan dari balik layar, tanpa harus memikul tanggung jawab langsung atas administrasi Jalur Gaza.

 

Penulis ini menyatakan bahwa perbedaan pendapat masih ada antara Tel Aviv dan Hamas mengenai waktu penarikan militer Zionis dari "garis kuning" dan mengaitkannya dengan proses pelucutan senjata, tetapi ia percaya bahwa ini bukanlah inti dari perselisihan; melainkan masalah fundamentalnya adalah bahwa rencana ini tidak mengakhiri pengaruh Hamas di dalam Gaza.

 

Ia selanjutnya merujuk pada salah satu poin penting yang menguntungkan Hamas, yang mencakup pembubaran milisi-milisi yang bekerja sama dengan para penjajah dan penghapusan total mereka dari panggung Gaza.

 

Analis Zionis ini percaya bahwa dokumen tersebut membawa pencapaian politik dan moral bagi Hamas, yang paling menonjol adalah pembicaraan tentang "jalan yang dapat dipercaya" menuju pembentukan negara Palestina. Hal ini memungkinkan Hamas untuk secara bertahap membangun kembali kemampuannya.

 

Ben-Yishai di akhir mengatakan bahwa sebagai akibat dari kesepakatan ini, Tel Aviv akan menjadi pihak yang memberikan konsesi melalui penarikan diri dari Jalur Gaza, penghentian operasi militer, dan pembunuhan terarget; sementara Hamas akan memperoleh pencapaian politik dan keamanan yang akan memperkuat kehadirannya di dalam Jalur Gaza. (MF)