Kerukunan Beragama Menentukan Kemajuan Bersama
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i51403-kerukunan_beragama_menentukan_kemajuan_bersama
Utusan Presiden dalam Dialog dan Kerjasama Antara Agama dan Peradaban, Din Syamsuddin, menyatakan enam agama yang hidup dan tumbuh di Indonesia tidak melulu berbeda, tapi memiliki banyak persamaan. Hal itulah yang menjadi tolok ukur bersama kemajuan di Indonesia.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Feb 11, 2018 13:09 Asia/Jakarta

Utusan Presiden dalam Dialog dan Kerjasama Antara Agama dan Peradaban, Din Syamsuddin, menyatakan enam agama yang hidup dan tumbuh di Indonesia tidak melulu berbeda, tapi memiliki banyak persamaan. Hal itulah yang menjadi tolok ukur bersama kemajuan di Indonesia.

"Itu memiliki persamaan yang banyak seperti dalam kerukunan dan kerjasama untuk bangsa Indonesia," kata Din Syamsuddin dalam sambutan di Puncak Perayaan Agenda PBB World Interfaith Harmony Week, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2018).

Persamaan itulah, kata Din, yang membuat Indonesia kokoh dan tidak mudah dipecah belah oleh pihak-pihak tertentu.

"Dengan kerukunan, persatuan dan kesatuan Indonesia yang menentukan bisa untuk kemajuan bersama," jelas Din Syamsuddin.

Di tempat sama, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyatakan kegiatan ini sekaligus untuk mengingatkan semua pihak tentang komitmen toleransi umat beragama yang harmoni dan bersatu.

"Apalagi itu dilakukan oleh pimpinan atau pemuka umat beragama organisasi-organisasi keagamaan," ujar dia.

Terpenting, Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyebut setiap umat dapat saling mewaspadai pihak-pihak yang ingin merusak kerukunan umat beragama di Indonesia.

Din Syamsuddin, Utusan Presiden Untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama

Sebab, kata dia, terdapat pihak yang menyerang salah satu agama sehingga agama tersebut dapat memberikan kecurigaan kepada agama yang lainnya.

"Menurut saya tantangan dari umat beragama yaitu untuk tetap waspada ada pihak-pihak yang ingin megacobalokan kehidupan beragama di Indonesia," jelas Hidayat.

Perwakilan dari pemuka-pemuka agama di seluruh Indonesia berkumpul di Hotel Grand Sahid, Sudirman, Jakarta Pusat, hari ini Minggu (11/2). Para pemuka agama pun saling curhat satu sama lain dan mencari jalan keluar untuk tetap saling menjaga keharmonisan dalam bernegara.

Utusan Presiden Untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama, Din Syamsuddin mengatakan, pertemuan berlangsung santai namun tidak mengurangi makna dan tujuan pertemuan itu.

"Dirancang biar bicara dari hati ke hati, curhat mengemukakan apa saja yang terjadi. Proses dialognya sangat akrab, terbuka, terus terang penuh dengan tenggang rasa dan toleransi, saling memahami hasilnya menjadi penting bagi bangsa dan negara," kata Din usai menutup acara Musyawarah Besar Pemuka-Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa, Sabtu (10/2/2018).

Din melanjutkan, pertemuan yang digelar selama 3 hari itu juga merumuskan poin-poin kesepakatan dalam membangun kerukunan umat beragama di Indonesia.

"Hasilnya lancar dengan merumuskan beberapa hal yang sangat penting, membangun kerukunan umat beragama yang tentunya mempunyai implikasi bangsa dan negara," imbuh Din.

Mantan Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan keprihatinannya terkait tragedi penyerangan di Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Padahal dalam hari yang sama dirinya bersama pemangku umat beragama selesai melaksanakan musyawarah antarumat beragama untuk bangsa Indonesia.

Shalat Idul Fitri di Indonesia

"Saya ini menyampaikan rasa keprihatinan mendalam kepada keluarga korban baik pemimpin jemaat maupun sebagian jemaat dari gereja di Sleman, Yogyakarta," kata Din di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2018).

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga menyebut peristiwa tersebut bukanlah peristiwa biasa. Dia menyebut terdapat oknum yang telah merekayasa untuk menganggu kerukunan dan stabilitas bangsa.

Walaupun tidak memiliki bukti, Din menyebut penyerangan di Gereja St Lidwina seperti halnya peristiwa beruntun dari yang sebelumnya terjadi.

"Saya punya kesimpulan ini bukan peristiwa biasa, ini mudah dibaca bahwa ada yang bermain. Saya tidak punya bukti, kalau sudah sampai peristiwanya beruntun bahkan ada ancaman," ujar dia.

Karena hal itu Din mengharapkan agar aparat penegak hukum dapat menyikapi peristiwa penyerangan Gereja St Lidwina ini dengan tenang. Sehingga tidak menimbulkan suatu sumber perpecahan di Indonesia.

"Harapan kita agar aparat keamanan betul-betul bisa menyingkap ini semua. Jangan sampai ini menjadi sumber perpecahan," jelas Din. (Liputan6)