ISEI Ingin Perkuat Kontribusi bagi Ekonomi RI
-
Ketua Umum ISEI Perry Warjiyo yang juga Gubernur Bank Indonesia (BI).
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) berkeinginan untuk memperkuat kontribusinya bagi ekonomi Indonesia. Terlebih organisasi ini sudah memasuki usia ke-64 sejak berdiri pada 14 Januari 1955 lalu.
Ketua Umum ISEI Perry Warjiyo mengatakan kontribusi ISEI terhadap kemajuan ekonomi Indonesia sesuai dengan visinya. Untuk itu, ISEI diharapkan ikut menyumbang pemikiran bagi kemajuan ekonomi nasional.
"Yaitu pemikiran kita bagaimana memperkuat ekonomi tidak hanya tingkatkan pertumbuhan ekonomi tapi juga turunkan CAD dan mendorong ekonomi secara inklusif di pusat dan daerah," kata dia di Kantor ISEI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 28 Januari 2019, seperti dikutip Metrotvnews.
Dirinya menambahkan pemikiran dari anggota ISEI tidak hanya dari sisi permintaan tapi juga pemikiran kebijakan sektor rill atau struktural. Hal ini diharapkan mampu berkontribusi nyata bagi perekonomian.
"Bagaimana kita perkuat industri, mendorong ekspor dan kurangi impor. Bagaimana kita dorong pariwisata, dorong UMKM dan berbagai hal yang harus dilakukan di pusat dan daerah," jelas dia.
Tak hanya itu, pesatnya perkembangan ekonomi digital juga perlu menjadi perhatian. Perry menyebut ekonomi digital bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan inklusi, mendukung UMKM dan ekonomi kerakyatan.
"Jadi semakin mendorong tidak hanya pasar ritel tapi juga perkuat ekonomi kerakyatan kita. Bagaiman ekonomi digital dikaitkan dengan keuangan digital baik melalui digital banking dan fintech," pungkasnya.
Indonesia Sensitif dengan Penurunan Ekonomi Tiongkok
Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tahun ini diproyeksikan melemah memberi dampak pada negara emerging market, termasuk Indonesia. Pasalnya, Tiongkok banyak menyerap barang komoditas dari Indonesia seperti batu bara.
"Kita lebih sensitif dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok dibandingkan Amerika Serikat, karena perdagangan kita dengan Tiongkok 15 persen, sedangkan AS 10 persen," jelas Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani di Kantor ISEI.
Melihat kondisi ini, tambah Rosan, Kadin mulai mengambil langkah dengan melakukan efisiensi. "Kami juga negosiasi dengan pemerintah soal kemungkinan mendapatkan insentif kalau bisa ekspor banyak," paparnya.
Konsensus memperkirakan ekonomi Tiongkok akan tumbuh 6,4 persen di kuartal IV-2018 atau turun tipis dari 6,5 persen pada kuartal III-2018. Data pertumbuhan domestik bruto (PDB) Tiongkok akan menjadi pedoman bagi para investor terhadap negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.
Ekonomi Tiongkok yang bertahan selama sebagian besar tahun lalu, sekarang tampaknya melambat karena metrik produksi dan pesanan ekspor jatuh di tengah sengketa perdagangan negara itu dengan AS, mitra dagang terbesarnya.
Di luar pertarungan tarif, ekonomi Tiongkok menghadapi tantangan domestiknya sendiri. Bahkan sebelum Presiden AS Donald Trump memulai peningkatan terbaru dalam ketegangan perdagangan, Beijing sudah berusaha mengelola perlambatan ekonomi setelah puluhan tahun mengalami pertumbuhan yang sangat buruk. (RM)