GUSDURian Sedunia Peringati HUT ke-75 RI dengan Cara Unik
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i84354-gusdurian_sedunia_peringati_hut_ke_75_ri_dengan_cara_unik
Peringatan Hari ulang tahun ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dirayakan dengan cara yang cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena menghadapi penyebaran Covid-19.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Aug 16, 2020 17:56 Asia/Jakarta
  • GUSDURian  Sedunia  Peringati  HUT ke-75 RI dengan Cara Unik

Peringatan Hari ulang tahun ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dirayakan dengan cara yang cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena menghadapi penyebaran Covid-19.

GUSDURian sebagai bagian dari elemen bangsa Indonesia ikut merayakan momentum penting ini dengan caranya yang unik dan menarik. Meskipun digelar secara online, tapi penyelenggaraan acara yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh para anggota yang tersebar di 130 kota di seluruh Indonesia dan juga luar negeri.

Upacara bendera yang dipimpin oleh Jay Akhmad dimulai dengan laporan kesiapan perwakilan dari enam titik wilayah Indonesia dari Papua hingga ibu kota Jakarta dalam bahasa daerah masing-masing.  Selain pengibaran bendera dan pemutaran lagu Indonesia Raya dalam 3 stanza,  peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI  yang digelar  GUSDURian memiliki kekhasan tersendiri.

Roy Murthado membacakan teks Pancasila dengan tambahan tafsir reflektif dan kontekstual dari kelima sila ini.

 "Seharusnya tak ada satupun entitas di dunia ini yang layak dituhankan selain Tuhan itu sendiri. Sayangnya di zaman kapitalisme mutakhir dan mewabahnya  takfir, tak sedikit manusia beriman, entah di sengaja atau tidak, sedang mencari tuhan-tuhan baru. Mempertuhankan nafsu akumulasi kapital, mempertuhankan penghisapan manusia atas manusia, mempertuhankan jabatan dan kekayaan. Bahkan ada pula yang mempertuhankan diri dan tafsir agamanya seolah-olah sebagai yang paling benar atau mutlak benar dengan menghardik dan mengancam tafsir orang lain yang berbeda," ujar pendiri pesantren ekologis Misykat Al-Anwar ini.

Mengenai tafsir kontekstual dari sila kedua pancasila, aktivis GUSDURian dan pendiri media Islam bergerak  ini menegaskan, "Kemanusiaan hanya mungkin tegak berdiri di atas keadilan dan keadaban. Distribusi sumber daya ekonomi secara adil dan merata, merawat keragaman dengan adab dan budaya. Tanpa keadilan dan keadaban, kemanusiaan hanya tinggal jargon dan utopia. Inilah tantangan manusia Indonesia saat ini di tengah kebangkitan oligarki di satu sisi dan suara-suara kebencian rasial dan permusuhan identitas di sisi lainnya…".

Pada bagian doa, berbagai pemimpin agama dari Islam, Hindu, Budha, Katolik, Kristen Protestan dan Islam menyampaikan doa untuk bangsa dan negara dan negara ini.

Menjelang penghujung acara, Alissa Wahid menyampaikan orasi kebangsaan  yang tajam, kuat dan memukau.

Puteri sulung Gus Dur ini memulai orasinya dengan kalimat menghentak, "Hari ini kita memperingati 75 tahun sejak republik ini berdiri. Republik ini diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai seruan nyaring bahwa bangsa ini merdeka dan berdaulat penuh atas dirinya, berdaulat penuh untuk menentukan nasib bangsanya, berdaulat penuh untuk mengelola setiap jengkal tanah, setiap tetes air, setiap hembusan udaranya, dan tidak lagi menerima hadirnya kelompok-kelompok luar yang mendaku sebagai penguasa dan memperhambakan manusia-manusia Nusantara,".

"Republik itu tidak diproklamirkan sebagai hadiah, sebagaimana beberapa negara lainnya. Republik itu tidak diproklamirkan dalam keadaan nyaman aman, tetapi melalui pergulatan panjang dan berdarah. Republik itu tidak diproklamirkan dengan kesiapan segala tetek-bengek yang mengatur dan mewadahi kehidupan warganya. Republik itu tidak diproklamirkan dengan satu suara dan keseragaman atas gagasan bernama Indonesia ini, sebagai konsekuensi atas watak keberagaman Nusantara," tegas pendiri GUSDUrian ini.

Dari kelokan sejarah detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, orasi  Alissa mengajukan sebuah pertanyaan menohok, "Hari ini, setelah 75 tahun berlalu, di mana kita sekarang berada?"

Aktivis sosial perempuan Indonesia ini memaparkan deretan pengakuan dunia terhadap Indonesia. Ia menjelaskan, "Banyak kemajuan yang telah kita catatkan dalam sejarah. Kita masih menjadi kekaguman internasional untuk demokratisasi yang cukup stabil. Kita masih menuai pujian sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang cukup baik. Bangsa kita masih menjadi model dunia untuk harmoni dalam keberagaman, dan secara spesifik menjadi model bagaimana Islam dan demokrasi dapat saling memperkuat, bukan hanya hidup berdampingan,".

Meski demikian, Alissa dalam paparan lanjutan orasinya mulai menyampaikan keresahan mengenai tercapaikah tujuan negara setelah melewati usia 75 tahun ini.

"Sebagai negara bangsa, kita telah menetapkan tujuan negara yang berdaulat, adil, dan makmur. Pertanyaannya, ke arah mana saat ini kita bergerak? Apakah kita sudah di jalur yang tepat menuju tujuan itu? Atau, justru kita bergerak menjauh darinya?" papar psikolog keluarga ini mengajukan pertanyaan menukik.

Sebagai aktivis yang telah matang, Alissa menyampaikan pandangannya tentang kemerdekaan dalam lintas waktu perjalananan 75 tahun negara ini dengan perspektif realistis. 

"Kemerdekaan hakiki belum sepenuhnya kita wujudkan, bahkan tampaknya kita semakin menjauh. Tidak semua rakyat Indonesia menikmati kemerdekaan hak-hak asasi dan hak-hak konstitusinya. Masih banyak kelompok rakyat jelata yang ditindas oleh kuasa pemilik modal dan tak mampu mempertahankan hak atas tanahnya. Masih banyak kelompok rakyat jelata yang tak mendapatkan perlindungan atas praktik-praktik berbahaya, seperti mereka-mereka yang jatuh tewas di lubang-lubang tambang yang tak direklamasi oleh pemilik bisnis yang serakah," tegas Alissa.

Berbagai pekerjaan rumah bersama sebagai bangsa diurainya satu persatu, dari perlindungan terhadap rakyat kecil, kelompok keyakinan dan agama yang tidak terpenuhi hak-haknya untuk beribadah, tekanan terhadap minoritas, keadilan sosial yang masih jauh dari realisasi, rakyat tertindas yang dijarah hak-haknya, keadilan untuk perempuan, masalah kemiskinan hingga pemerataan pembangunan yang masih timpang.

Menurutnya, semua pekerjaan rumah besar ini adalah tantangan  panjang yang harus terus diperjuangan bersama.

"Di hari kemerdekaan ini, marilah kita berefleksi pada 17 Agustus 1945. Dalam ketidakpastian, ketidaknyamanan, ketidaksiapan, ketidakseragaman, dan keterbatasan, kita melahirkan republik ini. Tidak menunggu kondisi lebih baik atau kesiapan kita," jelas aktivis kemanusiaan ini.

Kepada para anggota GUSDURian sedunia, Alissa menekankan pentingnya perjuangan melawan ketidakadilan, "Di tengah ketidakpastian, ketidaknyamanan, ketidaksiapan, keterbatasan kita saat ini, mampukah kita berdiri dan memancangkan tekad untuk membuat proklamasi kemerdekaan 1945 menjadi nyata? Mampukah kita melawan ketidakadilan yang masih merajalela untuk mewujudkan cita-cita bangsa?,"

Sambil mengutip petuah sang ayah, Alissa menghembuskan spirit besar untuk terus berjuang dengan statemennya, "Gus Dur mengatakan, yang “paling Indonesia” di antara semua nilai yang diikuti warga bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau. Sejatinya, di sinilah modal utama kita untuk terus bergerak dan berjuang,".

Di penghujung orasinya, Alissa mengajak para pencinta GUSDUR untuk terus berjuang demi Indonesia, "Di hari yang mulia ini, di hari pertama tahun ke76 kemerdekaan kita, sebagai GUSDURian, mari kita bulatkan tekad untuk menetapkan martabat kita sebagai manusia, dengan melompati pagar batas ketakutan kita. Tidak menunggu, terus bergerak, terus berjuang. Demi rakyat,". Dirgahayu Republik Indonesia.(PH)