Isu JCPOA dalam Pertemuan Wakil Menlu Iran dan Rusia
https://parstoday.ir/id/news/iran-i110578-isu_jcpoa_dalam_pertemuan_wakil_menlu_iran_dan_rusia
Ali Bagheri Kani, Wakil Menteri Luar Negeri Iran bertemu dengan sejawatnya dari Rusia Sergei Ryabkov di Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow pada hari Selasa untuk membahas sejumlah isu penting.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Des 08, 2021 08:57 Asia/Jakarta

Ali Bagheri Kani, Wakil Menteri Luar Negeri Iran bertemu dengan sejawatnya dari Rusia Sergei Ryabkov di Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow pada hari Selasa untuk membahas sejumlah isu penting.

Iran melakukan kontak intensif dengan Rusia dan China di tengah upaya baru dimulainya perundingan Wina. Babak baru perundingan Wina membahas pencabutan sanksi terhadap Iran yang dimulai Senin lalu (29/11/2021) dan berlanjut hingga Jumat.

Iran memasuki putaran ketujuh pembicaraan Wina dengan niat baik dan  bertujuan mencabut sanksi sepihak, sekaligus menunjukkan kesiapannya untuk mencapai kesepakatan yang baik.

Dalam putaran pembicaraan ini, Iran mempresentasikan dua dokumen dalam dua masalah mengenai pencabutan sanksi AS dan komitmen nuklir pihak lain di JCPOA. Anggota JCPOA dari Eropa dan Amerika Serikat yang menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional ini pada 2018, terus memperumit perundingan Wina dengan mengabaikan hak-hak Iran dan mencoba mengikat JCPOA dengan masalah lain.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Rusia, Kommersant, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan bahwa situasi saat ini yang menimpa program nuklir Iran diciptakan karena Amerika Serikat belum menyerah dalam upaya untuk menghancurkan JCPOA.

 

 

Perundingan Wina

 

Iran mencari kesepakatan yang baik tentang JCPOA 2015 dan menekankan bahwa semua komitmen JCPOA harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu, Iran belum memasuki masalah baru dalam pembicaraan putaran ketujuh, tetapi fokusnya mengenai kelanjutan pembicaraan putaran keenam. Dengan menghormati pembicaraan sebelumnya, Iran telah menyampaikan teks rancangan barunya pada perundingan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menyinggung putaran ketujuh pembicaraan Wina, terutama pandangan AS dan negara-negara Eropa terhadap tuntutan Iran dalam putaran baru pembicaraan ini dengan mengatakan, "Berdasarkan dokumen kesepakatan yang telah dicapai selama enam perundingan sebelumnya, kedua pihak mencapai kesepakatan komprehensif dan mendalam mengenai pencabutan sanksi dan masalah nuklir. AS sebagai pihak pertama yang menyulut krisis nuklir Iran harus mencabut semua sanksi ilegal dan unilateral terhadap Iran, Cina dan pihak ketiga lainnya,"

Republik Islam Iran telah menunjukkan kepatuhan terhadap kewajibannya dalam praktik dan sekarang sepenuhnya siap dan bertekad untuk mencapai kesepakatan adil yang menjamin hak-hak sah rakyat Iran.

Pengulangan klaim tak berdasar dan tuntutan irasional Amerika Serikat dan Eropa terhadap Iran menegaskan keyakinan bahwa kebijakan bersama sedang dilakukan untuk mempengaruhi suasana dalam pembicaraan Wina. Langkah mereka itu tidak akan memiliki kekuatan hukum, tetapi akan meningkatkan kompleksitas masalah saat ini. Negosiator Iran telah meminta pihak lain dalam perundingan untuk bertindak tidak lebih atau kurang dari JCPOA.

Pihak Barat, bagaimanapun, secara praktis mencoba menyalahkan Iran atas perpanjangan pembicaraan dan penyebab kemungkinan kegagalan perundingan. Padahal selama ini Iran fokus dalam dialog yang berada di jalurnya. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri Iran, tidak ada cara bagi Amerika Serikat untuk kembali ke JCPOA tanpa mencabut sanksi yang menindas Republik Islam Iran.(PH)