Menlu Iran dan Urgensi Mengesampingkan Perilaku Ganda AS
https://parstoday.ir/id/news/iran-i123652-menlu_iran_dan_urgensi_mengesampingkan_perilaku_ganda_as
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian menjalin kontak telepon dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell Sabtu (18/6/2022).
(last modified 2026-04-05T11:58:22+00:00 )
Jun 19, 2022 11:57 Asia/Jakarta
  • Kontak Telepon Abdollahian dan Borrell
    Kontak Telepon Abdollahian dan Borrell

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian menjalin kontak telepon dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell Sabtu (18/6/2022).

Di kontak tersebut, kedua pihak membahas perkembangan terbaru perundingan Wina untuk mencabut sanksi zalim terhadap Iran.

Seraya memuji upaya Borrell untuk meraih kesepakatan dan kritik atas langkah tak konstruktif serta tergesa-gesa AS merilis resolusi di Dewan Gubernur IAEA serta menjawab permintaan untuk melanjutkan perundingan, Amir-Abdollahian mengungkapkan, Tehran menyambut perundingan rasional dan untuk meraih hasil, tapi untuk mencapai kesepakatan yang baik dan berkesinambungan, pihak seberang harus mengesampingkan perilaku ganda dan kontradiktifnya.

Sementara itu, Borrell di kontak telepon ini seraya mengungkapkan minat untuk melanjutkan peran positif dalam mencapai kesepakatan final mengungkapkan, “Solusi untuk keluar dari kondisi saat ini adalah melanjutkan diplomasi dan menghindari langkah-langkah yang tidak konsturktif.”

Perundingan Wina (dok)

Seraya mengakui tekad konstruktif Iran untuk meraih kesepakatan yang baik dan berkesinambungan, Borrell mengatakan, kita tidak jauh untuk meraih kesepakatan di Wina, dan kini tiba saatnya perundigan kembali digelar dan dengan cepat dimulai kembali, serta diupayakan untuk mencegah meningkatnya tensi.

Penegasan kembali Iran tentang perlunya mengesampingkan perilaku ganda dan kontradiktif Amerika Serikat terhadap Iran dan JCPOA masuk akal mengingat posisi dan tindakan ganda pemerintahan Biden dalam hal ini.

Presiden AS Joe Biden selama beberapa tahun terakhir melontarkan slogan kembali ke kesepakatan nuklir JCPOA. Bahkan Juru Bicara Kemenlu AS, Ned Price di sikap terbarunya menyebut kembali ke JCPOA menguntungkan Amerika. Namun demikian, setelah hampir dua setengah tahun dari janji tersebut, pendekatan kontradiktif AS terkait sikap dan langkah mengenai JCPOA dan Iran semakin nyata.

Setelah delapan babak perundingan panjang di Wina antara Iran dan Kelompok 4+1 serta dengan dihadiri secara tidak langsung oleh Amerika, dan meski ada harapan pada awalnya terkait dicapainya kesepakatan soal pencabutan sanksi terhadap Iran oleh Amerika dan kembalinya Iran menunaikan komitmen JCPOA, tapi kini muncul keragunan dan bahkan pesimisme di bidang ini.

Faktanya, Amerika Serikat sedang mencoba untuk melempar bola ke  Iran dengan alasan kegagalan pembicaraan Wina dan menyalahkan Tehran atas situasi yang tidak diketahui saat ini. Iran, di sisi lain, telah berulang kali membuat tuntutannya jelas dan tegas, dan pemerintah Biden tampaknya tidak ingin atau tidak dapat menanggapi secara positif tuntutan rasional ini.

Pemerintahan Biden, pada dasarnya, melanjutkan pendekatan pemerintahan Trump untuk melanjutkan kampanye tekanan maksimum terhadap Iran, dan sambil meningkatkan tuntutan pasca-konflik, pada dasarnya tidak memiliki keinginan untuk menanggapi secara positif tuntutan sah dan legal Iran. Ini diperparah oleh fakta bahwa hampir semua anggota parlemen Republik dan banyak Demokrat telah menyatakan penentangan mereka terhadap perjanjian apa pun dengan Iran tanpa mempertimbangkannya di Kongres.

Mengingat ketidakpastian dan kebingungan pihak Amerika menjawab tuntutan legal dan rasional Iran, perundingan pencabutan sanksi di Wina berhenti sejak beberapa bulan lalu. Pemerintah Biden sejak awal perundingan Wina berulang kali berusaha menuding berbagai pihak termasuk Iran dan Rusia sengaja memperlambat proses perundingan dan menciptakan penghalang ketimbang memberi inisiatif praktis untuk memajukan perundingan.

Selain itu, Washington, meski mengakui kegagalan pendekatan represi dan sanksi terhadap Iran, tapi tetap saja mengancam Tehran. Jake Sullivan, penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih mengatakan, “Langkah yang diambil Iran terkait pengayaan dan mekanisme verifikasi tidak bermanfaat, dan kami menjawabnya dengan meningkatkan tekanan ekonomi. Kami menjatuhkan sanksi kepada Iran, sanksi lebih banyak sedang menunggu.”

Kini sepertinya Uni Eropa berencana mengambil langkah darurat untuk menghidupkan kembali JCPOA dan kontak telepon Borrell dengan Amir-Abdollahian dilakukan untuk hal ini. Meski demikan, tanpa perubahan pendekatan Amerika saat ini terkait JCPOA dan memenuhi tuntutan Iran, pemulihan JCPOA dan implementasi komitmen JCPOA oleh Tehran tidak akan terwujud.

Amir-Abdollahian terkait hal ini mengatakan, “Setelah perilisan resolusi Dewan Gubernur IAEA, Kami menunjukkan bahwa kami tidak akan mundur dari hak bangsa Iran, dan jika AS ingin melanjutkan perilaku tak konstruktifnya, maka mereka akan menghadapi jawaban tepat kami. Kami tetap meyakini bahwa diplomasi sebagai solusi terbaik dan paling tepat.” (MF)