Menyimak Perundingan Abdollahian dan Borrell; Sikap Pasif Eropa
https://parstoday.ir/id/news/iran-i135850-menyimak_perundingan_abdollahian_dan_borrell_sikap_pasif_eropa
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian Selasa (20/12/2022) di sela-sela Konferensi Baghdad 2 di Amman, Yordania menggelar pertemuan bersama dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell.
(last modified 2026-03-10T11:25:59+00:00 )
Des 20, 2022 21:47 Asia/Jakarta
  • Perundingan Amir-Abdollahian dan Borrell di Amman
    Perundingan Amir-Abdollahian dan Borrell di Amman

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian Selasa (20/12/2022) di sela-sela Konferensi Baghdad 2 di Amman, Yordania menggelar pertemuan bersama dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell.

Dalam pertemuan ini dibahas isu-isu terpenting yang menjadi agenda Iran dan Uni Eropa, khususnya kondisi yang ada di perundingan Wina.

Selama pertemuan ini Amir-Abdollahian seraya menyatakan kesiapan Iran untuk menyimpulkan perundingan Wina berdasarkan draf paket perundingan yang merupakan hasil dari negosiasi ketat selama berbulan-bulan, merekomendasikan pihak seberang untuk menghindari langkah politik dan dengan mengambil pendekatan yang konstruktif dan rasional, mengambil keputusan politik yang diperlukan untuk mengumumkan kesepakatan.

Sementara itu, Josep Borrell di pertemuan ini seraya memaparkan sikap dan pendekatan Uni Eropa terhadap Iran selama beberapa bulan terakhir, menilai isu JCPOA dan perundingan nuklir terpisah dari seluruh isu di agenda kedua pihak dan menekankan tekad Uni Eropa untuk memajukan dan membuat perundingan Wina sukses. Borrell di tweetnya menulis, "Kami sepakat bahwa kita harus tetap mempertahankan hubungan tetap terbuka, dan menghidupkan kembali JCPOA berdasarkan perundingan Wina."

Perundingan Wina (dok)

Tampaknya perubahan sikap Uni Eropa yang jelas mengenai menghidupkan kembali perundingan Wina telah terjadi karena stabilisasi situasi di Iran dan berakhirnya kerusuhan serta frustrasi Brussel atas berlanjutnya kerusuhan di Iran. Hingga beberapa hari yang lalu, Uni Eropa bersama Amerika Serikat menekankan untuk mendukung kerusuhan dan perusuh di Iran dan mengkritik tindakan Tehran di bidang stabilitas dan keamanan serta penanganan terhadap para perusuh.

Dalam hal ini, pada hari Senin, 12 Desember, di akhir pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa, Dewan Eropa meminta Iran dalam sebuah pernyataan untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional untuk mengakhiri apa yang disebutnya "penangkapan sewenang-wenang" terhadap para perusuh. Organisasi ini mengklaim akan menggunakan semua metode yang tersedia untuk mengaudit tindakan otoritas Iran.

Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, telah mengorganisir upaya politik dan propaganda yang ekstensif melawan Iran sejak kerusuhan di negara ini, sambil mengesampingkan negosiasi JCPOA dengan dalih tidak membuahkan hasil dan terlalu cepat, mereka berfokus pada kerusuhan Iran dengan anggapan mereka akan mampu mengambil langkah-langkah penting di bidang pelemahan Republik Islam Iran.

Dalam hal ini, Amerika Serikat, yang menurut anggapannya dengan memanfaatkan peluang beberapa kerusuhan di Iran, akan berhasil mengintensifkan tekanan dan tindakannya ani-Iran, dan dengan meluncurkan kampanye politik dengan mitranya, membatalkan keanggotaan Iran di Komisi Perempuan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan dari sisi lain, Eropa juga mengambil sikap permusuhan terhadap Iran yang tentunya menuai respon keras dari Tehran. Seperti saat pertemuan antara menlu Iran dan Borrell, Amir-Abdollahian mengutuk pendekatan Barat dalam mendukung para perusuh dan penjatuhan sanksi ilegal terhadap Republik Islam Iran dengan dalih palsu mendukung hak asasi rakyat Iran.

Faktanya Eropa menghendaki pemerintah Iran tidak merespon dan menindak kerusuhan dan para perusuh, dengan harapan akan terbuka jalan untuk meningkatkan instabilitas dan ketidakamanan di tengah masyarakat Iran. Uni Eropa berulang kali dengan menunjukkan sikapnya mengiringi Amerika di masa pemerintahan Joe Biden dalam mendukung kerusuhan di Iran dan mengintervensi urusan internal Iran, sejatinya menguak esensinya yang anti-Iran.

Meski demikian pertemuan Borrell dan Amir-Abdollahian di Yordania, serta permintaannya untuk menghidupkan kembali perundingan JCPOA mengindikasikan keputusasaan Eropa atas kesuksesan pendekatan negatifnya terhadap Iran, dan yang tersisa adalah kembali ke jalur interaksi dan perundingan dengan Tehran. (MF)