Araghchi: Iran Serius untuk Berunding
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185268-araghchi_iran_serius_untuk_berunding
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan: Republik Islam Iran menginginkan perundingan yang nyata dan berorientasi pada hasil, namun terwujudnya tujuan ini mensyaratkan keseriusan dan kemauan timbal balik serta penghilangan ketidakpercayaan terhadap perilaku pihak Amerika.
(last modified 2026-02-10T09:02:24+00:00 )
Feb 10, 2026 15:56 Asia/Jakarta
  • Araghchi: Iran Serius untuk Berunding

Menteri Luar Negeri Iran mengatakan: Republik Islam Iran menginginkan perundingan yang nyata dan berorientasi pada hasil, namun terwujudnya tujuan ini mensyaratkan keseriusan dan kemauan timbal balik serta penghilangan ketidakpercayaan terhadap perilaku pihak Amerika.

Seyed Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, dalam acara penyampaian ucapan selamat para duta besar asing yang bermukim di Iran pada peringatan hari ke-47 kemenangan Revolusi Islam menyinggung proses perundingan Iran dan Amerika Serikat, dan menegaskan, "Iran dalam perundingan tidak langsung dengan Amerika bersikap serius dan mencari dialog yang nyata untuk mencapai hasil yang konkret, dengan syarat pihak lawan juga memasuki perundingan dengan pendekatan yang berorientasi pada hasil."

Araghchi menyatakan bahwa “tembok ketidakpercayaan terhadap Amerika berasal dari perilaku para pejabat negara tersebut”, dan menambahkan,"Setiap kali bangsa Iran diajak bicara dengan bahasa ancaman dan paksaan, rakyat Iran melakukan perlawanan, dan setiap kali diajak bicara dengan bahasa penghormatan dan penghargaan, mereka memberikan respons yang setimpal."

Menteri Luar Negeri Iran, sambil menyatakan harapannya terhadap terbentuknya kepercayaan yang diperlukan untuk memajukan perundingan, mengatakan: diharapkan perundingan ini bergerak ke arah yang menghasilkan hasil nyata dan diplomasi dapat mengalahkan ketegangan serta konflik.

Araghchi juga, dengan menyinggung kebijakan luar negeri Republik Islam Iran, menegaskan: kebijakan Iran adalah kerja sama erat dengan negara-negara tetangga dan upaya bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan serta mencegah meningkatnya ketegangan.

Kepala diplomasi Iran, dengan meninjau perkembangan selama satu tahun terakhir, menambahkan: bangsa Iran telah mengalami serangkaian peristiwa, mulai dari perang dua belas hari, perkembangan di New York, pengajuan beberapa negara Eropa ke Dewan Keamanan, kerusuhan pada tanggal 8 hingga 10 Januari dengan pengarahan dari luar negeri, hingga pengerahan militer Amerika di kawasan—yang masing-masing sudah cukup untuk dialami oleh satu negara dalam satu tahun penuh.

Menteri Luar Negeri, dengan merujuk pada perang dua belas hari tersebut, mengatakan: pada awal perang, sebagian pihak menginginkan penyerahan tanpa syarat dari Iran, namun pada hari kedua belas, yang diajukan justru permintaan gencatan senjata tanpa syarat; yang jelas dalam seluruh perkembangan ini adalah perlawanan bangsa Iran, yang sekali lagi mendorong semua pihak kembali ke arah diplomasi.

Araghchi menegaskan: tidak ada jalan untuk menyelesaikan isu nuklir Iran selain melalui diplomasi; ini adalah sebuah realitas yang telah berulang kali terbukti melalui pengalaman.

Menteri Luar Negeri Iran juga, dalam percakapan telepon terpisah dengan para Menteri Luar Negeri Turki, Mesir, dan Arab Saudi, dengan merujuk pada perundingan tidak langsung Iran–Amerika di Muskat, menyebut dialog tersebut sebagai “awal yang baik”, namun pada saat yang sama menekankan perlunya menghilangkan ketidakpercayaan terhadap niat dan tujuan pihak Amerika.

Berdasarkan laporan ini, para Menteri Luar Negeri negara-negara kawasan juga menyambut baik dimulainya perundingan Muskat dan menekankan pentingnya kelanjutan dialog untuk mencapai solusi diplomatik serta mencegah meningkatnya ketegangan.(PH)