Salareh: Proses Pengembangan Peluncur Ghaem-120 Dimulai
-
Peluncur satelit Ghaem-100 (dok)
ParsToday – Lingkup politik antara Iran dan Amerika Serikat berpusat pada perang dan perdamaian. Meskipun putaran pertama perundingan telah diadakan, ancaman berulang dari Washington telah mendorong Tehran untuk menekankan kemampuan militernya.
Dalam wawancara Tasnim dengan Hassan Salarieh, Kepala Organisasi Antariksa Iran, mengenai status peluncur domestik dan program peluncuran lokal, mengatakan, "Setelah pengembangan Ghaem-100, kini proyek Ghaem-105 dari keluarga yang sama sedang dikerjakan bekerja sama dengan Pasukan Dirgantara Korps Pengawal Revolusi Islam Iran.
Selain itu, pengembangan peluncur Ghaim-120 telah dimasukkan dalam agenda. Peluncur ini, dibandingkan dengan versi awal (Ghaem-100), memiliki kemampuan membawa muatan lebih besar ke orbit rendah bumi (LEO) dan bahkan berpotensi mencapai orbit 36.000 kilometer (dalam bentuk orbit GTO). Berbagai proyek telah ditetapkan dalam bidang ini, dan peluncuran uji coba serta suborbitalnya akan segera dilakukan."
Transisi dari Negosiasi ke Pengambilan Keputusan
Hamid Shojaei, analis harian Arman-e Melli, dalam sebuah catatan analitis menulis, "Perjalanan Ali Larijani sebagai Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran ke Muscat menunjukkan bahwa masalah telah melampaui tahap negosiasi awal dan teknis, mencapai tahap keputusan besar, dan memerlukan keputusan Republik Islam Iran.
Keputusan apa yang akan diambil pada tahap ini mengenai jenis konsesi yang akan diberikan atau diterima, atau jenis negosiasi dan garis merah yang akan ditetapkan. Oleh karena itu, kehadirannya di Oman dapat memberikan sinyal penting kepada pihak lawan bahwa ia hadir sebagai figur kedaulatan yang keputusannya adalah keputusan sistem, bukan sekadar sebagai pejabat pemerintah yang pada akhirnya harus berkoordinasi dengan otoritas dan kedaulatan dalam pengambilan keputusan.
Pentingnya perjalanan Larijani ke Muscat dibahas karena tampaknya negosiasi hingga saat ini telah membuahkan hasil dan kemajuan, dan dari sini ke depan, keputusan yang lebih penting harus diambil pada tingkat kedaulatan, yang dapat dianggap sebagai langkah positif dan maju."
Opsi di Bawah dan di Atas Meja
Media Quds Online juga membahas topik perjalanan Larijani ke Muscat dan menganalisis sebagai berikut, "Perilaku masa lalu 'orang gila' telah menunjukkan bahwa meskipun Trump terus menunjukkan cakar dan gigi serta mengandalkan penempatan militer untuk menundukkan pihak lawan, pada akhirnya, karena takut akan biaya perang bagi Amerika Serikat, ia puas dengan kesepakatan meskipun hanya bersifat formal dan mendapat sorotan media.
Insiden konfrontasi keras dengan pemimpin Korea Utara pada periode pertama kepresidenannya, yang meski menyebutnya sebagai 'pria roket', pada akhirnya Trump puas berjabat tangan dengan Kim Jong-un di depan kamera, serta masalah Venezuela baru-baru ini yang meski ada ancaman tidak berujung perang, menjadi bukti klaim ini.
Oleh karena itu, banyak yang percaya bahwa Trump bukanlah orang yang menginginkan perang, dan jika ia terus mengancam, itu karena ingin membuat Iran mau memberikan konsesi di meja perundingan, dan ini adalah aspek yang memberikan harapan dalam jalan menuju perdamaian. Namun, sifat seperti ini pada Trump sama sekali tidak meniadakan bahaya perang. Akenario seperti itu juga serius dan tentunya harus ada kesiapan yang sesuai.
Quds juga membahas efek regional dari perang dan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat, dan menulis, "Tekanan maksimal dari rezim Zionis terhadap Washington untuk memaksa Yankee terlibat perang dengan Republik Islam tidak boleh dianggap enteng. Netanyahu menganggap posisi saat ini sebagai waktu terbaik untuk menyerang Republik Islam, dan ini adalah faktor penting dalam keputusan Washington. Tentu saja, bertentangan dengan pendekatan seperti ini, ada pihak-pihak regional yang, berbeda dengan masa lalu, telah membentuk front anti-perang.
Hampir semua negara Islam, dari Turki hingga Mesir, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Pakistan, telah menyatakan penentangan mereka terhadap segala bentuk permusuhan terhadap Iran, dan hal ini tidak akan tanpa pengaruh terhadap kebijakan Trump. Kepada teka-teki ini harus ditambahkan dukungan tersembunyi dan terbuka dari Rusia dan Tiongkok, dua kekuatan adidaya dunia Timur, terhadap Iran. Suatu situasi yang mengingatkan Washington bahwa setiap biaya permusuhan bisa melampaui bayangan dan membawa Amerika ke dalam rawa yang tidak jelas ujungnya.
Dari Gaza hingga Epstein, Keruntuhan Moral Barat
IRNA, mengutip harian Al-Quds Al-Arabi, dalam sebuah artikel menulis, "Genosida oleh rezim Zionis di Gaza dan skandal Epstein sebagai pelaku kejahatan seksual telah menyingkap topeng klaim Barat atas moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan.
Cara Barat menangani dua masalah ini menunjukkan adanya cacat mendasar dalam struktur kekuasaan dan sistem dunia saat ini. Sistem ini menghancurkan yang lemah dan membenarkan kekerasan serta standar ganda atas nama kepentingan yang lebih besar. Kekuatan-kekuatan Barat dengan sangat cepat mengutuk tindakan yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka, terutama negara-negara yang menantang hegemoni mereka, seperti Maduro di Venezuela dalam beberapa bulan terakhir.
Trump tidak ragu-ragu melanggar kedaulatan nasional dan kekebalan kepresidenan, menculik Maduro, mengendalikan sumber daya minyak Venezuela (Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia), dan memerintah negara serta rakyatnya, serta menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela, sementara tindakan seperti itu jelas-jelas melanggar hukum internasional.
Peringatan Masyarakat Internasional Soal Tragedi Kemanusiaan di Kuba
Sementara itu, FNA membahas tragedi yang disebabkan Amerika Serikat melalui sanksi terhadap Kuba, dan menulis, "Menyusul blokade minyak terhadap Kuba oleh Amerika Serikat, PBB dan beberapa negara masyarakat internasional telah memperingatkan Washington tentang krisis kemanusiaan di negara tersebut.
Dmitry Peskov, Juru Bicara Kremlin, pada hari Senin menyatakan bahwa situasi energi di Kuba 'sungguh-sungguh kritis' dan Rusia sedang mempertimbangkan 'solusi yang memungkinkan' untuk membantu negara ini.
Dia mengatakan, "Tindakan mencekik yang diterapkan oleh Amerika Serikat telah menciptakan masalah serius dan luas bagi Kuba."
Pada saat yang sama, Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs web Kementerian Luar Negeri negaranya, menekankan 'solidaritas penuh Moskow dengan rakyat Kuba dan Venezuela' dan menambahkan, "Kami percaya hanya rakyat negara-negara ini yang berhak menentukan nasib mereka sendiri."(sl)