Letkol Zolfaghari, Fenomena Perang Ramadan
-
Ebrahim Zolfaghari, Juru Bicara Markas Besar Khatam Al-Anbiya Iran
Pars Today - Anda mungkin juga telah menyadari bahwa pria muda ini, dengan gaya, keberanian, dan bicaranya, telah menjadi subjek favorit banyak anak muda di dunia. Juru bicara yang dengan bahasa Inggrisnya yang sinis menjadi berita utama media di seluruh dunia.
Menurut laporan Pars Today mengutip ISNA, badai perang yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran, selain semua dimensinya, menghadirkan wajah baru yang terbentuk dari diplomasi media dan operasi psikologis di panggung internasional, serta keberanian seorang pemuda Iran.
Dalam pencarian internet untuk nama Ebrahim Zolfaghari, Anda dapat melihat dari jenderal syahid, hingga penulis dan pembaca Al-Qur'an, dan lainnya. Namun, di antara ini, salah satunya telah menjadi fenomena hari ini di Iran dan dunia.
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, Juru Bicara Markas Besar Khatam Al-Anbiya Iran, tidak hanya karena mengungkapkan perkembangan lapangan secara akurat, tetapi juga karena penguasaannya yang kuat atas bahasa Inggris dan Arab, gaya bicaranya yang agresif, dan gaya militernya yang menarik, telah menjadi fenomena yang melampaui batas-batas Iran dan telah menjadi “tren dan tokoh populer” pengguna di media sosial dan jaringan sosial di banyak negara di kawasan dan dunia.
Memimpin dengan Bahasa Perang, dari Menyindir Trump hingga “Bahasa Kekuatan”
Letkol Zolfaghari, yang memegang posisi juru bicara di Markas Besar Khatam Al-Anbiya Iran, dalam koordinasi antara Korps Pengawal Revolusi Islam dan Militer (Artesh) Republik Islam Iran, dalam beberapa minggu terakhir telah menciptakan kondisi khusus di antara pengguna dengan memilih bahasa media yang agresif dan cerdas, serta gaya dan penampilannya yang menarik.
Contoh paling menonjol dari pendekatan ini adalah video yang dirilis pada tanggal 17 Maret 2026.
Dalam pesan video ini, yang direkam dalam bahasa Inggris dengan nada yang kuat tetapi juga mengandung humor politik, ia secara langsung berbicara kepada Donald Trump, Presiden Amerika dengan mengatakan, “Tuan Trump! Hasil perang tidak dapat ditentukan dengan tweet. Hasil perang ditentukan di medan perang. Di tempat yang Anda dan pasukan Anda tidak berani mendekatinya.”
Dia selanjutnya menyarankan agar penamaan perang didasarkan pada realitas lapangan, bukan mimpi-mimpi Twitter. Video ini, yang beredar di media sosial dan media internasional seperti Daily Mail dan Haberler, tidak hanya menunjukkan penguasaannya yang lengkap atas struktur bahasa Inggris dan literatur media Barat, tetapi juga menjadikannya simbol “perang narasi” dalam konflik ini.
Wajah Seorang Tentara Iran di Media Sosial
Apa yang membedakan Letkol Zolfaghari dari juru bicara militer biasa adalah lebih dari sekadar pengetahuan media dan penguasaannya atas bahasa. Laporan dari media sosial di negara-negara Arab di kawasan dan bahkan di antara pengguna berbahasa Ibrani menunjukkan bahwa penyebaran video-video dari juru bicara muda ini dengan gaya militer yang khas, seragam yang selalu rapi, dan nada yang kuat tetapi tenang, telah menarik perhatian yang besar.
Analis media percaya bahwa Zolfaghari, dengan memanfaatkan “seni strategis” bersama dengan kapasitas individunya, telah berhasil menyampaikan pesan-pesan militer yang keras dalam format yang menarik dan “artistik” kepada audiens internasional. Dalam pesannya, dari pengumuman “tembakan kematian” (Shellik-e Marg) terhadap musuh hingga penekanan bahwa “kami berduka tetapi tidak lelah”, terdapat kombinasi kekuatan militer dan ketenangan manusia yang menarik bagi opini publik di kawasan.
Sebuah Pesan Media untuk Dunia Arab
Namun, penguasaan bahasa Zolfaghari tidak terbatas pada bahasa Inggris. Dalam aksi lainnya, bersamaan dengan Hari Quds Sedunia dan eskalasi serangan rezim Zionis terhadap Gaza, ia mengeluarkan pesan dalam bahasa Arab untuk “saudara-saudara Muslim di kawasan dan rakyat Palestina”. Dalam pesan ini, yang disertai dengan kehalusan literatur Arab, ia menekankan, “Palestina tidak pernah menjadi masalah satu bangsa, tetapi selalu menjadi masalah harga diri, hak, keadilan, dan masalah seluruh umat Islam.”
Pendekatan multibahasa dan bertarget ini menunjukkan pemahaman yang tinggi tentang analisis audiens dalam perang hibrida. Dengan tindakan ini, Letkol Zolfaghari secara efektif telah menjadi salah satu tokoh diplomasi publik Iran yang paling efektif di tengah perang habis-habisan Amerika dan Israel terhadap Iran.
Tren Hari Ini
Pengguna di banyak negara membandingkannya dengan tokoh-tokoh penting di negara mereka dan berdebat tentang “Ebrahim Iran” satu sama lain.
Perang kali ini, dari reruntuhan dan kesedihannya, telah melahirkan Ebrahim yang baru dari api, yang menjadi simbol semua pecinta Iran dan para pahlawan bangsa.
Analis media percaya bahwa Zolfaghari, dengan memanfaatkan “seni strategis” bersama dengan kapasitas individunya, telah berhasil menyampaikan pesan-pesan militer yang keras dalam format yang menarik dan “artistik” kepada audiens internasional. Dalam pesannya, dari pengumuman “tembakan kematian” terhadap musuh hingga penekanan bahwa “kami berduka tetapi tidak lelah,” terdapat kombinasi kekuatan militer dan ketenangan manusia yang menarik bagi opini publik di kawasan.
Seorang pria yang tidak hanya menjadi topik di Iran, tetapi juga di ratusan ribu komentar di media sosial negara-negara Arab, Turki, Pakistan, Indonesia, dan bahkan di antara pengguna berbahasa Ibrani, telah menjadi subjek diskusi dan perbandingan dengan tokoh-tokoh penting.(sl)