Iran: Presiden AS Tak Punya Pilihan Selain Latah
-
Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran
Pars Today - Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, dengan merujuk pada kekalahan-kekalahan Amerika dalam Perang 12 Hari dan Perang Ketiga yang Dipaksakan, mengatakan, Presiden Amerika tidak punya jalan lain selain latah.
Melansir Pars Today dari Mehr News Agency, 11 Juni 2026, Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, pada Kamis (11/6) sore di sela-sela upacara peringatan Syahid Sepahbod Mohammad Bagheri, mendiang Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, beserta istri dan putrinya yang syahid, yang diselenggarakan di Masjid Imam Shadiq as di Lapangan Filastin Tehran, mengatakan:
"Presiden Amerika yang berhalusinasi, bukan hanya dari Perang 40 Hari, tapi sejak awal Perang 12 Hari dan sebelumnya, selalu melontarkan ancaman semacam ini. Namun tanpa ragu, Republik Islam Iran pasti akan memberikan respons yang tegas, menghancurkan, menyakitkan, dan membuat mereka menyesal atas tindakan dan perilaku mereka."
Ia menegaskan, "Tanpa ragu, angkatan bersenjata Republik Islam Iran di seluruh penjuru negeri, di perbatasan, wilayah teritorial, dan Pulau Kharg yang disebut-sebut oleh Presiden Amerika yang berhalusinasi dan kacau, siap siaga."
Azizi mengatakan, "Presiden Amerika tangannya kosong dan tidak memiliki pencapaian apa pun, baik dari Perang 12 Hari maupun Perang Ramadan. Trump tidak berhasil mencapai salah satu tujuan yang ia umumkan: perpecahan, penyerahan, dan penggulingan."
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, dengan menekankan bahwa Amerika mengalami kekalahan yang nyata dan memalukan dalam perang Ramadan, mengatakan, "Pelarian lebih dari 9.000 pasukan Amerika dari Teluk Persia, pelarian armada dan peralatan Amerika di Samudra Hindia dan di seberang perbatasan perairan, kehancuran lebih dari 14 pangkalan Amerika di kawasan, semua ini menjadikan kekalahan yang memalukan bagi Amerika. Oleh karena itu, Presiden Amerika tidak punya jalan lain selain latah."
Ia mengatakan, "Presiden Amerika harus tahu, jika ia melakukan tindakan yang tidak diperhitungkan apa pun di wilayah Iran Islami, ia akan menerima balasan yang akan tercatat dalam sejarah."
Pernyataan Azizi ini menarik karena tidak hanya berisi ancaman balasan, tetapi juga narasi tentang "kekalahan AS" yang jarang diakui oleh media Barat. Angka-angka yang ia sebutkan, 9.000 pasukan melarikan diri, 14 pangkalan hancur, adalah klaim yang perlu diverifikasi, tetapi yang jelas: ini adalah narasi yang sedang dibangun di Iran. Di Tehran, perang ini bukan diceritakan sebagai kekalahan, tapi sebagai kemenangan yang memaksa AS "latah" dengan retorika kosong. Dan peringatan tentang Pulau Kharg, fasilitas ekspor minyak vital Iran, menunjukkan bahwa Iran sadar akan titik lemahnya, tetapi memilih untuk tidak menunjukkan kerentanan. Ini adalah permainan psikologis: siapa yang terlihat paling yakin, dia yang menang di mata rakyatnya.(Sail)