Dari Selat Hormuz hingga Lebanon: Iran "Peta Jalan" Baru untuk Stabilitas Kawasan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i191808-dari_selat_hormuz_hingga_lebanon_iran_peta_jalan_baru_untuk_stabilitas_kawasan
Pars Today - Wakil Menteri Luar Negeri Iran, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, menegaskan bahwa Washington harus mencegah Netanyahu menggagalkan upaya-upaya untuk mencapai kesepakatan, karena tidak akan ada perdamaian dan stabilitas di Lebanon dan kawasan tanpa mengakhiri pendudukan.
(last modified 2026-06-20T07:24:42+00:00 )
Jun 20, 2026 14:23 Asia/Jakarta
  • Saeed Khatibzadeh, Wakil Menteri Luar Negeri Iran
    Saeed Khatibzadeh, Wakil Menteri Luar Negeri Iran

Pars Today - Wakil Menteri Luar Negeri Iran, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, menegaskan bahwa Washington harus mencegah Netanyahu menggagalkan upaya-upaya untuk mencapai kesepakatan, karena tidak akan ada perdamaian dan stabilitas di Lebanon dan kawasan tanpa mengakhiri pendudukan.

Melansir IRNA, 20 Juni 2026, Pars Today melaporkan bahwa Saeed Khatibzadeh, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, dalam wawancaranya dengan jaringan Al Jazeera, mengatakan:

"Kami sedang mempersiapkan negosiasi-negosiasi penting, dan lima pasal dari nota kesepahaman harus segera diimplementasikan."

Khatibzadeh, seraya mengatakan bahwa Iran siap untuk melangkah secara bertahap jika pihak lain menunjukkan keseriusan, menekankan bahwa setiap kesepakatan potensial di masa depan harus mencakup pembebasan semua aset dan sumber daya keuangan Iran yang dibekukan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, merujuk pada serangan-serangan rezim Zionis di Lebanon, mengatakan, "Washington harus mengimplementasikan nota kesepahaman ini dan mencegah Netanyahu, dengan cara apa pun, menggagalkan upaya-upaya untuk mencapai kesepakatan dan stabilitas."

Khatibzadeh mengatakan kepada Al Jazeera, "Kami berupaya mewujudkan perdamaian di semua front, termasuk Gaza, dan kami telah memasukkan Lebanon ke dalam nota kesepahaman ini karena keterkaitannya langsung dengan perang. Tanpa mengakhiri pendudukan dan tanpa kepatuhan Israel terhadap hukum internasional, tidak akan ada perdamaian dan stabilitas di Lebanon dan kawasan."

Mengenai masalah Selat Hormuz, ia juga menyatakan, "Kami akan menyediakan layanan pelayaran di Selat Hormuz dengan koordinasi Kesultanan Oman dan sesuai dengan hukum internasional. Kami memiliki hak-hak hukum di Selat Hormuz, tetapi selama periode 60 hari, kami tidak akan mengenakan biaya atau retribusi apa pun. Setelah 60 hari, kami akan mengadopsi mekanisme baru untuk mengelola Selat Hormuz dan akan menyampaikan inisiatif khusus kepada negara-negara kawasan."

Pernyataan Khatibzadeh ini mengingatkan kita pada posisi tegas Iran dalam dua isu utama: Lebanon dan Selat Hormuz.

1. Lebanon sebagai "Batu Ujian" Kesepakatan

Dengan mengatakan bahwa "tanpa mengakhiri pendudukan, tidak ada perdamaian," Khatibzadeh secara eksplisit mengingatkan bahwa Iran akan menganggap setiap serangan Israel ke Lebanon sebagai pelanggaran terhadap MoU. Ini adalah "jaring pengaman" yang dipasang Iran untuk memastikan bahwa AS tidak hanya menghentikan perang, tetapi juga mencegah Israel melancarkan provokasi baru. Pernyataan ini juga menjadi sinyal bahwa Iran akan terus mendukung Hizbullah, apa pun yang terjadi di meja perundingan.

2. Selat Hormuz: "Bebas Biaya 60 Hari, Lalu Bagaimana?"

Khatibzadeh mengkonfirmasi bahwa Iran tidak akan memungut biaya selama 60 hari pertama, sesuai dengan ketentuan MoU. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setelah 60 hari, ada mekanisme baru yang akan diberlakukan. Ini adalah kartu tawar-menawar yang masih dipegang Iran. Jika negosiasi 60 hari tidak membuahkan hasil yang memuaskan, Iran dapat kembali menutup atau mempersulit lalu lintas di Selat Hormuz, sebuah ancaman yang tidak bisa diabaikan oleh pasar minyak global.(Sail)