Baghaei: Negosiasi Final Bergantung pada Pelaksanaan 5 Klausul Kesepakatan
-
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei
Pars Today - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dengan mengumumkan perjalanan delegasi Iran ke Swis, mengatakan bahwa dalam negosiasi ini akan ada tuntutan mengenai pelaksanaan komitmen pihak lawan dan akan dijelaskan bagaimana pihak lawan ingin melaksanakan komitmennya.
Melansir Pars Today dari IRIB News Agency, 21 Juni 2026, Baghaei menekankan, "Sesuai pasal 13 nota kesepahaman, dimulainya negosiasi Iran dan Amerika untuk kesepakatan final bersyarat pada dimulainya dan berlanjutnya pelaksanaan komitmen pihak lawan berdasarkan pasal-pasal 1, 4, 5, 10, dan 11."
Juru bicara Kemenlu Iran ini menyatakan, "Ini adalah syarat yang karena ketidakpatuhan pihak lawan belum terwujud, dan perjalanan ini dilakukan tepat untuk memperjelas cara pelaksanaan komitmen-komitmen ini."
Klausul 1: Penghentian Perang di Semua Front
Baghaei juga mengatakan, "Pasal pertama nota kesepahaman, yaitu 'penghentian perang di semua front termasuk di Lebanon', adalah pilar utama komitmen timbal balik."
Ia menekankan, "Sementara Iran telah patuh pada komitmennya, pihak lawan berkewajiban memaksa rezim Zionis untuk menghentikan api di Lebanon, tetapi dengan kelalaian dalam hal ini, ia secara eksplisit telah melanggar kesepakatan."
"Paket Tunggal": Pelanggaran Satu Klausul = Runtuhnya Kesepakatan
Diplomat Iran ini mencatat, "Meskipun dalam bagian penghentian blokade laut dan pembukaan kembali Selat Hormuz telah dilakukan beberapa tindakan, nota kesepahaman ini adalah 'paket tunggal'. Pelanggaran pasal pertama berarti seluruh kesepakatan dipertanyakan, dan jika pihak lawan segera tidak mengambil langkah-langkah yang diperlukan, keseluruhan nota kesepahaman akan menghadapi masalah serius."
Di Balik Layar: Diplomasi Intensif dan Kekuatan Lapangan
Juru bicara Kemenlu Iran menyatakan, "Iran telah mencapai nota kesepahaman ini setelah beberapa minggu negosiasi yang sangat intensif, diplomasi dengan upaya para mediator internasional, pembuktian niat baik Tehran, dan yang lebih penting, dengan dukungan perwujudan kekuatan lapangan dan kohesi nasional; oleh karena itu kami tidak menandatangani komitmen yang tidak memiliki jaminan pelaksanaan. Sudah sewajarnya untuk mengoperasionalkan pasal demi pasal dokumen ini, kami tidak akan menghemat upaya apa pun."
Peringatan Tegas: Tindakan Balasan yang Menyesalkan
Ia menekankan, "Logika yang berlaku dalam politik luar negeri Iran sangat jelas: 'komitmen terhadap komitmen dan tindakan terhadap tindakan'. Ketahanan kesepakatan ini bergantung pada perilaku pihak lawan. Jika musuh menolak memenuhi komitmennya atau melakukan sabotase dalam jalur pelaksanaannya, Republik Islam Iran dengan mengandalkan kapasitas-kapasitas strategisnya, pasti akan mengambil tindakan balasan yang menyesalkan dan tegas."
Pernyataan ini menyingkap dinamika yang sangat menarik: bahwa nota kesepahaman yang sudah ditandatangani ternyata masih rapuh. Klausul 13 berfungsi sebagai "rem darurat", Iran tidak akan masuk ke negosiasi final sampai pihak lawan membuktikan keseriusannya. Yang paling penting adalah konsep "paket tunggal": Iran menolak pendekatan "piecemeal" di mana pihak lawan bisa memilih klausul mana yang mau dilaksanakan. Jika satu klausul dilanggar, seluruh kesepakatan runtuh. Ini adalah posisi tawar yang sangat kuat dan juga sangat berisiko. Karena jika pihak lawan tidak mau (atau tidak mampu) memaksa Israel menghentikan api di Lebanon, maka seluruh bangunan diplomatik yang dibangun selama beberapa minggu bisa runtuh dalam sekejap.(Sail)